Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto ungkap profesinya menjadi menteri kerap mendatangkan stres. Ia bergurau lebih enak menjadi dosen dibandingkan menteri.
"Saya juga lumayan stres juga gitu ya. Jadi, menteri itu ternyata stres Bapak-Ibu sekalian. Jadi, jangan pernah mimpi, enak jadi dosen," tutur Brian dalam acara Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), di Hotel Artotel Gelora Senayan, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Brian mengaku sejak menjadi menteri ia terus melihat masalah baru setiap paginya. Ia sempat mempertanyakan kapan masalah ini akan berhenti, tetapi kembali menyadari posisinya sebagai Mendiktisaintek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap pagi, bangun pagi, melihat handphone itu masalahnya baru terus. Kapan ini selesai masalah? Ya, ternyata jadi menteri begitu Bapak-Ibu sekalian," sebutnya.
Cemas Melihat WhatsApp
Lebih lanjut, Brian membeberkan hasil screening program Cek Kesehatan Gratis periode 2025-2026 dari Kementerian Kesehatan. Dijelaskannya, dari 7 juta anak Indonesia yang mengikuti screening, 10 persen di antaranya mengindikasikan masalah kesehatan jiwa.
Dari angka tersebut, sekitar 4,4 persen menunjukkan gejala kecemasan. Brian mengaku juga khawatir jika sewaktu-waktu mengikuti tes psikologi dan hasilnya menunjukkan ia mengalami kecemasan.
"Saya khawatir, saya kalau dites juga, kayaknya masuk ini kecemasan. Cemas melihat WhatsApp.Takut di-bully, takut diprotes sama dosen-dosen," ungkap Brian.
Melihat hal tersebut, Brian menyatakan sepertinya dia perlu berkomunikasi dengan para psikolog. Dengan begitu, rasa stres yang ia rasakan bisa berkurangan.
"Mungkin saya perlu ngobrol nih dengan para psikolog yang jago-jago. Supaya release the stress," imbuhnya.
Seminar Nasional Pendidikan Tinggi Psikologi
Sebagai informasi, Seminar Nasional diselenggarakan Fakultas Psikologi UI bersama Asosiasi Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Seminar ini bertema "Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat".
Seminar ini menargetkan tiga hasil, yakni menguatnya pemahaman bersama mengenai kompetensi psikolog sebagai tenaga kesehatan di layanan primer.
Lebih lanjut, seminar ini diharapkan turut membangun kesepahaman bahwa penyelenggaraan pendidikan psikologi tetap terintegrasi dalam ekosistem pendidikan tinggi psikologi, sesuai dengan amanat undang-undang.
Seminar nasional FPsi UI, P2TPI, dan HIPMSI ini juga direncanakan untuk memetakan agenda bersama harmonisasi standar pendidikan, standar kompetensi, dan standar layanan profesi psikologi.










































