Hari Aksara Internasional, Nadiem: Capaian Belajar Anak Tak Dinilai dari Hafalan

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 08 Sep 2021 19:00 WIB
Sejumlah sekolah di Surabaya melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM). Selain kenakan seragam, ada pula siswa yang kenakan baju bebas di hari pertama PTM.
Foto: Esti Widiyana/Detikcom
Jakarta - Hari Aksara Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) memperingati Hari Aksara Internasional (HAI) ke-56 melalui sejumlah acara.

Dengan tajuk "Literasi Digital untuk Indonesia Bangkit", Kemendikbud Ristek menggelar webinar Puncak Peringatan HAI Tingkat Nasional 2021. Acara tersebut juga diselenggarakan sebagai komitmen pemerintah dalam penuntasan Buta Aksara.

Dalam webinar tersebut, Mendikbudristek Nadiem Makarim turut menyampaikan pentingnya kecermatan literasi untuk menghindari risiko negatif yang mungkin terjadi pada era digital.

"Dari hari ke hari baik disadari atau tidak dunia bergerak dan berubah semakin cepat. Semua dimungkinkan karena teknologi pada satu sisi bisa meningkatkan efektivitas pekerjaan, tapi di sisi lain ada risiko negatif. Terutama jika tidak diimbangi dengan kecermatan," ungkapnya saat memberi sambutan webinar peringatan HAI Nasional yang disiarkan di youTube Kemdikbudristek RI, Rabu (8/9/2021).

Risiko negatif yang dimaksud contohnya adalah hoaks dan kekerasan berbasis online. Dalam hal ini, anak-anak sekolah dikatakan Nadiem sangat rentan dengan dampak jangka panjang yang tinggi.

Maka dari itu, untuk menghadapi teknologi yang akan terus berkembang dan tidak bisa dibendung di masa depan, diperlukan cara untuk menyeimbangkan antara kecepatan dan kecermatan.

"Cara untuk menyeimbangkan antara kecepatan dan kecermatan yaitu dengan meningkatkan literasi digital. Khususnya untuk anak-anak pendidikan usia dini, sekolah dasar, dan sekolah menengah," tutur Nadiem.

Lebih lanjut Nadiem menerangkan, bahwa kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat juga sangat penting.

Kemampuan berpikir kritis tersebut bisa dilakukan dalam pendidikan dengan cara menjadikan literasi sebagai kompetensi esensial dalam merdeka belajar.

"Sekarang capaian belajar anak anak indonesia tidak dinilai dari ketepatan hafalan tapi dari kemampuan mengolah informasi secara kritis. Kompetensi literasi akan menjadi aspek penilaian Asesmen Nasional (AN)," paparnya.

Meski kompetensi literasi menjadi aspek penilaian AN, namun AN bukanlah penentu bagi kelulusan siswa. Hal itu dikarenakan tujuan AN adalah sistem pemetaan untuk menemukan kekurangan kemampuan literasi pada peserta didik.

Dalam hal ini, sekolah dan guru perlu melakukan pendekatan khusus untuk meningkatkan literasi pada setiap peserta didik.

"Tugas kita bersama untuk membekali anak-anak Indonesia kecerdasan literasi sehingga mereka akan menjadi generasi yang tangguh. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mewujudkan merdeka belajar," tutupnya.

Sementara itu, dalam acara puncak HAI Nasional juga turut memberi penghargaan dalam 9 kategori, di antaranya Pegiat Pendidikan Keaksaraan, Tokoh Adat Pendukung Pendidikan Keaksaraan pada Komunitas Adat Terpencil/Khusus, TBM Kreatif-Rekreatif, Publikasi Video Keaksaraan, Publikasi Foto Keaksaraan, Publikasi Keaksaraan di Media Cetak dan/ Daring, Video Literasi Masyarakat, Foto Literasi Masyarakat, dan Menulis Praktik Baik Literasi Masyarakat.

Penghargaan tersebut diberikan guna memberi apresiasi kepada para pegiat literasi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia agar terus berkarya dalam menuntaskan buta aksara. Selamat Hari Aksara Internasional!

Simak Video "Observasi PTM, Mendikbud Nadiem Makarim Kunjungi Sekolah di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia