Bu Cinta Jadi Doktor Komunikasi, Lulus dengan Predikat Cumlaude

Bu Cinta Jadi Doktor Komunikasi, Lulus dengan Predikat Cumlaude

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 10 Okt 2022 20:00 WIB
Promosi Doktor Atalia Praratya di Unpad
Foto: Doc. Unpad/Atalia Praratya
Jakarta -

Atalia Praratya alias Bu Cinta, istri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berhasil lulus Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan yudisium Cumlaude. Sidang promosi Doktor Atalia dipimpin Rektor Unpad Prof. Rina Indiastuti pada Senin (10/10/2022).

Pada sidang promosi doktor tersebut, Atalia mempertahankan disertasinya berjudul "Pengaruh Pengembangan Program Komunikasi Instruksional Sekolah Nonformal 'Sekoper Cinta' Terhadap Perilaku Peserta Didik di Provinsi Jawa Barat".


Teliti Komunikasi Instruksional

Berdasarkan penelitiannya, Atalia menemukan bahwa rancangan dan implementasi komunikasi instruksional "Sekoper Cinta" berpengaruh signifikan terhadap perilaku peserta didik.

Atalia juga mengungkapkan bahwa perbedaan karakteristik individu, seperti tingkat pendidikan, usia, status perkawinan, dan etnis budaya tidak berkontribusi signifikan pada pengaruh rancangan dan implementasi komunikasi instruksional terhadap perilaku peserta didik.

"Dengan demikian program komunikasi instruksional sekolah nonformal 'Sekoper Cinta' dapat diaplikasikan secara efektif pada berbagai karakteristik peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, tingkat usia, status perkawinan, dan latar belakang budaya di Jawa Barat," kata Atalia dikutip dari laman resmi Unpad, Senin (10/10/2022).

Gunakan Studi Eksplanatori

Penelitian tersebut dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi eksplanatori. Studi ini menjelaskan hubungan sebab-akibat yang terjadi antara variabel-variabel yang ada dengan melakukan pengujian hipotesis.

Dalam studi Atalia, populasi penelitiannya adalah seluruh peserta didik "Sekoper Cinta" tahun 2019 sebanyak 2.700 orang dengan ukuran sampel 270 orang yang diambil menggunakan teknik sampling acak sederhana.

"Pengumpulan data dilakukan di akhir tahun 2020 lalu di lokasi P2WKSS di 27 desa dan kelurahan di 27 kota kabupaten di Jawa Barat," ungkap Atalia yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Sekoper Cinta.

Saat pemaparan, Atalia juga mengatakan bahwa berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pendidikan berperan penting dalam memberdayakan perempuan.

Hal inilah yang mendorongnya untuk lebih jauh meneliti upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan perempuan di Jawa Barat.

"Berkaitan dengan hal tersebut, proses perpindahan pengetahuan dan keterampilan ini tentunya tidak terlepas dari proses komunikasi," ujar Atalia.

Lebih lanjut Atalia mengatakan bahwa proses pendidikan bisa berjalan melalui komunikasi. Dalam hal ini, komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi instruksional.

Mengkaji Sekolah Nonformal Pertama di Indonesia

Penelitian Atalia ini berfokus pada "Sekoper Cinta" yang merupakan program Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat.

Program ini bekerja sama dengan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dengan harapan membawa perubahan perilaku perempuan sehingga berdaya, mandiri, dan berketahanan.

Atalia mengungkapkan, program yang dilaksanakan sejak tahun 2019 ini adalah sekolah nonformal perempuan pertama di Indonesia yang diselenggarakan di level pemerintah provinsi yang dilaksanakan serentak di 27 kota/kabupaten di Jabar.

"Sebagai program baru, tentu pemerintah berharap kebermanfaatan program ini betul-betul bisa dirasakan dan bisa menjadi program yang berkelanjutan," tuturnya.

"Karenanya menjadi penting untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengembangan progam komunikasi instruksional sekolah nonformal 'Sekoper Cinta' terhadap perubahan perilaku peserta didik di provinsi Jawa Barat," imbuh Atalia.


Sebagai informasi, dalam Sidang Doktor tersebut, Dekan Fikom Unpad Dr. Dadang Rahmat Hidayat bertindak sebagai Sekretaris Sidang.

Adapun tim promotor terdiri dari Dr. Susanne Dida, M.M., (ketua), Dr. Dadang Sugiana, M.Si., dan Dr. Purwanti Hadisiwi, M.Si.

Sementara tim penelaah terdiri dari Prof. Dr. Engkus Kuswarno, M.S., Dr. Tine Silvana Rachmawati, M.Si., dan Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si.

Sidang Doktor Atalia juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga, Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil, serta sejumlah pimpinan daerah dan rektor perguruan tinggi.

(faz/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia