Omicron Melonjak, Epidemiolog UGM Ingatkan Ini Selama PTM Berlangsung

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Rabu, 19 Jan 2022 10:30 WIB
Sebanyak 330 sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMP di Kota Bandung gelar PTM 100 persen hari ini. Kegiatan tersebut digelar dengan menerapkan prokes ketat.
Pelaksanaan PTM kapasitas 100 persen di sekolah Bandung, Jawa Barat. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Jakarta -

Puncak kasus COVID-19 varian Omicron di Indonesia diperkirakan terjadi di pertengahan Februari hingga Maret 2022. Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan 3 hal penting agar kasus ini tidak mengganggu kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Kabar puncak kasus infeksi Omicron tersebut disampaikan oleh Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menyebut, hasil perkiraan didapatkan dari hasil trajectory kasus COVID-19 di Afrika Selatan.

"Berdasarkan berbagai data yang telah kami amati, berangkat dari trajectory kasus COVID-19 di Afrika Selatan puncak gelombang Omicron diperkirakan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret ini," ucap Luhut dalam konferensi pers, Minggu (16/1/2022).

"Saya ulangi, dari hasil trajectory kasus COVID-19 di Afrika Selatan puncak gelombang Omicron diperkirakan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret ini," tambahnya.

Menanggapi hal ini, Epidemiolog UGM Bayu Satria Wiratama, mengamini prediksi dari pemerintah tersebut. Namun, ia menduga, lonjakan kasus Omicron tidak akan setinggi dengan lonjakan kasus varian Delta gelombang kedua sebelumnya.

"Kemungkinan mendekati gelombang pertama (varian Delta) itupun dengan hospitalisasi yang lebih rendah karena Omicron cepat menular tetapi tingkat keparahannya dibawah varian Delta," kata Bayu, dikutip dari laman UGM, Selasa (18/1/2022).

Untuk itu, Bayu mengingatkan 3 hal penting yang dapat dilakukan oleh pihak terkait dalam menangani kasus Omicron agar tidak mengganggu kelangsungan PTM.

1. Perlu penyelidikan detail dan evaluasi dalam PTM

Bayu menyebut, dipastikan sekolah hanya tinggal menunggu waktu penundaan PTM bila kasus COVID-19 yang terjadi di sekolah tanpa dilakukan dengan penyelidikan detail dan evaluasi masalahnya.

"Karena sampai saat ini belum terlihat langkah pemerintah terkait menentukan masalah PTM ini jika ada kasus positif COVID-19 muncul di sana, apakah disebabkan di sekolah? Atau karena murid? Protokol kesehatan yang kurang ketat atau masalah lainnya," tutur dia.

Jadi, kata Bayu, penundaan PTM di sekolah-sekolah masih bergantung dari sejauh mana kemampuan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan dalam merespons peningkatan kasus COVID-19.

2. Perluas cakupan dosis anak

Soal percepatan vaksin ke-3 (booster) untuk mengatasi varian Omicron, Bayu menilai hal ini belum terlihat efeknya dalam 1-2 bulan terakhir. Sebab, penggunaan booster ini masih terbilang baru dan cakupannya masih dinilai rendah.

Namun, berdasarkan penuturan Bayu, hal yang terpenting untuk dilakukan saat ini bukanlah booster. Melainkan, perluasan cakupan dosis vaksinasi lengkap untuk kelompok rentan dan anak-anak.

"Yang paling penting saat ini bukan soal booster, tetapi bagaimana memperluas cakupan yang belum mendapatkan dosis lengkap, terutama untuk kelompok rentan dan anak-anak," ungkapnya.

3. Penerapan 3T dan 5M bagi pemerintah dan masyarakat

Tidak hanya Jakarta, menurut Bayu, semua kota yang menjadi destinasi wisata dan daerah dengan mobilitas antar daerah tinggi juga perlu ditingkatkan penerapan 3T dan 5M-nya.

Penerapan 3T yang dimaksud Bayu ini adalah pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment) hingga melakukan isolasi terpusat. Sebab, daerah dengan mobilitas tinggi memiliki potensi peningkatan kasus, terutama saat libur Natal dan Tahun Baru kemarin.

Untuk pelarangan perjalanan luar negeri, Bayu menyebut hal ini tidak terlalu dibutuhkan. Namun, pemerintah perlu menjamin proses karantina berjalan dengan baik tanpa adanya kasus penularan selama karantina.

"Karena semua orang yang bepergian atau datang dari luar negeri sudah divaksin dosis lengkap sehingga relatif lebih aman, tinggal proses karantinanya yang lebih ketat," terang dia.

"Yang penting lainnya adalah menyampaikan pemahaman kepada masyarakat yang akan ke luar negeri bahwa kondisi di luar negeri saat ini lebih berbahaya dibandingkan Indonesia sehingga mereka harus lebih berhati-hati," imbuh dia lagi.

Selain itu, Bayu meminta agar masyarakat bisa menerapkan 5M secara disiplin untuk mencegah penularan COVID-19. Penerapan 5M adalah memakai masker, mencuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan.

"Saya kira masing-masing tahu risiko, karena itu tetap lakukan 5M dengan disiplin. Contoh jika memang ada komorbid maka segera dapatkan vaksin dosis lengkap dan berhati-hati saat di tempat umum terutama pemakaian masker dan lakukan pemeriksaan kesehatan rutin," katanya.



Simak Video "Prabowo Gandeng UGM Kembangkan IPTEK untuk Pertahanan Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia