Banyak Sekolah Kurang Murid, Ini Jurus Kemendikdasmen

ADVERTISEMENT

Round Up

Banyak Sekolah Kurang Murid, Ini Jurus Kemendikdasmen

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 17 Jul 2026 12:45 WIB
SD Kalimanis 4 di Kabupaten Blitar
SD Kalimanis 4 di Kabupaten Blitar. Foto: Fima Purwanti/detikJatim
Jakarta -

Sejumlah SD negeri di Indonesia mengalami krisis murid baru kelas 1. Sekolah-sekolah pun memiliki berbagai analisis mengapa fenomena ini bisa terjadi.

Misalnya di SDN 2 Plandaan, Tulungagung, Jawa Timur. Sekolah menemukan fakta, sejumlah warga mengira sekolah tersebut sudah tutup sejak lama. Di samping itu, sang kepala sekolah menilai persaingan antarsekolah dan persepsi masyarakat merupakan tantangan untuk mendapatkan siswa baru.

Gerilya mencari murid yang dilakukan oleh SDN 2 Plandaan berupa mendatangi TK di sekitar sekolah sampai mendatangi rumah ke rumah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Cari kepada kepala sekolahnya TK, guru-gurunya TK, mana yang dekat dengan SD kami. Akhirnya kami datangi ke rumah satu-satu," jelasnya Kepala Sekolah SDN 2 Plandaan, Siti Komariyah pada Senin (13/7/2026), dikutip dari detikJatim.

Sekolah ini juga mempersiapkan seragam gratis, alat tulis, hingga sepatu. Tak tanggung-tanggung, sekolah juga mempersiapkan pembiayaan untuk siswa tidak mampu akan dibiayai sampai lulus.

ADVERTISEMENT

"Kami yang ASN sepakat patungan Rp 200 ribu/bulan untuk siswa baru. Ini demi keberlangsungan sekolah kami," ungkap Siti.

Melalui berbagai usaha yang dilakukan, sekolah ini memperoleh tiga calon murid baru. Akan tetapi, akhirnya hanya dua siswa yang masuk.

Sejumlah Sekolah Temukan Faktor Minim Anak Usia Sekolah

Lain lagi ceritanya di Semarang, Jawa Tengah. SDN Purwoyoso 1, Kota Semarang, Jawa Tengah hanya mendapat tiga siswa SD kelas 1. Sang kepala sekolah, Hajar Riatiani, menyampaikan semula ada lima calon siswa yang mendaftar, tetapi dua di antaranya tidak daftar ulang.

Ia menilai krisis murid bukan karena fasilitas siswa yang kurang, melainkan karena kondisi demografis. Ia menyebut, di sekitar sekolah sudah tidak ada perumahan yang produktif, rata-rata penduduknya lansia dan tidak ada siswa masuk SD.

Di samping itu, ada banyak warga pindah ke wilayah perbatasan seperti Kaliwungu, Kabupaten Kendal yang punya banyak perumahan subsidi. Pasalnya, harga rumah di Kota Semarang dinilai sudah terlalu mahal.

"SDN Purwoyoso 01 itu lengkap semua untuk kelas terpenuhi ada 6 kelas, masing-masing ada lab komputer tidak dompleng kelas, perpustakaan, ruang UKS, musala, lengkap. Halaman juga ada, smart TV bantuan pemerintah juga ada, terus fasilitas olahraga," jelas Hajar, Senin (13/7/2026), dikutip dari detikJateng.

"Kemudian sekolah sekitar kita juga masih kekurangan siswa. Jadi kita tidak mendapat limpahan dari sekolah sekitarnya," ungkapnya.

SD di Blitar Tak Dapat Murid karena Tak Ada Lulusan TK

Suasana sepi pada hari pertama tahun ajaran baru 2026/2027 juga dialami tiga SDN di Kabupaten Blitar. Ketiga sekolah tersebut tidak memiliki murid baru.

Salah satu sekolah tersebut adalah SD Kalimanis 4 di Kecamatan Doko. Kepala Sekolah, Umi Arafah menilai ada beberapa faktor mengapa tidak ada siswa baru yang mendaftar. Salah satu alasannya adalah pertumbuhan penduduk di wilayah tersebut menjadi lebih sedikit.

"Memang untuk saat ini kami belum menerima siswa baru di kelas 1. Penyebabnya karena 3 lembaga TK yang ada di Dusun Tunggorono ini, tidak memiliki kelas B-nya kosong (tidak ada lulusan)," ungkapnya pada Rabu (15/7/2026), dikutip dari detikJatim.

Umi menyebut penyebab tidak ada siswa baru bukanlah persaingan antarsekolah karena jarak antalembaga jenjang SD tidak berdekatan. Namun, penyebabnya adalah karena lulusan TK tidak ada.

"Artinya persaingan sekolah sebenarnya kecil, karena jaraknya cukup jauh dan tidak ada sekolah swasta. Jadi kembali lagi karena lulusan TK yang tidak ada, jadi keterbatasan anak usia kelas I yang tidak ada," terangnya.

Sekolah ini juga sudah mengupayakan menjaring siswa baru, misalnya dengan sosialisasi di lembaga tingkat TK.

SD di Ciamis Dapat 1 Siswa Baru karena Anak Usia Sekolah Minim

Jumlah anak usia sekolah yang sedikit juga dikemukakan oleh Kepala SDN 2 Salakaria, Ciamis, Jawa Barat, Deni Purnama. Hanya ada satu siswa kelas 1 pada tahun ajaran baru ini.

Total siswa di sekolahnya sekarang ini hanya 32 orang. Selain satu siswa kelas 1, ada tujuh siswa kelas 2, sembilan siswa kelas 3, lima siswa kelas 4, lima siswa kelas 5, dan enam siswa kelas 6.

Deni menilai minimnya siswa karena lingkungan di sana memang memiliki jumlah anak usia sekolah yang terbilang sedikit.

"Wilayah kami dikenal sebagai kampung KB sehingga jumlah anak usia sekolah tidak banyak. Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu. Mudah-mudahan tahun depan jumlahnya kembali meningkat," terangnya, Rabu (15/7/2026), dikutip dari detikJabar.

Apa yang Akan Dilakukan Kemendikdasmen?

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI melakukan tindak lanjut terhadap fenomena SD negeri sepi murid baru kelas 1. Kementerian kini tengah mendata jumlah SDN yang muridnya kurang dari 60 orang.

"Soal sedikitnya siswa di beberapa SD negeri, ini memang menjadi perhatian kami lintas kementerian. Kami sudah ada pendataan berdasarkan Dapodik, sekolah-sekolah yang muridnya di bawah 100, di bawah 60 orang," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Gedung A Kemendikdasmen, Selasa (14/7/2026).

Mendikdasmen Abdul Mu'ti juga telah mendiskusikan hal ini dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Mu'ti mengatakan akan diadakan rapat khusus terkait hal ini.

"Kebijakan ini akan kita buat bersama-sama (dengan pemerintah daerah dan Kemendagri) supaya tidak menimbulkan masalah di masyarakat," ujarnya.



(nah/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads