Mendikti Minta Psikologi Bisa Dibaca Secara Ringan, Dekan FPsi UI Respons

ADVERTISEMENT

Mendikti Minta Psikologi Bisa Dibaca Secara Ringan, Dekan FPsi UI Respons

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 11 Agu 2026 15:38 WIB
Mendikti Minta Psikologi Bisa Dibaca Secara Ringan, Dekan FPsi UI Respons
Mendiktisaintek Brian Yuliarto. Foto: Devita Savitri/detikcom
Jakarta -

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, memandang psikologi merupakan bidang yang diperlukan semua orang. Termasuk remaja-orang tua, siswa-mahasiswa, dan semua lapisan masyarakat.

Namun, Brian melihat informasi ilmu psikologi saat ini sering kali menggunakan istilah yang sulit dipahami. Oleh karena itu, Brian menilai informasi terkait ilmu psikologi perlu disampaikan secara ringan untuk dibaca.

"Bagaimana membangun psikologi apa ya, ilmu-ilmu psikologi yang ringan mungkin dibaca," tuturnya di acara Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Materi psikologi yang ringan untuk dibaca menurut Brian bisa membantu seseorang yang tengah mengalami kejadian sulit tapi enggan berkonsultasi secara langsung. Brian menyoroti, sebagian mahasiswa masih ragu datang ke ruang psikolog jika mengalami masalah karena merasa malu atau takut dihakimi (judged).

"Apalagi di kampus ya,mahasiswa itu kalau sudah datang ke ruang psikolog ya atau ruang BK itu, wah masalah tuh, gitu kan ya. Takut, jadi mahasiswa juga malu-malu," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Generasi Muda Mulai Menyadari Pentingnya Kesehatan Mental

Terkait hal ini, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPSi UI), Dicky C Palupessy beri tanggapan. Ia tidak bisa memungkiri kesan yang timbul ketika mendengar soal psikologi adalah bidang ilmu yang sulit.

"Jadi memang, ya, mungkin kan kesan orang kalau bicara psikologi itu, sesuatu yang jelimet, sesuatu yang tidak mudah untuk dipahami oleh publik, mungkin karena juga ada istilah-istilah yang sulit," ungkapnya.

Namun, di balik hal itu, Dicky menilai masyarakat masa kini, terutama anak muda, sudah mulai sadar tentang pentingnya persoalan kesehatan mental. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya istilah kesehatan mental yang digunakan.

"Orang muda itu kan mereka sekarang sudah terbiasa ya, menggunakan istilah healing, kesehatan mental, dan bahkan kadang-kadang kan digunakan secara populer, misalnya trauma, ada bipolar disorder, gitu-gitu. Nah, ini kan sebenarnya menunjukkan psikologi itu mulai dikenal," bebernya.

Berdasarkan data, sambungnya, memang ada tren peningkatan kesadaran akan kesehatan mental, terutama bagi anak muda di wilayah perkotaan.

"Artinya kemudian mereka tuh menjadi makin sadar gitu ya, bahwa kalau misalnya mereka merasakan ada sesuatu yang mungkin mengganggu fungsi mereka sehari-hari, jangan-jangan saya punya masalah kesehatan mental nih," urainya.

Sayangnya, kesadaran itu belum diiringi dengan terpenuhinya informasi soal ilmu-ilmu psikologi. Hal ini dikarenakan mereka menganggap informasi tentang psikologi terlalu sulit dipahami.

Selain informasi yang sulit dipahami, Dicky juga menyoroti masih terbatasnya tenaga psikolog di berbagai daerah. Di samping itu, kesadaran atas kesehatan mental juga perlu ditingkatkan melalui perluasan penyebaran informasi, tidak hanya di perkotaan.

"Sehingga memang ya itu tantangan ya, tadi disampaikan oleh Pak Menteri kepada kita, kepada kami, kalau kita perlu membuat psikologi itu, informasinya, edukasinya itu, makin mudah diakses dengan sesuatu yang memang dekat dengan kehidupan masyarakat ya, terutama kalau kita bicara anak muda," tegasnya.

Minta Ada Sayembara Buat Buku Psikologi untuk Gen Z

Masih kurangnya informasi soal ilmu psikologi yang ringan untuk dibaca membuat Brian meminta psikolog, dosen psikologi, dan ahli bisa membangun satu terobosan terbaru. Terobosan yang dimaksud berkaitan dengan konten edukasi untuk menambah kapasitas dan wawasan masyarakat.

"Sehingga muatan-muatan psikologi itu bisa dipahami," kata Brian.

Selain konten, Brian menyinggung perlu hadirnya buku psikologi yang menyasar konsumen anak-anak dan remaja. Buku-buku ini perlu dituliskan dengan bahasa yang ringan tetapi membangun kapasitas diri.

"Jadi mereka seolah-olah membaca buku yang santai, ringan, tetapi sebenarnya membangun kapasitas diri dari sisi psikologis," imbuhnya.

Terkait buku ini, Brian menitipkan pesan khusus untuk Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). HIMPSI bisa menyelenggarakan Sayembara penyusunan buku Psikologi untuk Gen Z.

"Mungkin bisa diadakan ini Pak, lomba, sayembara penyusunan buku untuk Gen Z tentang psikologi, tapi bukan Pengantar Ilmu Psikologi. Jangan, nggak ada yang baca," pesan Brian.

"Contohnya, bagaimana sukses karier, gitu-gitu kira-kira bahasanya, menuju kepemimpinan transformatif, kira-kira yang begitu, tapi tidak terlalu berat, yang ringan. Kayak Atomic Habits itu menurut saya ringan ya dia, sehingga semua orang akhirnya baca. Gak hanya orang-orang kelompok tertentu," jelasnya lagi.



(det/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads