Laporan Occupational Outlook Handbook dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menyatakan, lapangan kerja bidang komputer dan teknologi informasi diproyeksi tumbuh jauh lebih cepat daripada rata-rata semua pekerjaan pada 2024 sampai 2034.
Pertumbuhan lapangan kerja dan kebutuhan menggantikan eks karyawan diperkirakan memicu adanya 317.700 lowongan kerja bagi lulusan di bidang tersebut, seperti lulusan jurusan ilmu komputer dan informatika. Tak hanya ada lapangan kerja, gajinya pun sekitar 2 kali lipat daripada upah tahunan rata-rata semua pekerjaan pada Mei 2024.
Namun, hasil riset peneliti UI Muhammad Hanri, Ph D, dan Nia Kurnia Sholihah, M E, dalam Labor Market Brief Volume 7 No 7, Juli 2026 bertajuk "Kajian Perlindungan Sosial dan Tenaga Kerja" membawa kabar lain bagi lulusan jurusan informatika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil penelitian tersebut menunjukkan, bidang studi ilmu komputer atau informatika menyumbang sekitar 4,6 persen pengangguran di Indonesia yang berpendidikan minimal S1.
Angka tersebut didasarkan pada data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025.
Posisi ilmu komputer atau informatika sebagai bidang studi penyumbang lulusan S1 pengangguran antara lain didahului manajemen di peringkat pertama (10,3 persen), lulusan hukum (9 persen), ekonomi (8,7 persen), pendidikan (7,1 persen), akuntansi (5,1 persen).
Kenapa Lulusan Informatika Menganggur?
Peneliti menilai temuan 4,6 persen lulusan informatika menganggur tersebut menarik, lantaran bidang digital kerap dipandang punya prospek kerja kuat.
"Namun, meningkatnya kebutuhan terhadap keterampilan digital tidak berarti semua lulusan langsung terserap. Bidang ini mencakup program yang sangat beragam, sementara kebutuhan industri dapat berubah dengan cepat," tulis peneliti.
Peneliti menjelaskan, beberapa faktor pengaruh masuknya lulusan informatika ke pasar kerja antara lain:
- Perbedaan mutu pendidikan
- Penguasaan keterampilan praktis
- Pengalaman kerja
- Jenis teknologi yang digunakan perusahaan.
Bukan Jurusan dengan Prospek Kerja Buruk
Peneliti menggarisbawahi, data tersebut menunjukkan bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara pengangguran yang berpendidikan minimal S1, bukan tingkat pengangguran per bidang studi. Secara alami, bidang studi yang menghasilkan lebih banyak lulusan lebih berpotensi menyumbang lebih banyak penganggur.
Karena itu, data bidang studi dengan paling banyak pengangguran berpendidikan minimal S1 belum dapat digunakan untuk menyatakan jurusan manajemen hingga informatika memiliki prospek kerja paling buruk.
"Untuk mengukur risiko pengangguran menurut bidang studi, jumlah penganggur pada setiap bidang perlu dibandingkan dengan seluruh angkatan kerja lulusan bidang yang sama," tulis peneliti.
Dijelaskan peneliti, brief ini salah salah satunya merespons rencana pendirian universitas baru melalui Universitas Republik Indonesia (URI). Menurut peneliti, argumen adanya universitas baru dapat lebih mudah diterima jika mengisi kesenjangan akses yang nyata, menawarkan bidang yang benar-benar dibutuhkan, mempunyai standar mutu yang kuat, serta terhubung dengan strategi pengembangan ekonomi dan penciptaan pekerjaan.
"Dalam situasi pasar kerja saat ini, memperkuat mutu perguruan tinggi yang ada, memperbaiki hubungan dengan dunia kerja, dan menciptakan lebih banyak pekerjaan berketerampilan tinggi setidaknya sama pentingnya dengan mendirikan universitas baru," tulis peneliti.










































