Harvard Dorong Mahasiswa Barunya buat Gap Year, Kok Gitu?

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 04 Feb 2022 14:30 WIB
Harvard University / Universitas
Kampus Harvard yang mendorong mahasiswa baru untuk ambil gap year. (Dok. Harvard University)
Jakarta -

Panitia penerimaan mahasiswa di Universitas Harvard justru mendorong para mahasiswa yang baru diterima untuk melakukan gap year atau mengambil jeda antara bangku SMA dan perkuliahan. Jadi, mahasiswanya boleh untuk tidak langsung masuk kuliah setelah dinyatakan diterima, melainkan mengambil jeda satu tahun.

"Kami mendorong mahasiswa yang diterima agar menunda masuk kampus selama satu tahun untuk bepergian, membuat proyek atau melakukan kegiatan tertentu, bekerja, dan menghabiskan waktu dengan cara lain yang bermanfaat, asal tidak mendaftar ke program bergelar di perguruan tinggi lainnya," tulis laman Harvard College Admissions & Financial Aid dan dikutip Jumat (4/2/2022).

Mahasiswa yang diterima di Harvard pada jalur Early Action dan Regular Decision bisa memilih gap year dengan klik pilihan 'I defer' pada formulir balasan mahasiswa barunya.

Setiap tahunnya, menurut laman tersebut, ada 90 sampai 130 mahasiswa yang menunda masuk kuliah. Setelah kembali dari gap year, para mahasiswa baru tersebut menunjukkan laporan positif berdasarkan pengalaman yang mereka jalani selama setahun.

Mahasiswa Harvard juga memiliki Harvard Gap Year Society yang ditujukan untuk mendukung siswa gap year dan mengampanyekan manfaat menunda satu tahun. Salah satu tujuan Harvard menerapkan gagasan ini adalah menghindari burnout yang justru bisa menjadi kendala para peserta didiknya meraih potensi maksimal.

"Tingkat kelulusan kami secara keseluruhan sebesar 98 persen dan merupakan salah satu yang tertinggi di negara ini. Kemungkinan, salah satu alasannya adalah banyaknya siswa mengambil cuti sebelum atau selama kuliah," bunyi laman tersebut.

Manfaat Gap Year bagi Mahasiswa Baru

Organisasi QS Top Universities mendefinisikan gap year sebagai masa istirahat dari belajar atau bekerja selama 12 bulan. Hal ini umumnya bersifat konstruktif untuk menekuni minat pribadi yang biasanya berbeda dari kegiatan sehari-hari.

Konsep gap year sebetulnya juga dikenal di Indonesia. Lalu apa saja manfaatnya? Dikutip dari Gap Year Association, manfaat gap year setidaknya ada tiga, yakni sebagai berikut.

1. Membuat siswa memahami betul apa yang ingin mereka pelajari dan tujuannya.

2. Meningkatkan potensi bisnis dan pendapatan melalui terjun ke dunia profesional.

3. Siswa dapat meningkatkan performa akademik, contohnya IPK, waktu lulus, dan keterampilan kepemimpinan.

Menurut Survei Alumni Nasional 2015 yang dilakukan Gap Year Association, ditunjukkan bahwa mengambil jeda satu tahun tidak hanya meningkatkan IPK. Namun, ternyata gap year bisa memberi dampak lebih penting lagi dalam meningkatkan kepuasan kerja.

Nah, jadi mahasiswa yang pernah atau sedang gap year, jangan berkecil hati, ya. Sejumlah survei dan Harvard sekalipun sudah membuktikan bahwa gap year memberi pengaruh positif bila dimanfaatkan dengan baik.



Simak Video "Aliansi Mahasiswa Demo Protes RKUHP Tiba di DPR, Lalin Tersendat"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/rah)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia