Diskusi Jadi Hal Penting dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Rabu, 29 Jun 2022 18:00 WIB
Webinar seri Implementasi Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar Jilid 2 Tingkat SMK
Foto: Screenshot Zoom Kurikulum Merdeka
Jakarta -

Kurikulum Merdeka telah diluncurkan sejak 11 Februari 2022 lalu. Hingga saat ini, implementasinya terus digencarkan, sekolah penggerak menjadi contoh pengimplementasian Kurikulum Merdeka. Seiringan dengan peresmian Kurikulum Merdeka, Nadiem juga meluncurkan Platform Merdeka Mengajar yang berfungsi sebagai pedoman para guru dalam bekerja.

Dit. SMK, Taufik Hidayat memaparkan lebih rinci terkait implementasi Kurikulum Merdeka pada SMK. Menurutnya, Kurikulum Merdeka tidak berbeda jauh dengan Kurikulum 2013, hanya saja banyak beberapa aspek yang perlu dilakukan penajaman. Terlebih, Kurikulum Merdeka melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik itu siswa, komite sekolah, industri dan masyarakat.

"Komparasi antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum Merdeka tidak banyak perbedaan. Yang membedakan hanya alur tujuan pembelajaran dan perangkat atau modul ajar. Lalu, yang perlu menjadi catatan yaitu penajaman di tiap-tiap komponen," ungkap Taufik dalam webinar seri Implementasi Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar Jilid 2 Tingkat SMK pada Rabu, (29/6/2022).

Di kesempatan yang sama, salah satu guru dari SMK 9 Medan, Julita Bakara menyampaikan terkait implementasi Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar yang telah dilaksanakan di sekolahnya selama hampir satu tahun. Julita mengungkapkan, implementasi Kurikulum Merdeka ini sangat bermanfaat bagi seluruh elemen pendidikan.

Kegiatan yang dilakukan pun memerlukan diskusi antara guru-guru untuk menyelaraskan metode belajar yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Menurut Julita, diskusi dan kolaborasi merupakan elemen penting dalam Kurikulum Merdeka.

"Implementasi Kurikulum Merdeka di SMK 9 Medan yaitu adanya Focused Group Discussion (FGD), Workshop, refleksi dan evaluasi diri serta ada juga Workshop P5BK. Dinas Pendidikan Sumatera Utara mendatangkan praktisi, sehingga kolaborasinya jelas," ujar Julita.

Para praktisi tersebut memaparkan terkait kompetensi yang diharapkan di dunia kerja. Setelahnya, para guru berdiskusi untuk menyelaraskan apa yang dijelaskan oleh praktisi untuk menyesuaikan metode pembelajaran di SMK.

SMK 9 juga mengadakan In House Training (IHT). Dalam IHT, guru komite menjadi narasumber di sekolah dan memberikan pemaparan yang diterima dalam program Sekolah Penggerak. Nantinya, para guru diajak berdiskusi untuk menyatukan pemahaman, membagikan visi misi kepada setiap jurusan serta menganalisis.

Sedangkan Workshop P5BK merupakan singkatan dari Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja. Sama dengan workshop pada umumnya, Dinas Pendidikan Smut juga mendatangkan para praktisi pendidikan untuk memenuhi pemahaman para guru dan menyelaraskan ke tujuan jurusan yang telah disusun.

Selain itu, SMK 9 Medan juga menggunakan aplikasi Merdeka Mengajar untuk memaksimalkan implementasi Kurikulum Merdeka. Julita memaparkan, aplikasi Merdeka Mengajar turut membantu guru dalam mengembangkan diri secara mandiri, bahkan mereka tidak akan tertinggal informasi-informasi seputar pendidikan dari pemerintah.



Simak Video "Tiga Ruang Kelas SD di Grobogan Rusak Parah, Siswa Ujian di Teras"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia