Baru-baru ini di media sosial Threads ramai kembali perbincangan soal Prihantini, awardee beasiswa LPDP yang terseret dugaan kasus riset palsu. Dalam sebuah unggahan ditunjukkan bahwa ia tengah mencari travel grants.
Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut diduga tengah mengajukan international travel grant for International Congress of Diabetes & Metabolism (ICDM) 2026. Sontak, warganet banyak yang mempertanyakan bagaimana tindakan pemerintah terhadap kasusnya dahulu.
Prihantini sebelumnya diduga melakukan riset palsu di konferensi ilmiah internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026 lalu.
Respons Mendiktisaintek soal Prihantini
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyampaikan pihaknya akan melakukan cek terlebih dahulu perihal dugaan tersebut.
"Oh itu nanti kita cek ya, karena saya belum dapat info," kata Brian usai acara Sarasehan Mitra Beasiswa dan Platform SatuBeasiswa Indonesia di Gedung D Kemdiktisaintek, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat pada Rabu (16/9/2026).
Ia mengatakan Kemdiktisaintek sebelumnya telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum. Selain itu, Kemdiktisaintek juga akan menetapkan efek jeranya.
"Tapi terakhir kita sedang proses di hukum, di wilayah hukum," katanya.
Nama Prihantini Tidak Akan Direkomendasikan
Brian menyampaikan pihaknya telah menutup akses untuk memberikan rekomendasi terhadap Prihantini dan pelaku dugaan riset palsu lain. Termasuk juga rekomendasi-rekomendasi dari kampus.
"Kita tidak akan--kita semua dari kementerian, dari kampus, dari semua institusi--kami sudah tidak memperkenankan memberikan rekomendasi atau apapun, ya," tuturnya.
Sejauh ini, Brian belum bisa memastikan jenis pelanggaran yang dilakukan Prihantini dan lainnya. Ia menyebut aksi mereka bisa termasuk kasus pidana atau penipuan.
"Ini bahkan kita sedang proses di ranah hukum ya. Jadi, mungkin termasuk penipuan. Mungkin nanti pidana atau apa ya," tuturnya.
Kasus dugaan riset palsu ini tidak hanya dilakukan Prihantini. Brian mengatakan ada empat orang yang melakukannya dan semua merupakan alumni UNY.
Mereka adalah Rifaldy Fajar, Rini Winarti, Riana Dwi Kurniawati dan Prihantini. Pihak UNY telah mengkonfirmasi bahwa mereka bukan peneliti atau dosen UNY.
Pelaku diduga telah melakukan pemalsuan terhadap 51 karya riset dalam konferensi internasional. Salah satunya Rifaldy, yang mengaku sudah mencatat Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) dalam risetnya.
"Pertama-tama, saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Universitas Muhammadiyah Bulukumba karena telah melakukan kesalahan saya, yaitu mencatut Universitas Muhammadiyah Bulukumba tanpa melakukan konfirmasi kepada Muhammadiyah Universitas Muhammadiyah Bulukumba secara langsung. Saya akui menjadi salah satu kesalahan saya dalam proses pencatutan UMB di beberapa karya yang saya lakukan," ucapnya dalam unggahan Instagram @lp2m_umbulukumba, dikutip Rabu (16/9/2026).
Simak Video "Video: Semangat Belajar hingga Lahirkan Pijar Berdaya"
(cyu/twu)