Cerita Sekolah di Perbatasan RI Terima Siswa dari Malaysia

Tapal Batas

Cerita Sekolah di Perbatasan RI Terima Siswa dari Malaysia

Nurcholis Maarif - detikEdu
Kamis, 29 Sep 2022 12:26 WIB
Petugas Imigrasi menunjukkan Pas Lintas Bara (PLB) di Kantor Imigrasi, Jagoi Babang, Kalbar, Kamis (8/9/2022).
Foto: Rifkianto Nugroho
Bengkayang -

Pindah sekolah dari satu daerah ke daerah lain merupakan satu hal yang biasa dilakukan siswa. Hal yang lebih rumit terjadi saat siswa pindah sekolah dari satu negara ke negara lain. Tak hanya perlu ekstra lebih keras dalam mengurus administrasi secara kependudukan, tapi juga dalam penyesuaian materi pembelajaran.

Fenomena tersebut ternyata kerap ditemui di sekolah yang ada di perbatasan. Misalnya di Seluas, salah satu kecamatan di Bengkayang, Kalimantan Barat yang dekat dari Serikin, Sarawak, Malaysia.

Kepala Sekolah SDN 06 Sereges, Muhammad Aspar menceritakan banyak warga dari Seluas maupun beberapa kecamatan di sekitarnya yang bekerja di Sarawak hingga menikah dan menetap di sana. Saat memiliki anak, beberapa dari mereka menitipkannya untuk tinggal di kampung halaman yang ada di Indonesia.

"Orang tua atau wali murid yang menyekolahkan muridnya di sini kan ada yang berkeluarga di seberang sana negara tetangga kita. Bekerja di sana, dapat jodoh orang sana, kadang-kadang anaknya dibawa pulang ke Indonesia lagi, ke kampung, jadi mereka datang untuk menyekolahkan anak-anaknya bagaimana anaknya supaya sekolah," ujar Aspar kepada detikcom belum lama ini.

Yang jadi masalah, kata Aspar, adalah belum adanya panduan terkait penyetaraan antara sekolah di Malaysia dan Indonesia. Belum lagi, baik siswa maupun guru, akan sama-sama kesulitan dalam penyesuaian pembelajaran karena bahasa dan materi pembelajaran.

Siswa Sekolah di SD Dekat PerbatasanAtas dasar kemanusiaan dan mencegah siswa putus sekolah, Aspar mengaku menerima siswa pindahan tersebut (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Atas dasar kemanusiaan dan mencegah siswa putus sekolah, Aspar mengaku menerima siswa pindahan tersebut. Meskipun begitu, Aspar menyebut jumlah siswa pindahan dari Malaysia tersebut hanya kurang dari lima yang ada di sekolah yang dipimpinnya.

"Kami pihak sekolah kan mau tidak mau harus menerima jangan sampai anak tersebut putus sekolah, cuma yang jadi masalah kadang-kadang di sana tingkat derajat sana atau sekolah dasar (SD) kita nih kadang-kadang berbeda gitu antara Malaysia dan Indonesia," ujar Aspar.

"Jadi kami kadang-kadang kesulitan itu, dari segi bahasa mereka tuh di dalam menerima pembelajaran baik dalam pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa di dalam matematika itu yah agak beda. Jadi di situ kesulitan untuk mengajar anak yang dari seberang sana. Hanya sedikit ja, satu dua orang lah, di bawah 5 orang," imbuhnya.

Menurut Aspar, di SDN 06 Sereges, para siswa diwajibkan menyanyi lagu nasional di pagi hari dan lagu daerah setiap akan pulang. Hal ini dilakukan untuk mengenalkan keberagaman yang ada di Indonesia.

"Di sekolah kami sudah kami programkan setiap masuk, pagi tuh menyanyikan lagu wajib nasional dan kalau pulang nanti lagu daerah yang ada di Indonesia. Tujuan kami sudah lama ingin mengenalkan keberagaman mengenalkan NKRI kepada anak bahwa negara kita ini kaya dengan suku bangsa," ujarnya,

"Jadi saya wajibkan tiap kelas hapal lagu-lagu daerah tuh dari Jawa, dari Sumatera, Kalimantan Timur. Setiap kelas guru-gurunya wajib mengajarkan anaknya lagu-lagu daerahnya," imbuhnya.

Siswa Sekolah di PerbatasanDi SDN 06 Sereges, para siswa diwajibkan menyanyi lagu nasional di pagi hari dan lagu daerah setiap akan pulang (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Sebagai informasi, SDN 06 Sereges terletak di Desa Seluas yang berjarak 18 km dari titik nol Indonesia-Malaysia. SD ini memiliki 262 siswa dan 17 guru, serta termasuk yang mendapatkan bantuan dalam program Indonesia Pintar (PIP).

PIP sendiri merupakan bantuan berupa uang tunai Rp 450 ribu untuk siswa yang kurang mampu. Bantuan yang penyalurannya dilakukan lewat Bank BRI ini ditujukan untuk menunjang siswa membeli peralatan dan perlengkapan sekolah.

"Alhamdulillah SD ini setiap tahunnya mendapat bantuan anak-anak yah, dan dana tersebut sangat membantu anak-anak untuk membeli pakaian, buku tulis, tas, sepatu, dan lain sebagainya. Itu PIP penyalurannya lewat BRI, dan alhamdulillah lancar-lancar saja, dan pelayanannya cukup bagus," ujar Aspar.

"Dari 262 yang dapat PIP 53 kalau ga salah. Berarti sekitar 35%. Kami selaku sekolah sangat berterima kasih kepada BRI yang telah menyalurkan dana PIP kepada anak-anak kami dengan selama ini nggak ada masalah, cukup lancar yah," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Kisah Kapten Kapal Bahtera Seva BRI Kepulauan Anambas"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia