Banyak Sampah, Mahasiswa di Kudus Mengolahnya Jadi Bahan Bakar

Dian Utoro Aji - detikEdu
Kamis, 02 Des 2021 11:00 WIB
Tiga mahasiswa di Kudus berhasil mengolah sampah menjadi minyak dan briket
Foto: Dian Utoro Aji
Kudus - Tiga mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), Jawa Tengah menciptakan dua alat pembuat pengolahan plastik menjadi minyak dan sampah organik menjadi briket. Buah hasil dua alat itu, tiga mahasiswa tersebut meraih medali emas di ajang World Invention and Technology Expo (Wintex) pada 17 November 2021.

Tiga mahasiswa tersebut adalah Dimas Apriadi, M. Habib Syafa'arif dan M. Rizal Ainul Ubab. Ketiganya dibimbing oleh dosen Teknik Mesin, Ratri Rahmawati. Temuan mereka dinamakan WEST (Waste-Energy Station).

Ketua Tim Dimas Apriadi mengatakan munculnya ide tersebut ketika melihat banyaknya sampah di lingkungan masyarakat. Permasalahan sampah hingga kini belum bisa teratasi.

"Sebelumnya memang diskusi dengan dosen, akhirnya muncul ide bagaimana mengatasi sampah," kata Dimas dalam keterangan tertulis kepada wartawan di Kudus, Rabu (1/12/2021).

Dia mengatakan ada dua alat yang diciptakan untuk mengolah sampah menjadi minyak dan briket. Satu alat untuk memproses sampah plastik menjadi fuel atau minyak dan alat kedua untuk mengolah sampah organik menjadi briket atau arang.

"Kami yakin plastik bisa dijadikan minyak karena secara teori, plastik merupakan bahan turunan paling bawah dari minyak bumi. Sehingga pasti bisa diolah menjadi minyak, tergantung alat dan cara pengolahannya. Dari teori itu, kami diskusi untuk membuat alatnya," terangnya.

Tiga mahasiswa di Kudus berhasil mengolah sampah menjadi minyak dan briketTiga mahasiswa di Kudus berhasil mengolah sampah menjadi minyak dan briket Foto: Dian Utoro Aji

Adapun untuk alat pengolah sampah plastik terdiri dari tiga tabung. Kata dia, tabung pertama berupa tabung pembakaran plastik. Setelah dibakar, gas hasil pembakaran masuk ke dalam tabung kedua atau kondensor.

"Di tabung kondensor terdapat dua selang, selang pertama dari pembakaran masuk ke tabung kedua dan diproses menjadi cair atau minyak, selang kedua sisa gas yang tidak bisa cair masuk ke tabung ketiga. Tabung ketiga berisi gas yang nantinya dilepas, namun sebelumnya dinetralisir terlebih dahulu di tabung ketiga," jelasnya,

"Ditabung kedua di dalamnya ada tabung lebih kecil, di sela tabung luar dan dalam ada air yang digunakan untuk mempercepat perubahan gas menjadi cair. Sedangkan untuk sisa pembakaran plastik, bisa diolah menjadi batako atau paving," sambung Dimas.

Sementara untuk alat pengolah sampah organik menjadi briket, ada empat alat terpisah. Pertama berupa penampung sampah, tempat pembakaran, tempat pres hasil pembakaran dan pencetak briket.

"Prosesnya hampir sama, pertama dilakukan pembakaran, hasilnya lalu di pres dan dilanjutkan dicetak menjadi kotak kecil menjadi briket atau arang. Dengan hasil briket, nantinya bisa digunakan untuk memasak atau lainnya, sampah pun tidak dibuang begitu saja, lingkungan bisa lebih bersih," jelasnya.

Kesempatan yang sama Dosen pembimbing, Ratri Rahmawati mengatakan untuk alat memang masih butuh penyempurnaan. Menurutnya kedepannya masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar bisa maksimal.

"Proyek tersebut ternyata juga dilirik oleh pihak Kroasia, sehingga diharapkan nanti ada jalinan kerjasama dengan pihak dari Kroasia," tambah Ratri dalam keterangan tertulis kepada wartawan di Kudus siang ini.



Simak Video "Kreasi Emak-emak Sulap Sampah Plastik Jadi Tikar "
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia