Di tengah khidmatnya apel pagi hari pertama masuk sekolah di SDN 2 Plandaan, Kabupaten Tulungagung, perhatian para guru mendadak tertuju ke pintu gerbang belakang. Seorang bocah laki-laki datang tanpa seragam diantar kakek dan neneknya.
Namanya Candra Mohammad Saputra, ia merupakan satu dari dua siswa baru yang diterima SDN 2 Plandaan pada tahun ajaran ini.
Ia datang hanya memakai kaus, celana pendek, dan sandal jepit, sembari memanggul tas ransel di punggungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ngapunten terlambat, wonten tamu niki wau (maaf terlambat, tadi masih ada tamu)," kata nenek Candra seraya masuk ke lingkungan sekolah, Senin (13/7/2026).
Bocah di Tulungagung datang ke sekolah pakai kaus Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim |
Tanpa menunggu lama, para guru langsung menyambutnya dengan hangat dan membawanya ke ruang guru untuk menerima seragam sekolah gratis. Senyum ceria Candra langsung mengembang saat seragam baru menempel di badan Candra.
Momen sederhana ini menjadi gambaran nyata salah kondisi SD negeri di Tulungagung yang mengalami kekurangan murid baru. Kondisi ini bukan berarti para guru hanya berpangku tangan, mereka justru telah berjuang semaksimal mungkin untuk mendapatkan siswa baru.
"Alhamdulillah tahun ini kami dapat dua siswa," kata Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariyah.
Menurutnya, upaya mencari murid baru telah dilakukan para guru hingga kepala sekolah sejak empat bulan sebelum pendaftaran. Mereka bergerilya ke sejumlah TK yang ada di sekitar sekolah.
"Cari kepada kepala sekolahnya TK, guru-gurunya TK, mana yang dekat dengan SD kami. Akhirnya kami datangi ke rumah satu-satu," ujarnya.
Tidak hanya itu, pihaknya menyisir sejumlah rumah yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Di tengah upaya itu, pihaknya mendapatkan fakta dari warga.
"Ada beberapa warga yang bilang kalau sekolah kami ini sudah tutup lama. Padahal sampai saat ini masih beroperasi," jelasnya.
Untuk menggaet para siswa, pihak sekolah menyiapkan sejumlah fasilitas, mulai seragam gratis, alat tulis hingga sepatu. Bahkan untuk siswa tidak mampu akan dibiayai hingga lulus.
"Kami yang ASN sepakat patungan Rp 200 ribu/bulan untuk siswa baru. Ini demi keberlangsungan sekolah kami," jelasnya.
Dari upaya pencarian itu, pihaknya sempat mendapatkan tiga calon siswa baru. Namun, di detik-detik terakhir hanya dua yang masuk. "Kurang satu hari kami ke datangi lagi, yang positif sini alhamdulillah dua," jelasnya.
Menurutnya, persaingan antarsekolah hingga persepsi masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi para guru untuk memperoleh siswa baru.
Proses Pembelajaran Berjalan Seperti Biasa
Meskipun hanya mendapatkan dua siswa, proses pembelajaran di SDN 2 Plandaan berjalan seperti sekolah yang lain. Pada hari pertama, seluruh siswa mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
"Untuk MPLS-nya ini kelas satu sampai kelas enam dijadikan satu. Untuk kelas satu dua tiga nanti pulangnya jam 10.00 WIB Untuk kelas empat lima enam pulangnya jam 11.00 WIB," kata Siti.
Ia menjelaskan, saat ini jumlah total siswa SDN 2 Plandaan 16 anak, rinciannya 2 siswa kelas 1, 2 siswa kelas 3, 4 siswa kelas 4, 3 siswa kelas 5 dan 3 siswa kelas 6.
"Aktivitas pembelajaran, semuanya sama sesuai dengan program dan rencana pembelajaran sesuai dengan aturan dari kurikulum semuanya," kata Siti.
Simak Video "Video: Bupati Tertangkap OTT KPK, Pendopo Tulungagung Ditutup"
[Gambas:Video 20detik] (auh/hil)

