Bappenas: Lulusan PTKIN Jangan Hanya Kerja di Lingkup Keislaman Saja

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Kamis, 10 Mar 2022 15:30 WIB
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, salah satu PTKIN di Indonesia. Bappenas meminta lulusan PTKIN agar tidak hanya bekerja di lingkup keislaman saja. (dok. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Jakarta -

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melalui Direktur Pendidikan Tinggi dan IPTEK Tatang Muttaqin meminta agar lulusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tidak hanya terjun ke dalam lingkup kerja keislaman saja. Utamanya, mereka diharapkan dapat beradaptasi di era digital.

"Evaluasi internal PTKI harus dilakukan, untuk mengukur tingkat keterserapan dan kesejahteraan lulusan lalu kemudian didorong lulusannya tidak hanya terbatas pada dunia kerja keislamanan saja, tetapi harus adaptif pada kebutuhan industri 4,0 dan era digital," kata Tatang melalui keterangan tertulisnya kepada wartawan, Kamis (10/3/2022).

Sebab, pria lulusan S3 Sosiologi di University of Gronigen ini menyebut, alumnus para pendidikan tinggi agama masih belum sepenuhnya ideal. Belum lagi pendapatan yang dicapai mereka terkadang masih lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan lulusan di bidang ilmu sains.

Padahal, kata Tatang, kualitas lulusan PTKIN sudah dapat bekerja dengan baik. Kualitas ini bahkan mampu bersaing dengan para lulusan dari perguruan tinggi umum lainnya.

Melalui Rapat Kerja (Raker) Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) yang dihadirinya pada Selasa (8/3/2022) ini, Tatang juga mengapresiasi pertumbuhan yang pesat bagi PTKIN dari sisi akreditasi hingga riset internasional.

Menurut Tatang, sebagian besar PTKIN sudah berhasil meningkatkan mutu penelitian, kualitas publikasi, dan percepatan akreditasi kampus. Hingga saat ini, kampus yang memiliki produktivitas riset yang baik diantaranya ada UIN Jakarta, UIN Bandung, UIN Riau, UIN Yogyakarta, UIN Malang, dan UIN Makassar.

"Ada percepatan-percepatan yang dilakukan (PTKIN), ini patut disyukuri dan kita dorong agar terus meningkatkan akreditasinya. Saya harap secara bertahap UIN-UIN atau IAIN yang lain, juga menunjukkan keunikannya, diferensiasi yang menonjol," terang dia.

Untuk mempertahankan potensi dan prestasi yang diraih PTKIN inilah, Tatang kemudian meminta para rektor PTKIN agar mulai mendorong para wakil mereka di bidang kemahasiswaan. Terutama dalam hal merutinkan pengelolaan, pengontrolan, dan penginventarisan lulusan kampus agar memiliki jejaring alumni yang terbina dengan baik.

Tatang juga mendorong pihak PTKI untuk melakukan koordinasi bersama dalam hal mengembangkan kerangka besar risetnya. "Kemudian mampu mengidentifikasi potensi-potensi kontribusi riset PTKI ini untuk bidang keilmuan umum dan terapan," jelasnya.

Untuk segi akreditasi, Tatang berharap, PTKI memperkuat akreditasi internasional secara bertahap. Sekaligus memperbaiki kualitas layanan pendidikan sehingga memungkinkan mahasiswa luar negeri ikut berpartisipasi menempuh studi di Indonesia.

Tidak hanya masukan untuk pihak PTKIN, Tatang juga meminta Kementerian Agama (Kemenag) untuk memaksimalkan anggaran sebesar Rp 66,45 triliun serta belanja operasional yang mencapai Rp 34,16 triliun dalam hal pengembangan PTKI.

Terutama dalam hal tata kelola PTKI dan penjaminan mutu yang nantinya dihubungkan dengan pemangku kepentingan eksternal. Sebaliknya dari segi pendanaan, Tatang meminta Kemenag untuk meninjau kembali aspek skema kompetisi bagi PTKI serta pengadaan afirmasi bagi daerah-daerah yang minim akses.



Simak Video "Kuota Hanya 50 Persen, Kemenag Sortir Jemaah Haji 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia