Dirjen PAUD Dikdasmen: Materi Pelajaran Tersulit untuk PTM Terbatas

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 09 Jun 2021 09:00 WIB
Guru memberikan pelajaran kepada murid saat uji coba belajar tatap muka di kawasan SDN 11 Pademangan Barat, Jakarta Utara, Rabu (7/4). SDN Pademangan Barat 11 memulai uji coba belajar tatap muka bagi siswa kelas V di tengah pandem COVID-19. Protokol kesehatan menjadi hal utama baik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Foto: Pradita Utama
Jakarta - PTM terbatas dijadwalkan Juli 2021 sesuai sesuai kondisi sekolah dengan menerapkan protokol kesehatan. Presiden Joko Widodo mengatakan, PTM terbatas tidak boleh melebihi dua hari dalam seminggu dan dihadiri tidak lebih dari 25% dari total peserta didik.

Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait perlindungan keselamatan, kesehatan serta orientasi yang berpusat pada peserta didik.

"Setiap hari maksimal hanya 2 jam dan opsi menghadirkan anak di sekolah ditentukan orang tua. Semua guru harus selesai divaksinasi sebelum mulai. Jadi, mohon bantuannya kepada kepala daerah, prioritaskan guru dan lansia, terutama guru-guru ini harus sudah divaksinasi sebelum PTM," ucapnya dalam konferensi pers virtual, Senin (7/6/2021), dikutip dari situs Ruang Guru Paud Kemendikbud.

Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek Jumeri mengatakan, terkait protokol kesehatan selama PTM, kelebihan kursi dan meja diletakkan di gudang sekolah. Adapun jarak kursi dan meja yang digunakan siswa diatur agar meminimalisasi siswa berkerumun dan berkontak, serta membiasakan jaga jarak.

"Misal 18 taruh di gudang, 18 taruh di kelas, jaraknya diatur," kata Jumeri dalam Bincang Interaktif Pendidikan "Persiapan PTM Terbatas Tahun Ajaran 2021/2022", Selasa (8/6/2021).

Ia menambahkan, untuk memaksimalisasi PTM Terbatas yang menurut arahan Joko Widodo hanya berlangsung sekitar dua jam dalam satu hari, guru cukup cukup memberikan materi paling esensial pada PTM terbatas ini. Adapun materi lainnya diberikan lewat PJJ dan pemberian tugas.

"Materi tersulit di PTM. (Jadi) Tidak semua (materi pelajaran) dijejalkan, agar tidak blenger, tidak terlalu banyak materi," kata Jumeri.

Terkait penyederhanaan kurikulum, Jumeri mengatakan, sesuai panduan di masa pandemi yang diterbitkan Kemendikbud dan Kemenag, sekolah dapat menyederhanakan materi belajar sesuai kurikulum dari kementerian atau dari sekolah sendiri.

"Di tahun ajaran baru, patuhi SOP beban belajar. Sudah punya tanggung jawab materi, sampaikan dengan lengkap, tapi tidak memaksakan peserta didik (dengan cara PTM) normal seperti tahun sebelumnya. Tidak memberikan beban berat pada putra-putri pada PTM. Jadi kolaborasi ciptakan iklim PTM yang sehat," kata Jumeri.

Jumeri mengatakan, adapun ujian akhir atau ujian semester disesuaikan dengan materi yang dicapai guru saja.

"Sekarang tidak ada ujian yang dilakukan bersama. Ujian akhir atau semester dibuat guru, soal dibuat sesuai materi yang dicapai guru," ucapnya.

Tetap ada opsi PJJ

Jumeri menuturkan, waktu atau durasi PTM Terbatas disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah. Di sisi lain, sekolah wajib memberi opsi PTM dan PJJ setelah guru dan tendik divaksin dua tahap.

"Buat orang tua yang belum mantap, belum sreg (untuk melepas anak ikut PTM Terbatas) boleh mengajukan belajar di rumah. Sekolah wajib menyediakan dua pilihan ke siswa," kata Jumeri.

Jumeri mengatakan, pelaksanaan PTM Terbatas berbasis arahan pemerintah mengikuti mengikuti dinamika di satuan pendidikan masing-masing daerah.

"Tidak akan sama antar kecamatan hingga provinsi, mengikuti dinamika COVID-19 di wilayah masing-masing. (Jadi seperti) ini pemahaman tatap muka terbatas ya. Kalau COVID merebak, sekolah tutup sementara. Kalau perkembangan COVID-19 membaik, kegiatan lebih dinamis," ucapnya.

Jumeri mengakui, kesiapan sekolah dan siswa untuk melaksanakan PTM sering kali tidak berbanding lurus dengan kesiapan pemerintah. Untuk menyiasati hal ini, ia menuturkan, Kemendikbud terus berkoordinasi dengan Kemendagri untuk mendorong kesiapan pemda.

"Seringkali sekolah siap, peserta didik guru oke, pemda belum. Kami terus berkoordinasi dengan Kemendagri agar pemerintah mengizinkan sekolah melakukan PTM. Kami juga mendorong Puskesmas daerah bantu sekolah melakukan PTM dengan baik. Kalau sekolah yang belum (siap), kami koordinasi intensif dengan kepala dinas pendidikan daerah di bawah Kemendagri, karena anak butuh PTM Terbatas," kata Jumeri.

Ia menuturkan, berdasarkan data Kemendikbud per akhir Mei 2021, lebih dari 60% sekolah siap dengan SOP dan infrastruktur untuk melaksanakan PTM Terbatas.



Simak Video "Sekolah di Ciamis Mulai Belajar Tatap Muka, Begini Penampakannya"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia