29 Ilmuwan Internasional Jadi Mentor Peneliti Muda, Ada Guru Besar UGM

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 16 Agu 2022 13:45 WIB
Abstract luminous DNA molecule. Doctor using tablet and check with analysis chromosome DNA genetic of human on virtual interface. Medicine. Medical science and biotechnology.
Foto: Getty Images/iStockphoto/ipopba/Ilustrasi Ilmuwan
Jakarta -

Kegiatan Science Leadership Collaborative melibatkan 29 ilmuwan internasional dari berbagai bidang studi dan kepakaran dalam program mentoring. Para ilmuwan akan mementori peneliti muda Indonesia selama sembilan bulan ke depan.

Program ini diberikan dalam rangka mendukung peneliti Indonesia menjadi pemimpin sains kelas dunia di masa yang akan datang, termasuk untuk Indonesia Emas 2045.

Sederet ilmuwan internasional yang menjadi mentor berasal dari berbagai negara mulai Amerika Serikat, Inggris, Skotlandia, Australia, Jerman, dan Indonesia.


Guru Besar UGM Wakili Indonesia

Salah satu perwakilan ilmuwan Indonesia adalah Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) yakni Prof. Agus Pramusinto.

Melansir laman resmi UGM (16/8), Prof. Agus Pramusinto adalah dosen Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM.

Riset-riset yang telah ia lakukan banyak berkontribusi di bidang desentralisasi, pemerintahan lokal, serta reformasi dan inovasi sektor publik di Indonesia.

Saat ini, Prof. Agus juga menjabat sebagai ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dan Ketua Asosiasi Ilmu Administrasi Negara/Publik Indonesia.

Merespons hal ini, Agus Pramusinto mengaku senang diberikan kesempatan untuk menjadi mentor bersama ilmuwan internasional lainnya dari negara lain.

Menurutnya ini adalah kesempatan untuk berbagi pengalaman dan memotivasi peneliti muda Indonesia agar bisa berkiprah di tingkat global.

"Bagi saya, hal ini sebagai ajang sharing pengalaman dan juga wahana belajar dari ilmuwan lain. Mudah-mudahan pengalaman saya yang sedikit sebagai peneliti di bidang administrasi publik di Fisipol Universitas Gadjah Mada, sebagai praktisi di bidang sumber daya manusia birokrasi di Komisi Aparatur Sipil Negara dan sebagai ketua Indonesian Association for Public Administration, bisa saya bagikan buat ilmuwan muda yang lain," ungkapnya.

Pesan untuk Peneliti Muda Indonesia

Dalam kesempatan ini Agus juga berpesan kepada peneliti muda Indonesia, untuk memiliki semangat dan konsistensi dalam bidang ilmu yang mereka geluti.

Selain itu, peneliti muda juga tidak boleh mudah berputus asa dalam mempublikasikan tulisan hasil riset mereka masing-masing di berbagai jurnal internasional.

"Kita harus memiliki passion di bidang yang kita geluti. Kita harus mencintai bidang yang menjadi denyut nadi hidup kita sehari-hari. Dalam dunia penulisan, kita harus tahan banting ketika tulisan kita dikembalikan untuk diperbaiki," tegasnya.

"Masih banyak peneliti kita yang merasa bahwa sekali menulis harus langsung publikasi. Ketika diminta memperbaikinya, banyak yang menyerah dan tidak mau melanjutkan untuk memperbaiki dan mempublikasikan," imbuhnya.

Meski demikian, Agus juga menekankan bahwa peneliti muda Indonesia perlu mementingkan sebuah kolaborasi dalam memecahkan persoalan sosial di masyarakat.

"Riset multidisiplin sangat diperlukan dan harus didorong terus-menerus. Karya publikasi harus diikuti dengan perubahan sistem penilaian yang tidak hanya menekankan linearitas seperti sekarang ini," tutur Guru Besar UGM tersebut.



Simak Video "Kisah Ilmuwan yang Celaka Karena Temuannya Sendiri "
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia