Telisik 3 Nama Alumni Terseret Dugaan Riset Palsu, UNY Dapat Jawaban Template

ADVERTISEMENT

Telisik 3 Nama Alumni Terseret Dugaan Riset Palsu, UNY Dapat Jawaban Template

fahri zulfikar - detikEdu
Kamis, 28 Mei 2026 14:47 WIB
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
Foto: Dok Laman Universitas Negeri Yogyakarta
Jakarta -

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menelisik 3 nama alumninya yang ramai disebut terseret dugaan riset palsu di konferensi dunia International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISSPD) di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026 lalu. Sementara ini, begini hasil yang didapatkan UNY.

Wakil Rektor UNY bidang Akademik Prof Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, MPd, PhD mengungkapkan 3 nama alumni UNY yang sedang ditelisik adalah:

  1. Rini Winarti
  2. Rifaldy Fajar
  3. Prihantini

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi memang kalau posisi saat ini masih proses mendapatkan konfirmasi (dari terduga alumnus UNY). Sejak Selasa itu kan memang posisi libur. Saya kurang tahu juga (kenapa susah dihubungi), mungkin banyak orang yang mengontak beliau bertiga (terduga). Kalau setahu saya itu satu Rifaldi, dua Prihantini, ketiga Rini. Rini itu Biologi, (ada nama alumni di UNY) Rini Winarti. Jadi, Rifaldi Fajar, nggih, kemudian Prihantini itu Matematika, sama Rifaldi," demikian dikatakan Prof Nur Hidayanto saat dikonfirmasi detikEdu, Kamis (28/5/2026).

Nur Hidayanto menambahkan Rektor UNY Prof Dr Sumaryanto, MKes, AIFO sudah memerintahkan untuk menelisik, mengkonfirmasi dan tabayyun apakah nama-nama yang ramai disebut di media sosial apakah betul merupakan nama alumninya atau bukan.

ADVERTISEMENT

"Pak Rektor itu kemarin dhawuh (sudah perintah), kita telisik, konfirmasi, tabayyun. Wah, intinya kita cari informasi sebanyak mungkin sebelum Pak Menteri dhawuh (bicara) ke kami. Karena kan kita juga di bawah kementerian, dan beliau bertiga, waduh berempat atau berapa itu kan (statusnya) alumni, nggih. Sehingga, eh secara hukum kita tidak bisa memberi sanksi akademik seperti peraturan akademik, kecuali nanti ada yang lain. Nggih. Nah, kalau yang lain kan memang perlu kami eh bawa ke komite etik atau nanti nunggu dhawuh dari Kementerian dan juga Pak Rektor. Kalau yang mahasiswa kan jelas bisa kita urus," imbuh Nur Hidayanto.

Di data UNY, ketiga nama itu ada di database alumni. Hanya memang masih diklarifikasi, apakah nama itu memang benar alumninya atau hanya kesamaan nama.

"Itu Rini Winarti kita bukan, ini Rifaldi Fajar kami bukan, kemudian ini Prihantini kami bukan?" ujarnya.

Prihantini Menjawab Template

Dari ketiga nama yang ditelisik, Prihantini meresponse meskipun dengan jawaban template.

"Nah, yang kemarin saya WA sendiri itu kan Mbak Prihantini. Itu, Mbak Prihantini menjawabnya template itu tadi. (Katanya) nanti akan ada klarifikasi di sosial media. Mungkin karena kondisi seperti ini, sosial medianya juga ditutup. Ada yang bilang di-hack, kita kan ya tidak tahu kalau sosial media memang memang mohon maaf, ada sebagian yang bisa 100% kita percaya, ada yang sebagian perlu lebih kritis membacanya," demikian ungkap Nur Hidayanto.

Sedangkan Rini Winarti, sudah coba dikontak oleh Fakulta MIPA UNY. Jumat besok akan ada arahan dari Rektor terkait informasi yang udah dikumpulkan.

"Karena memang kalau Rini (Winarti), kemarin sepertinya dari (fakultas) MIPA juga sudah mengontak. Memang ya nanti hasil investigasi kami juga akan kami follow up dengan mengumpulkan informasi dari MIPA. Besok semoga Jumat itu ada arahan lagi dari pimpinan untuk kita satukan informasi yang ada, karena kan masih simpang siur. Misalnya, itu Rifaldi Fajar benar alumnus kami atau bukan (belum dapat jawaban dari orangnya langsung). Kalau fotonya iya, sebagian datanya iya, sebagian lagi bukan. Itu kan seperti setengah iya, setengah bukan jadinya," jelas dia.

"Sejauh ini masih konfirmasi untuk memastikan bener bukannya itu adalah nama tersebut, alumni UNY atau bukan, gitu. Cuman karena yang bersangkutan jawabannya template jadi belum bisa memberikan konfirmasi resmi dari UNY. Jadi, konfirmasi resmi kita upayakan terus. Insyaallah, semoga dalam waktu dekat ada konfirmasi resmi. Karena kan kita juga, aduan resmi ke UNY belum ada sepertinya. Baru ramai di sosmed," tuturnya.

Sebelumnya diberitakan mahasiswa Indonesia membongkar dugaan penelitian palsu yang dipresentasikan dalam ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark pada 17-21 Mei 2026 lalu.

Lewat akun instagramnya, Wa Ode Dwi Daningrat yang sedang mengambil S3 di Oxford University mengungkapkan dugaan adanya manipulasi data dan identitas peneliti. Dwi telah mengizinkan detikEdu untuk mengutip seluruh pernyataannya.

Salah satu kejanggalan utama adalah klaim pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa adanya kolaborator atau mitra lokal. Dalam praktik riset internasional, hal tersebut dinilai hampir mustahil dilakukan.

Selain isi penelitian, identitas pemateri juga memicu tanda tanya. Dalam sesi presentasi yang dijadwalkan atas nama "Riana Dwi Kurniawati" dengan judul penelitian "Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities", seorang perempuan disebut tampil membawakan materi dan memperkenalkan diri menggunakan nama tersebut.

Anehnya, sepuluh menit kemudian di sesi yang berbeda, perempuan tersebut berganti jilbab dan menggunakan identitas atas nama Dimas Fajar Prasetyo untuk penelitian yang berjudul "AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities". Perempuan ini menurut Dwi mengenalkan dirinya dengan nama "Dimas".

Setelah Dwi telusuri, pemateri ini ternyata bukan bernama Riana tapi Prihantini. Hanya saja Prihantini tak ada dalam daftar penulis di penelitian-penelitian yang dipresentasikannya.

Prihantini memang mengirimkan beberapa judul penelitian yaitu:

  • Deep Reinforment Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host-Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia;
  • Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes;
  • Multiscale Mathematical Modeling of Influenza-Pneumococcal Superinfection to Define Optimal Timing for Flagellin Host-Directed Therapy;
  • Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross-Vivarium Microbiota Predicts Interleukin-22-Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia
  • Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae.

Dikutip dari laman ISPPD, 4 judul riset tersebut dikerjakan Prihantini bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Baik Prihantini dan Rifaldy menggunakan nama AI-Biomedicine Research Group, IMCDS-Biomed Research Foundation, Jakarta sebagai institusi asal. Sementara Rini Winarti memakai nama Departemen Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Judul riset tersebut ditampil dalam bentuk poster dalam konferensi tersebut.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Timothy Ronald Terseret Dugaan Penipuan Kripto, Kerugian Capai Rp 3 M"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads