Liverpool University Hidupkan Kembali Program Magister The Beatles

ADVERTISEMENT

Liverpool University Hidupkan Kembali Program Magister The Beatles

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Jumat, 29 Agu 2025 06:30 WIB
The Beatles di Abbey Road: Siapa orang Skotlandia yang mengambil foto mereka menyeberang jalan?
Foto ikonik The Beatles di Abbey Road Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Dunia pendidikan kembali menyoroti The Beatles, bukan hanya sebagai ikon musik, tetapi juga sebagai fenomena budaya global. Seperti ditunjukkan Liverpool University, Inggris yang akan kembali membuka program magister The Beatles, Heritage and Culture dalam format daring paruh waktu.

Program ini dijadwalkan mulai berjalan pada September 2026. Namun, pendaftaran sudah mulai dibuka setahun sebelumnya pada Oktober 2025 mendatang. Program ini akan mengkaji jejak budaya, sejarah, dan dampak ekonomi The Beatles, baik bagi kota Liverpool maupun kawasan sekitarnya.

"Program ini memungkinkan orang dari seluruh dunia mempelajari lingkungan unik Liverpool, sejarah, dan warisan The Beatles, langsung dari akademisi maupun praktisi yang terlibat di bidang ini," ujar Dr Holly Tessler, Direktur Program, seperti dikutip dari BBC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain pembelajaran daring, mahasiswa juga ditawarkan modul opsional berupa kunjungan selama dua pekan ke Liverpool. Selama berada di kota kelahiran The Fab Four, mereka akan mengikuti kuliah harian sekaligus mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah yang erat kaitannya dengan perjalanan musik dan kebudayaan The Beatles.

ADVERTISEMENT

The Beatles sebagai Identitas Kota Liverpool

The Beatles dikenal sebagai grup pop paling sukses sepanjang sejarah, dengan popularitas yang bertahan lebih dari enam dekade. Namun, warisan mereka jauh melampaui musik.

Kota Liverpool menjadikan The Beatles sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi. Dikutip dari laman Liverpool University, wisata bertema The Beatles diperkirakan menyumbang sekitar Β£82 juta (Rp 1,809 triliun) per tahun bagi perekonomian lokal.

Meski demikian, konsep Beatles heritage bukan semata objek wisata. Topik ini juga mencakup isu institusionalisasi, konservasi sejarah, hingga perencanaan kota. Upaya Liverpool menegaskan keterkaitannya dengan grup musik paling terkenal di dunia turut membentuk infrastruktur kota, desain perkotaan, bahkan penawaran budaya yang lebih luas.

Program magister ini dirancang untuk menantang kerangka berpikir tradisional tentang The Beatles. Mahasiswa diajak mengkritisi bagaimana warisan band ini memengaruhi regenerasi perkotaan, industri pariwisata, seni kreatif, hingga strategi pembangunan budaya. Para pengajar berasal dari Beatles Legacy Group di Liverpool serta praktisi industri yang terlibat langsung dalam pengelolaan sektor ini.

Lulusan 'Program' The Beatles

Steve Bradley, lulusan program tersebut pada 2023, mengaku ada dua alasan yang mendorongnya mendaftar. "Saya ingin melihat kisah mereka dengan cara berbeda, setelah bertahun-tahun menjadi penggemar," ujarnya.

Bradley yang kala itu berusia 50-an, bekerja sebagai manajer operasional di sebuah firma hukum sambil menempuh studi magister. "Saya tidak masuk universitas ketika muda. Jadi ini lebih kepada memberi diri saya tantangan baru, apakah saya bisa menempuh studi magister," katanya.

Namun ia menekankan bahwa program ini bukanlah tempat untuk sekadar mengulang kisah The Beatles. "Bukan sekadar belajar cerita mereka, melainkan membedah kisah itu, mengapa bisa terjadi, di mana, bagaimana, dan faktor apa yang memicunya," tuturnya.




(pal/faz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads