Riset: FOMO Picu Gangguan Mental & Risiko Bunuh Diri pada Pelajar SMP

ADVERTISEMENT

Riset: FOMO Picu Gangguan Mental & Risiko Bunuh Diri pada Pelajar SMP

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikEdu
Minggu, 23 Nov 2025 09:00 WIB
Riset: FOMO Picu Gangguan Mental & Risiko Bunuh Diri pada Pelajar SMP
Foto: Freepik
Jakarta -

Scroll media sosial, lihat teman-teman seru ikut tren, beli barang baru, datang ke acara keren, tiba-tiba muncul rasa "Kok aku ketinggalan, ya?". Inilah yang disebut Fear of Missing Out (FOMO). Riset menunjukkan FOMO alias rasa ketertinggalan ini bisa berhubungan dengan gangguan mental emosional dan bahkan meningkatkan hasrat bunuh diri pada pelajar SMP.

FOMO secara sederhana bermakna perasaan cemas atau khawatir, yang muncul ketika seorang remaja tidak memiliki pengalaman, aktivitas, hobi, atau barang berharga, sebagaimana yang dimiliki oleh rekan sebayanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Riset yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Indonesia Maju (UIMA) dan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta pada 167 remaja yang bersekolah di sebuah SMP swasta di Jakarta Selatan pada Februari 2025 ini menunjukkan bahayanya FOMO. Dengan metode survei, berikut temuan riset epidemiologi dan psikologi ini akibat FOMO:

  • Tingkat keinginan bunuh diri pada pelajar SMP adalah sebesar 9,7%.
  • Pelajar SMP mengalami masalah gangguan mental emosional, mencakup gejala depresi, kecemasan, dan gangguan psikosomatis (gangguan fisik karena masalah psikologis) sebesar 57,8%.
  • Pelajar SMP dengan perilaku impulsive buying 50,2%.
  • Remaja putri, ternyata lebih rentan mengalami gangguan mental emosional.
  • Remaja laki-laki, memiliki keinginan bunuh diri yang lebih tinggi.

"Fear of Missing Out (FOMO) menjadi faktor penyebab masalah gangguan mental emosional dan secara tidak langsung berhubungan dengan keinginan bunuh diri pada pelajar SMP," ujar Ketua tim peneliti Rizky Fajar Meirawan dalam keterangannya kepada detikEdu, Sabtu (22/11/2025).

ADVERTISEMENT

Selain mendorong munculnya gangguan mental emosional, lanjut Rizky, FOMO turut memicu perilaku impulsive buying (belanja impulsif). Perasaan tidak ingin tertinggal, atau merasa terancam terisolasi secara sosial, membuat remaja berbelanja dengan tidak bijaksana, hanya karena mengikuti tren atau pola belanja teman sebaya.

"Penelitian kami membuktikan, 50,2% remaja dengan perilaku impulsive buying, mengalami FOMO. Impulsive buying ini pada akhirnya berdampak pada kecemasan dan penyesalan finansial," ungkap Rizky.

Solusi Atasi FOMO pada Pelajar SMP

Berdasarkan penelitian ini, Rizky mendorong proses komunikasi dan edukasi berbasis pemasaran sosial kepada remaja, khususnya pelajar SMP yang FOMO. Pemasaran sosial ini bertumpu pada proses kampanye komunikasi yang bertujuan menekan kecenderungan remaja mengalami FOMO, sehingga mereka tidak berperilaku impulsive buying, mengalami gangguan mental emosional, serta menekan hasrat untuk melakukan bunuh diri.

Strategi pemasaran sosial ini, lanjut Rizky, akan mengedepankan paparan konten informasi, pendampingan dan bimbingan penyuluhan, serta interaksi dan dialog aktif antara remaja dengan orang tua, guru, bahkan tenaga kesehatan dan ahli psikologi. Tujuan utama pemasaran sosial ini adalah menumbuhkan resiliensi sosial pada remaja.

"Langkah yang sesegera mungkin dijalankan untuk menumbuhkan resiliensi sosial adalah edukasi untuk menumbuhkan literasi digital, terutama penggunaan media sosial secara bijaksana," tambah Rizky.

Selain itu, orang tua bersama guru, bahkan jika perlu melibatkan para ahli dapat melakukan proses pengawasan dan pemantauan interaksi diantara remaja di sekolah dan lingkungan.

"Keterbukaan antara remaja dengan orang tuanya dan gurunya, bisa menjadi salah satu cara pemantauan kejadian FOMO dan impulsive buying," tambah dosen UIMA dan IISIP Jakarta

Temuan tambahan dari penelitian ini adalah hubungan antara jenis kelamin dan kejadian gangguan mental emosional serta keinginan bunuh diri.

"Hal ini membuktikan, rancangan intervensi pemasaran sosial kepada remaja harus spesifik gender. Artinya, harus ada perbedaan spesifik terkait metode komunikasi, edukasi, dan pendampingan untuk mencegah gangguan mental emosional dan keinginan bunuh diri ini. Cara penyampaian pesan harus sesuai dengan jenis kelamin remaja yang menjadi sasaran," pungkas lulusan Doktor Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) ini.

Riset ini sudah dipresentasikan pada Presentasi Oral Pekan Ilmiah Tahunan ke-7 (PIT-7) yang diadakan Dinas Kesehatan DKI Jakarta di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat pada Rabu (19/11/2025) lalu.



(nwk/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads