Banyak orang menganggap belajar kecerdasan buatan (AI) hanya soal mengoperasikan layanan seperti ChatGPT atau Grok. Padahal, pemahaman AI jauh melampaui sekadar penggunaan alat.
Hal ini diungkap Kepala Program Studi Kecerdasan Artifisial Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI), Adila Krisnadhi. Seperti diketahui, UI akan membuka Prodi Kecerdasan Artifisial mulai Tahun Akademik 2026/2027.
Adila mengungkapkan Prodi AI di UI mengajarkan memahami, membangun, dan mengembangkan sistem AI dari awal. Ia menjelaskan prodi ini dirancang agar mahasiswa tak hanya memahami cara menggunakan AI, tetapi juga memahami cara merancang sistemnya.
Belajar Lebih dari Sekadar Prompt
Adila menjelaskan di Prodi AI UI menekankan kemampuan membangun kecerdasan buatan dari dasar, bukan hanya mengoperasikan alatnya.
"Prodi AI bukan semata-mata belajar nge-prompt gitu, itu yang mungkin perlu dipahami ya. Prodi AI itu belajar bikin model AI-nya, kemudian bikin solusi yang bisa di-deploy gitu," ujarnya, dalam wawancara bersama tim detikEdu, Jumat (6/2/2026).
Pendekatan ini membuat mahasiswa terbiasa berpikir komputasional dan sistematis. Mereka dapat memahami bagaimana sebuah model bekerja sekaligus bagaimana mengoptimalkannya agar bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah nyata di berbagai sektor industri.
Mahasiswa Diajarkan Membangun Sistem AI dari Awal
Kurikulum Prodi AI UI disusun agar mahasiswa menguasai seluruh rantai pengembangan sistem cerdas secara menyeluruh. Mahasiswa diajarkan mengenai pemodelan sistem dan pembuatan sistem.
"Jadi kita ingin lulusan prodi AI itu secara umum menguasai aspek pemodelan AI-nya dan rekayasa sistemnya. Jadi nggak sekadar bisa bikin model, tapi juga bisa bikin sistem," katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kemampuan lulusan AI UI mencakup pemahaman dari analisis hingga penerapan sistem.
"Jadi beneran mereka nggak sekadar bisa bikin model aja gitu, mereka bisa deploy, bisa membungkusnya menjadi produk gitu. Jadi end-to-end. Dari sisi skill-nya ya dari analisisnya, kemudian modeling-nya, kemudian sistem development-nya, lalu dia juga bisa melakukan asesmen dan evaluasi terhadap AI system. Itu skill utamanya ya, jadi end-to-end gitu," ujar Adila.
Melalui kurikulum yang sudah dibuat, mahasiswa dibekali kemampuan untuk merancang solusi berbasis kecerdasan buatan yang fungsional dan siap digunakan di dunia nyata.
Fasilkom UI menargetkan lulusan prodi ini mampu menjadi pengembang AI yang memahami seluruh proses, dari ide hingga implementasi sistem.