Tarik Mahasiswa Asing, Pemerintah Korsel Mulai Data Prodi Berbahasa Inggris

ADVERTISEMENT

Tarik Mahasiswa Asing, Pemerintah Korsel Mulai Data Prodi Berbahasa Inggris

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Sabtu, 24 Jan 2026 19:00 WIB
Tarik Mahasiswa Asing, Pemerintah Korsel Mulai Data Prodi Berbahasa Inggris
Hanyang University salah satu kampus di Korea Selatan Foto: Lena Ellitan/d'Traveler
Jakarta -

Mulai tahun ini, Kementerian Pendidikan Korea Selatan (Korsel) untuk pertama kalinya akan mendata mata kuliah berbahasa Inggris di kampus secara nasional. Upaya itu dilakukan untuk menarik mahasiswa internasional.

Kementerian Pendidikan Korsel menyebut data tersebut akan menjadi referensi penting bagi calon mahasiswa internasional. Saat ini, Korsel tidak hanya menarik mahasiswa program sarjana (S1), tetapi juga peserta pertukaran budaya serta mahasiswa tamu jangka pendek dari berbagai negara.

Data tersebut rencananya akan diumumkan secara tahunan dan dinilai dapat menjadi indikator arah kebijakan pemerintah yang kian menekankan penguatan perkuliahan berbahasa Inggris di lingkungan perguruan tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara umum, perguruan tinggi di Korsel memahami latar belakang kebijakan ini. Penurunan populasi usia sekolah, ditambah dorongan pemerintah untuk memperkuat kampus daerah melalui perekrutan mahasiswa internasional, membuat peningkatan mata kuliah berbahasa Inggris dinilai tak terelakkan. Meski demikian, sejumlah kampus mengingatkan agar kebijakan tersebut diterapkan secara hati-hati.

ADVERTISEMENT

"Memperluas kuliah berbahasa Inggris memang menjadi arah dasar saat universitas fokus menarik mahasiswa internasional. Tapi format kuliahnya sangat beragam, sehingga sulit menerapkan standar tunggal untuk keterbukaan data," ujar seorang pejabat kampus negeri yang enggan disebutkan namanya dalam laporan eksklusif The Korea Times yang dikutip detikedu, Sabtu (24/1/2026).

Ditambahkan, salah satu pejabat dari kampus swasta di Seoul menyebut jumlah mata kuliah berbahasa Inggris sempat melonjak di banyak kampus. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, angkanya justru stagnan atau bahkan menurun di sejumlah institusi.

"Ada diskusi di kalangan akademisi apakah sekadar menambah jumlah mata kuliah berbahasa Inggris benar-benar bermakna," katanya.

Perluasan perkuliahan berbahasa Inggris di Korsel mulai dipercepat sejak pertengahan 2000-an. Salah satu momentum penting terjadi pada 2007, ketika Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) mengumumkan seluruh program studinya akan menggunakan bahasa Inggris.

Kebijakan ini juga sejalan dengan agenda internasionalisasi pendidikan tinggi serta upaya meningkatkan posisi universitas Korea dalam pemeringkatan global.

Namun, seiring ekspansi tersebut, muncul kekhawatiran terkait kesiapan dosen dalam mengajar menggunakan bahasa Inggris. Kondisi ini memicu pertanyaan tentang potensi penurunan kualitas perkuliahan.

"Saat ini, banyak mahasiswa internasional justru mengikuti kuliah berbahasa Korea dan mengandalkan alat terjemahan atau kecerdasan buatan (Al) untuk memahami materi," ujar seorang pejabat kampus.

Kekhawatiran serupa disampaikan Lim Woo-young, profesor ekonomi di Hong Kong University of Science and Technology. Menurutnya, ekspansi mata kuliah berbahasa Inggris yang didorong tuntutan internasionalisasi berpotensi menimbulkan dampak yang sebenarnya dapat diprediksi.

"Bahkan dosen yang menghabiskan lima hingga tujuh tahun menempuh studi doktoral (S3) di negara berbahasa Inggris kerap kesulitan menyiapkan dan menyampaikan kuliah dalam bahasa Inggris tanpa pengalaman mengajar sebelumnya," ujarnya.

la menambahkan, penilaian yang sistematis perlu dilakukan sebelum kebijakan perluasan diterapkan lebih jauh.

"Evaluasi mengenai berapa banyak pengajar yang mampu menyampaikan mata kuliah berbahasa Inggris dengan kualitas yang dapat diterima, dibandingkan dengan perkuliahan berbahasa Korea, harus dilakukan sebelum sinyal kebijakan apa pun untuk memperluas penawaran tersebut," katanya.

Hingga kini, belum ada permintaan data resmi yang dikirimkan kepada universitas. Sejumlah kampus masih membahas isu ini secara internal.

Kementerian Pendidikan Korsel memastikan data tersebut akan tetap dikumpulkan, meski belum memutuskan apakah hasilnya akan diumumkan melalui portal resmi informasi universitas pada Agustus mendatang atau dirilis di waktu lain.

Meski demikian, seorang pejabat kementerian pendidikan Korsel menyebut pengungkapan jumlah mata kuliah berbahasa Inggris kemungkinan tidak akan menimbulkan persoalan besar dan berpeluang dipublikasikan.

Data tersebut hanya akan mencakup mata kuliah yang diajarkan dalam bahasa Inggris dan tidak termasuk perkuliahan dalam bahasa asing lainnya.




(crt/pal)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads