ITS Rancang Gerakan Inovasi Seribu Tangan Palsu untuk Sahabat Difabel

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Kamis, 23 Jun 2022 16:30 WIB
Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS membuat gerakan seribu tangan palsu.
Gerakan seribu tangan palsu. Foto: ITS
Jakarta -

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali memamerkan karya inovatifnya melalui Gerakan Seribu Tangan Palsu yang diinisiasi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) Prioritas ITS. Gerakan ini merupakan sebuah ikhtiar yang diprakarsai bersama-sama oleh dosen ITS dengan memperhatikan perkembangan inovasi khusus difabel.

15 persen dari populasi dunia, sebanyak 3,8 persen orang berusia 15 tahun ke atas mengalami kesulitan yang signifikan dalam beraktivitas. Sehingga seringkali membutuhkan pelayanan perawatan kesehatan.

Ketua Pelaksana Abmas Prioritas ITS, Djoko Kuswanto ST., MBiotech., memaparkan terdapat lima kategori disabilitas di Indonesia, yaitu:

1. Disabilitas fisik
2. Disabilitas intelektual
3. Disabilitas mental
4. Disabilitas sensorik
5. Disabilitas multiple

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, penyandang disabilitas di Indonesia mencapai hingga 22,5 juta atau sekitar 8 persen.

"Dari permasalahan ini yang jadi tolak ukur utama dalam pengembangan inovasi, sekaligus menyelesaikan permasalahan Sustainable Development Goals (SDGs)," ujar Djoko sebagaimana dilansir dari laman resmi ITS, Rabu (22/6).

Pengembangan dalam karya Abmas ini dilakukan sesuai dengan kemampuan para sivitas akademika dan masyarakat umum, mulai dari memberi donasi, membantu mencetak dengan printer 3D, menginfokan keberadaan para sahabat difabel, membantu proses dokumentasi, dan lain sebagainya.

Gerakan Seribu Tangan Palsu ini disesuaikan agar berbasis teknologi printer 3D model prostetik tangan open source karya laboratorium Integrated Digital Design (iDIG) Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS.

Selain itu, telah disiapkan juga dukungan Asosiasi Printer Tridimensi Indonesia dengan model prostetik yang akan terus bertambah dan di update secara berkala.

"Pegiat 3D dan printer 3D di banyak tempat di seluruh Indonesia, bisa berperan membantu mencetak dengan printer 3D untuk sahabat difabel di sekitarnya," papar Djoko.

Ia berharap Gerakan Seribu Tangan Palsu mampu mencapai target SDGs dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Salah satunya dengan cara melibatkan bengkel prostetik atau ortotik di lokasi terdekat sahabat difabel untuk dapat prosedur terapi dan bentuk socket yang aman serta nyaman digunakan.

Kegiatan ini juga memberikan pelatihan gratis dengan mengajukan permohonan workshop melalui wadah SMA/SMK/madrasah ataupun pesantren. Di akhir, Djoko menambahkan saat ini belum terlalu siap untuk memproduksi secara massal.

"Pengembangan ini juga diharapkan tidak hanya menjadi hilirisasi produk yang hanya bertumpu pada pengembangan keilmuan masing-masing peneliti," papar dosen Despro ITS tersebut.



Simak Video "4 Teknologi yang Mencoba "Melawan" Kuasa Tuhan "
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia