Kapan Anak Mulai Siap Masuk SD? Ini Penjelasan Dosen Psikologi UNS

Lusiana Mustinda - detikEdu
Sabtu, 10 Jul 2021 08:02 WIB
Siswa-Siswi kelas 5 menjalani ujian penilaian akhir sekolah di SD Negeri Kota Baru 2 dan 3, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (7/6/2021). Ujian ini dilaksanakan secara tatap muka dengan menerapakan protokol kesehatan yang ketat dan membagi beberapa sesi kelas untuk ujian. Satu kelas terdiri dari 15 anak. Ujian ini berlangsung hingga 12 Juni 2021. Hanya kelas 4 dan 5 yang melakukan ujian tatap muka kelas lainnya laksanakan ujian secara daring.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Jika dilihat dari sudut pandang psikologi, ukuran untuk anak seharusnya masuk sekolah dasar tidak hanya terletak dari kriteria usia. Akan tetapi kesiapan individu menghadapi aktivitas-aktivitas pembelajaran di sekolah seperti aspek perkembangan fisik, mental, sosial dan emosional.

Dilansir dalam laman UNS, dosen psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Afia Fitrianamenjelaskan ada beberapa aspek perkembangan umum yang perlu diperhatikan untuk menunjukkan apakah seorang anak sudah siap sekolah atau belum.

Aspek-aspek tersebut meliputi development of learning, development of movement, development of speech, development of self dan development of hand control.

Development of learning merupakan perkembangan dalam hal pembelajaran atau belajar yang berfokus pada keterampilan belajar anak. Salah satu keterampilan yang cukup penting adalah regulasi diri dalam belajar. Hal ini salah satunya dapat dilihat ketika anak belajar di PAUD atau TK.

"Contoh di sekolah, lagi asyik main perosotan tetapi sudah waktunya masuk kelas. Kalau semangat bermainnya sedang tinggi sulit untuk diredam. Setelah bermain dengan aktif, ketika masuk kelas, anak harus duduk dan mengikuti kelas. Ketika bisa mengubah setting aktif, lebih ke pasif ketika dikelas, berarti siap," jelas Afia.

Kemudian, development of movement berkaitan dengan fisik. Anak sudah siap memasuki sekolah dasar jika memiliki keseimbangan pergerakan lengan, lompat, dapat mengontrol pergerakan fisik saat lari.

Development of speech berkaitan dengan bahasa reseptif dan ekspresif yang sudah jalan. Afia mencontohkan, bahasa reseptif ini dapat berupa pemahaman anak saat diminta melakukan sesuatu.

Sementara bahasa ekspresif ialah respons anak saat diberi perintah tersebut. Sebagai contoh ketika meminta ambil buku dan bawa ke sini, dia paham. Apa yang dilakukan dan apa yang diambil. Tapi dia tidak menjawab secara lisan (sebagai respon) berarti ada hambatan di persoalan ekspresifnya. Kadang merespon dengan suara pelan atau masih malu. Ekspresif tapi sangat kecil.

Dan development of self ini berupa kepercayaan diri anak, manajemen diri, dan sebagainya. Lalu terakhir, development of hand control yakni hands-on activities, motorik.

Tiga kualitas utama yang dibutuhkan anak siap sekolah

1. Intelektual

Intelektual yang berhubungan dengan kesiapan anak belajar baca, tulis dan hitung. Bukan berarti harus bisa terlebih dulu, melainkan memiliki keterampilan untuk mulai belajar.

Untuk menulis, misalnya anak sudah membuat coretan terarah, membuat lingkaran, mewarnai tanpa keluar garis. Lalu mengenal bentuk-bentuk huruf, memahami konsep arah, atas bawah dan kiri kanan.

"Kita juga dapat menstimulus sekaligus mengajar life skill. Pakai sepatu dari kaki kanan dulu sekaligus pengenalan persiapan untuk belajar membaca, membaca dimulai dari tulisan kiri. Lalu menghitung, mengenal banyak sedikit, lebih besar lebih sedikit," jelas Afia.

2. Motivasional

Ini adalah sebuah semangat untuk belajar mandiri dan rasa ingin tahu terhadap segala sesuatu. Stimulasi belajar hal baru oleh orang tua ataupun guru akan menumbuhkan rasa ingin tahu pada diri anak.

Bersekolah di PAUD dapat menjadi alternatif stimulus. PAUD dapat memberikan pengalaman belajar dengan teman sebaya yang dapat membangkitkan minat bersekolah. Selain itu, minat juga dapat ditimbulkan dengan pengenalan terhadap sekolah secara fisik. Misalnya anak diajak melihat lingkungan sekolah.

3. Sosio emosional

Sosio-emosional yaitu keterampilan sosial anak dengan orang lain, kesiapan emosi, dan terkait kontrol diri anak menghadapi situasi yang dihadapi. Contoh anak yang siap secara sosio-emosional adalah kemauan untuk bergabung dan bermain dengan teman-teman sebayanya.

"Lalu ketika mengekspresikan emosi (red: marah atau menangis misalnya), ditenangkan teman sebayanya atau guru bisa mereda. Berarti dia sudah bisa mengontrol emosi," kata Afia.

Stimulasi sosio-emosional dapat dilakukan dengan membangun hubungan anak dengan orang dewasa yang erat dan hangat. Hal ini dapat dimulai dari hubungan anak-orang tua dan berkembang pada anak-guru.

"Dari ketiga tersebut yang paling menjadi tantangan adalah motivasional dan sosio-emosional. Persiapkan intelektual lebih mudah karena dapat dilakukan dengan latihan dan remedial. Jika anak sudah tidak termotivasi untuk belajar sulit bekerja sama, mood atau suasana hati berubah-ubah makan sulit dikembangkan secara kognitif," pungkas Afia.



Simak Video "PTM Perdana di Rembang Setelah Hampir 2 Tahun Belajar Daring"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia