Banyak Kampus Hancur, UGM Siap Terima Calon Mahasiswa Asal Gaza

Banyak Kampus Hancur, UGM Siap Terima Calon Mahasiswa Asal Gaza

Cicin Yulianti - detikEdu
Senin, 09 Mar 2026 06:00 WIB
Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, perguruan tinggi negeri di Jogja
UGM. Foto: Lusia Komala Widiastuti/Wikimedia Commons/CC0
Jakarta -

Serangan militer Israel hingga kini terus menghancurkan bangunan-bangunan di Gaza, Palestina. Termasuk juga kampus-kampus besar seperti Al-Azhar University Gaza.

Melihat keprihatinan pelajar-pelajar di Gaza tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkomitmen untuk membuka peluang bagi calon mahasiswa asal Gaza untuk menempuh pendidikan di kampus asal Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.

Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof dr Yodi Mahendradhata, M Sc, Ph D, FRSPH menyebut saat ini sudah ada delapan mahasiswa asal Gaza yang mengikuti proses masuk UGM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu dari mahasiswa tersebut bernama Dina, mahasiswa kedokteran asal Al-Azhar University Gaza yang terpaksa terhenti pada 2023, sebab kampusnya menjadi sasaran bom hingga hancur lebur," katanya dikutip dari laman UGM, Sabtu (7/3/2026).

ADVERTISEMENT

UGM Ingin Bangkitkan Pendidikan Kedokteran di Gaza

Yodi mengatakan, UGM ingin membangkitkan kembali pendidikan kedokteran dan kesehatan di Gaza. Dengan begitu, UGM menyediakan ruang belajar yang aman bagi calon-calon dokter asal Gaza ini.

"Cerita Dina dan teman-temannya tersebut merupakan satu sekian banyak catatan yang mewarnai fakultas ini dalam mencerdaskan dan memajukan kesehatan bangsa dan dunia," ungkapnya.

UGM Fasilitasi Pelajar dari Daerah 3T

Selain fokus pada mahasiswa asal Gaza, Yodi juga menyampaikan bahwa UGM juga menyediakan fasilitas pendidikan bagi mahasiswa dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Yodi kemudian menceritakan seorang lulusan UGM asal Papua yang inspiratif. Ia adalah dr Merlins Renatasia Waromi, Sp MK.

Merlins adalah lulusan tercepat pada jenjang pendidikan dokter spesialis. Ia hanya menempuh pendidikan dalam 3 tahun 6 bulan 12 hari.

Kisah Merlins menjadi dorongan bagi UGM untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi calon mahasiswa asal wilayah 3T.

"Alhamdulillah bulan lalu, kita turut menorehkan sejarah, saat FK Uncen meluncurkan PPDS pertama di tanah Papua, PPDS anestesi," jelas Yodi.

Hal tersebut seraya dengan upaya FK UGM dalam mencetak jumlah lulusan yang lebih banyak. Data terakhir menunjukan bahwa FK UGM telah melahirkan 8,1% guru besar.




(cyu/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads