Siswa di China Dilarang Ikut Bimbel, Muncul Pasar Gelap Les Privat

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 14 Des 2021 08:30 WIB
Asian kindergarten school girl with mother video conference e-learning with teacher on laptop in living room at home. Homeschooling and distance learning ,online ,education and internet.
Pelarangan les privat dan bimbel oleh pemerintah China malah berbuntut naiknya biaya les. Begini sebabnya. Foto: Getty Images/iStockphoto/ake1150sb
Jakarta -

Kementerian Pendidikan China melarang guru untuk menggelar les privat setelah sekolah sejak 30 Juli 2021. Kebijakan pelarangan aktivitas pendidikan di luar jam kerja guru ini disusul dengan aturan untuk memangkas PR bagi siswa.

Dilansir dari Radio Free Asia, guru yang kedapatan mengadakan les privat berbayar untuk siswa akan dilaporkan ke pemerintah dan ditindak. Di samping les privat oleh guru pemerintahan China di bawah Xi Jinping memperketat pengawasan pada industri bimbingan belajar atau bimbel.

Padahal, data industri bimbingan belajar China mendapati, di tahun 2016 saja, ada lebih dari 75 persen siswa pendidikan dasar dan menengah di China menjalani bimbingan belajar dan les privat setelah sekolah.

Penutupan sekitar 700.000 lembaga bimbel dan les oleh pemerintah daerah juga membuat sekitar 10 juta mantan guru dan tutor di China menganggur. Apa yang terjadi pada bimbel dan les di China sebenarnya?

Siswa China Dilarang Bimbel

Xin Jinping: Les Menghambat Angka Kelahiran

Sebelumnya pada Maret 2021, Presiden China Xi Jinping mengkritik kecenderungan orang tua untuk mendaftarkan anak untuk les privat di rumah demi masuk sekolah terbaik. Menurut Xi Jinping, kecenderungan ini menghambat angka kelahiran di negaranya.

Pada 15 Juni 2021, Kementerian Pendidikan China membentuk departemen baru untuk memantau ketentuan pendidikan dan pelatihan di luar kampus. Pemerintah China mengumumkan, departemen ini dibentuk untuk menerapkan "reformasi pada sektor pendidikan dan bimbingan belajar di luar kampus.

Tidak Boleh Les saat Hari Libur

Salah satu reformasi yang dimaksud di antaranya lembaga les dilarang menawarkan bimbingan belajar berbasis mata pelajaran pada hari libur nasional, hari istirahat, hari liburan musim dingin, dan musim panas.

Orang Tua Masih Minta Bimbel

Ex-pekerja bimbel Zhou Xia mengatakan, permintaan orang tua agar anaknya tetap dapat mengikuti bimbingan belajar belum hilang.

"Mereka (pemerintah) sudah melarang tempat les dan pusat bimbel di luar sekolah, tetapi kebutuhan orang tua (untuk mendaftarkan anak agar les) masih ada. Banyak guru sekarang melakukan bimbingan belajar sembunyi-sembunyi," tuturnya, Senin (6/12/2021).

Guru Menyamar Jadi ART dan Pekerja Listrik

Zhou Xia menuturkan, kebijakan Xi Jinping justru membuat orang tua dan siswa harus putar otak untuk mendatangkan guru ke rumah.

Ia menjelaskan, orang tua kini banyak beralih ke les privat luring dan daring dengan guru-guru yang sudah dikenal atau kenalan teman. Agar tidak ketahuan pemerintah, para guru atau tutor datang dengan menyamar sebagai asisten rumah tangga atau pekerja perbaikan peralatan listrik.

Biaya Les Malah Naik

Zhou mengatakan, les privat saat ini membutuhkan biaya setidaknya 3.000 yuan atau sekitar Rp 6,7 juta per jam.

"Orang tua berada di bawah tekanan yang lebih besar dari sebelumnya karena lebih sulit untuk menemukan guru les sembunyi-sembunyi. Ini membuat beban keuangan juga lebih berat. Harga pasti naik. Segitu kira-kira harga pasar gelap bimbel sekarang," tuturnya.

Inspeksi ke Rumah

Para guru yang menyamar sebagai berbagai penyedia jasa saat les di rumah masih harus berhati-hati agar tidak kena sidak. Sebab, tim inspeksi dari pemerintah China juga mengecek tutor yang berkunjung ke rumah siswa.

Di Shenzen contohnya, biro pendidikan pemerintah setempat melakukan inspeksi ke lebih dari 5.000 lembaga bimbel dan les. Inspeksi ini berujung pada penutupan bimbel yang kedapatan menggelar bimbingan.

Tidak Baik untuk Mental Anak

Pengamat isu aktual Wang Zheng mengatakan, industri pendidikan swasta seperti bimbel dan les privat telah bergerak di bawah tanah untuk bertahan hidup.

"Tapi risikonya tinggi, dan ini bisa mempengaruhi belajar siswa," katanya. "Secara psikologis berbahaya bagi anak-anak untuk melakukan ini secara diam-diam ketika mereka biasa melakukannya secara terbuka," tuturnya.



Simak Video "Merajut Asa Kembali ke Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia