Pemerintah tengah mematangkan konsep Sekolah Terintegrasi. Sekolah Terintegrasi ini nantinya akan memiliki konsep yang berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, tujuan pembangunan Sekolah Terintegrasi adalah untuk menyelesaikan masalah ketimpangan mutu sekolah antarwilayah.
"Sekolah Terintegrasi dirancang sebagai instrumen pemerataan akses pendidikan berkualitas. Ini bukan sekadar pembangunan fisik sekolah, tetapi transformasi tata kelola pendidikan agar setiap anak, di mana pun berada, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan bermutu," ujar Pratikno dikutip dari laman Kemenko PMK, Jumat (30/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu Sekolah Tiap Kecamatan
Nantinya, akan ada satu Sekolah Terintegrasi di setiap kecamatan. Sekolah ini bersifat inklusif dan bebas dari pungutan biaya.
Sesuai namanya, sistem Sekolah Terintegrasi ini mengintegrasikan jenjang pendidikan PAUD, SD, SMP hingga SMA/SMK dalam satu tata kelola dan pembelajaran yang berkelanjutan.
Peserta Didik dari Keluarga Desil Menengah
Adapun target siswa Sekolah Terintegrasi adalah mereka yang berasal dari keluarga desil menengah. Namun, tak menutup kemungkinan juga berlaku bagi siswa dari kelompok rentan yang belum terjangkau program pemerintah lain.
Terintegrasi dengan Pelatihan Sesuai Wilayah
Ditambahkan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, sekolah ini juga akan diintegrasikan dengan fasilitas vokasi dan pelatihan yang relevan dengan karakter wilayahnya.
Misalnya, sekolah akan terintegrasi dengan pelatihan vokasi pertanian/peternakan/perkebunan jika berada di daratan. Berbeda dengan sekolah di wilayah pesisir, maka pelatihan akan berfokus pada bidang perikanan dan sejenisnya.
"Sehingga lulusannya dapat terserap dan sesuai dengan kebutuhan riil dunia kerja," kata Prasetyo.
Sekolah Terintegrasi untuk Tranformasi SDM
Lebih jauh dari itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti berharap sekolah ini dapat mendorong transformasi sumber daya manusia. Selain itu, ia juga menargetkan transformasi infrastuktr dan transformasi pembelajaran berkelanjutan.
"Sekolah Terintegrasi diharapkan dapat menjadi motor penggerak di level kecamatan," kata Mu'ti.
Memiliki Kurikulum Nasional dan Internasional
Menurut Mu'ti Sekolah Terintegrasi perlu memiliki kurikulum kombinasi yakni kurikulum nasional dan kurikulum internasional. Namun, tetap memperhatikan kearifan lokal.
Kemenko PMK telah menetapkan konsep ini lewat Kepmenko PMK Nomor 7 Tahun 2026 tentang Tim Kerja Penyiapan Pembangunan Sekokah Terintegrasi, dengan Menko PMK dan Mendikdasmen bertindak sebagai pengarah.
(cyu/faz)











































