Menempuh pendidikan tinggi minimal hingga sarjana atau S1 banyak dilakukan orang dengan harapan dapat pekerjaan lebih layak setelah lulus. Begitu juga dengan gaji, mereka menganggap gaji lulusan S1 dapat lebih tinggi.
Namun, hasil statistik dari Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Sensus Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025 menunjukkan fakta yang mengejutkan. Data survei tersebut mendapati banyaknya masyarakat yang memiliki gaji di bawah standar upah minimum kota/kabupaten (UMK).
Sebanyak 38,9 juta orang melaporkan upah mereka di bawah UMK. Survei juga membuktikan pola tersebut turut diipengaruhi oleh tingkat pendidikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persentase Pekerja Bergaji di Bawah UMK Sesuai Pendidikan
Data Kemnaker dan Sakernas pada Februari 2025 menunjukkan banyaknya masyarakat yang diupah di bawah UMK berasal dari jenjang-jenjang berikut:
- Tidak tamat SD: 9,61%
- SD/sederajat: 21,67%
- SMP/sederajat: 17,33%
- SMA: 22,03%
- SMK: 15,22%
- MAK: 0,08%
- D1/D2/D3: 2,53%
- D4: 0,35%
- S1: 10,81%
- S2: 0,35%
Lebih dari 4 Juta Lulusan S1 Bergaji di Bawah UMK
Temuan mengejutkan dari data di atas menunjukkan sebanyak 10,81% atau lebih dari 4 juta lulusan S1 masih memiliki gaji di bawah UMK. Angka tersebut menunjukkan pendidikan tinggi tak sepenuhnya menjamin upah setara atau di atas UMK.
Data ini bisa dikatakan sesuai dengan narasi yang ramai muncul, yang menyebut lulusan perguruan tinggi yang bekerja di bawah kualifikasi, memasuki pekerjaan entry level dengan upah rendah atau bekerja di sektor informal/semiformal. Kedua sektor ini tidak sepenuhnya emmenuhi ketentuan upah minimum.
Jika dibandingkan dengan S2, jumlahnya cukup jomplang. Hanya sedikit lulusan S2 yang mengaku memiliki gaji di bawah UMK.
Baca juga: Freshgrad Simak! Ini Formula Baru UMP 2026 |
Lulusan SMA Paling Banyak Digaji Kurang dari UMK
Para pekerja dengan pendidikan tingkat menengah dan dasar mendominasi pekerja dengan upah di bawah UMK. Sebanyak 8 juta orang berupah di bawah UMK berasal dari lulusan SD/sederajat.
Kemudian, lebih dari 8 juta orang merupakan lulusan SMA (paling mendominasi) serta diikuti dengan lulusan SMP dan SMK yang punya jumlah signifikan juga.
Adapun jumlah lulusan SMK yang bergaji di bawah UMK ada sebanyak 5,9 juta orang. Jika dibandingkan dengan lulusan SMA, artinya lebih rendah.
Justru, lulusan MAK yang kerap disebut sulit dalam penyerapan tenaga kerja, lebih banyak yang memiliki gaji yang cukup. Lulusan MAK kemungkinan besar terserap di segmen pekerjaan tertentu seperti formal atau pekerjaan berbasis komunitas.
(cyu/nah)











































