Ketum PGRI Minta Pemerintah Bikin Kurikulum Darurat

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 28 Jun 2021 20:11 WIB
Siswa Siswi sekolah dasar kelas 5 menjalani ujian Penilaian Akhir Tahun secara tatap muka dengan mengunakan gawai di Sekolah Dasar Negeri 07 Pagi Malaka Jaya, Jakarta Timur, Rabu (9/6/2021).
PGRI meminta pemerintah menyusun kurikulum khusus dalam masa pandemi Foto Ilustrasi: Agung Pambudhy
Jakarta - Pembelajaran pada era COVID-19 dinilai sangat membutuhkan kurikulum khusus yang bisa diimplementasikan baik untuk sekolah tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh.

Ketum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi menekankan pada situasi saat ini yang terpenting adalah keselamatan baik guru dan murid. Karena itu, ia mengusulkan agar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi beserta pemerintah daerah mendesain pembelajaran khusus era COVID-19.

Unifah menyatakan bahwa kedua belah pihak perlu menyiapkan sebuah kurikulum khusus yang menurutnya "implementable". Ia tegaskan bahwa desain ini harus aplikatif, baik bagi guru yang melakukan pembelajaran tatap muka daring, maupun untuk mengajar anak-anaknya.

"Kita harus bersiap untuk menciptakan kurikulum khusus atau kurikulum darurat," ujar Unifah pada dialog FMB9ID IKP bertajuk Mengejar Prestasi di Tengah Pandemi yang digelar secara daring Senin (28/06/2021).

Kurikulum darurat ini menurut suru besar bidang ilmu manajemen pendidikan dan tenaga kependidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta ini harus bisa menjabarkan apa yang harus disampaikan saat guru diberi beban untuk mengajar selama dua jam

"Dua jam itu apa saja yang harus disampaikan. Apakah yang terkait dengan mata pelajaran pokok dan yang sulit dijelaskan atau mengembangkan karakter seperti rasa ingin tahu, respek pada perbedaan atau mendorong anak-anak untuk antusias belajar. Ini (kurikulum darurat) harus diciptakan, dikomunikasikan, dan ditugaskan," katanya.

Selain itu, menurut Unifah perlu juga disederhanakan sistem tata kelola dan penilaian pada para guru perlu disederhanakan. Tujuannya, agar para guru dapat mengajar secara daring, luring, maupun blended.

"Keluhan dari guru meskipun diberi kesempatan (kompetensi dasar) 30 persen boleh berkurang tapi implementasinya tidak demikian," ujar Unifah. Realitas di lapangan para guru, ujarnya tetap harus melaksanakan target kurikulum karena ada peraturan-peraturan yang tidak disesuaikan dengan situasi kedaruratan.

Selain hal di atas, menurut Unifah para orang tua juga penting diberikan panduan untuk mengikuti perkembangan anak-anaknya. Ia menekankan penyiapan kurikulum khusus serta tata kelola pembelajaran daring ini sudah harus dimulai karena tidak ada yang tahu kapan COVID-19 akan mereda.

Unifah pun menyinggung di mana survei perlu melihat pula antusiasme dan rasa kecewa guru karena tidak dapat bertemu murid-muridnya dalam Pembelajaran Tatap Muka. Dirinya menganggap hal ini penting karena sebagai bagian dari koreksi, tidak dapat hanya melihat satu sisi.

Simak Video "Melihat Kesibukan Orang Tua Siswa di Meksiko Belanja Peralatan Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia