6 Pertimbangan Orang Tua Siswa SD Ini Dukung Sekolah Tatap Muka 100 Persen

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 04 Jan 2022 20:30 WIB
orang tua siswa SD Negeri Kebon Jeruk 01 dan 08 mengantar anaknya sekolah tatap muka 100 persen.
Orang tua siswa SD Negeri Kebon Jeruk 01 dan 08 mengantar anaknya sekolah tatap muka 100 persen. Foto: detikcom/Trisna Wulandari
Jakarta -

Sekolah tatap muka 100 persen diterapkan di Jakarta mulai Senin (3/1/2022). Sejumlah orang tua siswa menyambut kebijakan Dinas Pendidikan DKI Jakarta ini dengan dukungan. Salah satunya Ifah Sarifah, orang tua siswa di SD Negeri Kebon Jeruk 01 dan SD Negeri Kebon Jeruk 08 Jakarta Barat.

Ifah menuturkan, ia sebelumnya juga mendukung sang anak ikut uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sejak 30 Agustus 2021 di sekolah. Ia menjelaskan, kendati sang anak sudah sempat nyaman belajar di rumah sendirian dengan suasana sepi, ia perlahan membiasakan anak masuk sekolah saat PTM terbatas sambil mengetatkan penerapan prokes untuk sekolah tatap muka.

Ia bercerita, dirinya semula juga kerap membujuk sang anak untuk sekolah tatap muka agar lebih luas berteman daripada teman-teman sekitar rumah saja. Sepulang sekolah, sambungnya, ia kerap mengecek apakah sang anak yang kini duduk di kelas 5 sudah mulai nyaman kembali sekolah tatap muka.

"Alhamdulillah sekarang sudah senang sekolah tatap muka, senang ada teman-teman," tutur Ifah pada detikEdu, Selasa (4/1/2022).

Apa pertimbangan orang tua siswa ini untuk mendukung anak sekolah tatap muka 100 persen?

Pertimbangan Orang Tua Dukung Sekolah Tatap Muka

1. Pemahaman Pelajaran

Ifah menuturkan, kendati dirinya dan suami sempat terkena COVID-19, dan muncul varian Omicron, ia tetap memandang urgensi sekolah tatap muka bagi pembelajaran anak.

"Arti penting sekolah tatap muka di tengah Omicron ini (yaitu) mereka lebih memahami pelajaran. Pas PJJ itu lebih banyak soal dan tugas, sementara kasihan anak tidak mengerti yang diajarkan dari video. (Sementara) kalau di sekolah dapat penerangan dari guru, seperti matematika," tutur Ifah.

Ifah menuturkan, kedua anak yang kini menginjak kelas 3 SD dan 5 SD kini butuh fokus agar lulus dengan baik.

"Sebentar lagi naik kelas 6, dan masuk kelas 4 juga harus mulai fokus," ucapnya.

Untuk mendukung pemahaman belajar sang anak, Ifah menuturkan, sang anak juga belajar tambahan tatap muka dengan sepupu yang juga berpengalaman mengajar. Ketimbang les daring, menurutnya, bimbel tatap muka ini lebih efektif bagi gaya belajar anak-anaknya.

2. Pembiasaan Prokes di Rumah

Ifah menuturkan, setelah durasi jam belajar PTM terbatas diperpanjang, ia juga menyiapkan bekal nasi atau roti serta minum untuk anak-anaknya yang mulai belajar pukul 07.00 WIB di sekolah. Anak-anak dibiasakan untuk tidak bertukar alat makanan dengan orang lain dan tidak minta makanan orang lain.

Ia menuturkan, dirinya dan sang suami yang sempat terkena COVID-19 dan diisolasi di rumah juga menjadi pembelajaran sang anak di rumah untuk mengetatkan penerapan prokes selama pandemi. Dari situ, anak-anaknya lebih memahami arti penting berjaga jarak dan cuci tangan pakai sabun setiap selesai satu kegiatan.

"Di rumah juga dibiasakan dengan candaan, anak-anak itu kalau duduk berdempetan suka jadi candaan, 'eitt enggak boleh deket-deket, kita corona," tuturnya tertawa. "Jadi masker tidak boleh lepas, hand sanitizer-nya (juga disiapkan). Lalu juga kalau di dalam kelas diinfokan jangan terlalu bercanda agar tidak berkerumun, jaga jarak saja."

3. Dampak Sekolah Tatap Muka 100 Persen

Ifah menuturkan, PTM terbatas dengan durasi jam belajar pendek membuat anak-anaknya masih harus melanjutkan pembelajaran di rumah. Jam belajar di sekolah yang lebih panjang saat sekolah tatap muka 100 persen, menurutnya, membantu sang anak lebih tuntas belajar dan bertanya pada guru.

Kedisiplinan anak menurut Ifah juga kembali terbangun lewat sekolah tatap muka. Bangun pagi, belajar lebih serius, mengerjakan tugas lebih dini, dan lebih semangat belajar adalah salah satu yang dirasakannya kembali muncul pada sang anak.

"Saya harap juga guru terus memantau ke depannya selama anak lanjut sekolah tatap muka," tuturnya.

4. Penjedaan Pulang Sekolah

Kepala SD Negeri Kebon Jeruk 01 Hj. Tahiyah, M.Pd menuturkan, sekolah juga mengatur pencegahan kerumunan saat pulang sekolah agar orang tua dan siswa aman selama penyelenggaraan sekolah tatap muka. Penjedaan ini berselang 15 menit dari sekitar pukul 09.30 -11.00 WIB.

"Orang tua juga menginfokan pada guru kelas jika sudah sampai, jadi anak boleh pulang. Jika orang tua belum datang, siswa ditahan dulu di kelas," tutur Tahiyah.

Kepala SD Negeri Kebon Jeruk 08 Hj. Muriyah, M.Pd menambahkan, antar-jemput siswa juga harus dilakukan oleh orang tua siswa yang terdata sudah divaksinasi dan mengenakan masker seperti yang sudah disosialisasikan.

Di SD Negeri Kebon Jeruk 08, kepulangan siswa juga dijeda dengan aturan siswa kelas 1-2 pukul 09.00, kelas 3 pukul 10.10 atau 5 jam pelajaran, lalu kelas 4, 5, dan 6 pukul 10.45 WIB.

Muriyah menuturkan, orang tua juga disosialisasikan dasar hukum sekolah tatap muka 100 persen seperti Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri, termasuk standar prokes, dan pencegahan kerumunan orang tua saat menjemput buah hati.

5. Vaksinasi Pelajar

Muriyah mengatakan, 90-an persen siswa SD Negeri Kebon Jeruk 08 dan SD Negeri Kebon Jeruk 01 yang belajar di satu rangkaian gedung sekolah ini juga sudah divaksinasi dengan koordinasi bersama guru dan Puskesmas Kebon Jeruk. Vaksinasi Sinovac tahap 1, tuturnya, diterima siswa pada awal Desember 2021.

Siswa yang belum divaksinasi karena kurang sehat pada hari vaksinasi di sekolah, sambungnya, diimbau agar segera mendapat vaksin di faskes kendati bukan merupakan syarat sekolah tatap muka terbaru.

6. Memastikan Sekolah Bersih dan Aman

Di samping vaksinasi, Tahiyah menuturkan, kedua SD juga dibersihkan agar anak-anak nyaman karena lingkungan sekolah indah dan lengkap dengan fasilitas sanitasi seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, cek suhu, dan disinfektan.

Muriyah menambahkan, sekolah juga disemprot disinfektan di seluruh ruangan. Kursi-meja siswa diberi jarak sesuai anjuran 1 meter, dan kantin sekolah ditutup sementara waktu. Untuk itu, siswa hanya diperbolehkan makan-minum di kursi masing-masing.

"(dan) yang terpenting penerapan PHBS, perilaku hidup bersih dan sehat," kata para kepala SD negeri yang menerima penghargaan Adiwiyata nasional sebagai sekolah yang mampu melaksanakan upaya peningkatan pendidikan lingkungan hidup secara benar.

Tahiyah mengatakan, karena para siswa pulang sebelum waktu salat, titik kritis penyebaran COVID-19 dapat diantisipasi. Sebanyak 20 unit toilet juga disiapkan di masing-masing sekolah untuk menghindari antre dan kerumunan di kamar mandi.

Nah, itu dia pertimbangan Ifah, salah satu orang tua siswa SD yang mendukung anaknya sekolah tatap muka 100 persen di Jakarta mulai 2022. Bagaimana penerapan pembelajaran tatap muka di sekolah detikers?



Simak Video "Hari Pertama Sekolah Tatap Muka di Polman, Sejumlah Murid Abai Prokes"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia