Keren! Peneliti UI Olah Ampas Kopi Jadi Material Baterai Kendaraan Listrik

Kristina - detikEdu
Jumat, 05 Nov 2021 20:00 WIB
Material baterai Lithium-Ion dari olahan ampas kopi dan batok kelapa yang dikembangkan oleh peneliti UI.
Foto: dok UI
Jakarta - Tim peneliti Universitas Indonesia (UI) berhasil mengembangkan material baterai Lithium-Ion untuk kendaraan listrik menggunakan ampas kopi dan batok kelapa. Inovasi ini mampu menciptakan bobot baterai menjadi lebih ringan dan waktu pengisian daya lebih cepat.

Para peneliti yang berasal dari Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTMM FTUI) ini mengolah limbah ampas kopi menjadi grafen dan limbah batok kelapa menjadi karbon aktif untuk ditambahkan pada material aktif anoda.

Ide pemanfaatan limbah ampas kopi ini berawal dari banyaknya sampah kopi yang tidak dimanfaatkan. Berangkat dari hal tersebut, para peneliti melakukan kajian terhadap ampas kopi dan menemukan kandungan partikel-partikel yang dapat menghasilkan nano partikel dengan kondisi surface area yang baik. Ampas kopi tersebut dapat diolah menjadi grafen untuk meningkatkan Lithium Titanate Oxide (LTO) sebagai material baterai Lithium-Ion.

Baterai Lithium-Ion ini dibuat dari material LTO yang dicampur dengan timah (Sn) dan karbon aktif (C) serta LTO yang dicampur dengan Silikon (Si) dan karbon aktif (C). Campuran tersebut menghasilkan masing-masing komposit LTO/C-Sn dan LTO/C-Si sebagai material aktif anoda dan Lithium Ferro Phospate (LFP) sebagai material aktif katoda.

Ketua Tim Peneliti Baterai Lithium-Ion FTUI, Prof. Dr. Ir. Anne Zulfia Syahrial, M.Sc. menjelaskan, LTO yang dihasilkan tidak rentan mengalami korsleting pada saat pengisian elektron. Menurutnya, arus listrik yang dihasilkan cenderung lebih stabil dan aman.

"LTO tidak rentan mengalami short circuit (korsleting) pada saat proses charging (pengisian electron). Arus listrik yang dihasilkan lebih stabil dan aman dibandingkan baterai Lithium Graphite yang umum banyak digunakan pada baterai kendaraan listrik saat ini," ujar Anne seperti dikutip dari laman UI, Jumat (5/11/2021).

Anne menyebut, kelemahan baterai buatan timnya terletak pada kapasitas spesifik (LTO) di 175 mAh/g yang lebih rendah dari grafit di 372 mAh/g. "Tim kami mencoba mengatasi kelemahan ini dengan mencampurkan Sn atau Si dan karbon aktif dari limbah batok kelapa menjadi komposit. Kami juga mengolah ampas kopi menjadi grafen untuk dicampurkan dengan LTO." tambahnya.

Nofrijon Sofyan, Ph.D selaku anggota peneliti menambahkan, inovasi tersebut dilakukan untuk mengurangi bobot pada baterai Lithium Graphite yang umum digunakan saat ini. Penelitian juga dilakukan untuk mempersingkat waktu pengisian daya baterai, seperti halnya pengisian bahan bakar pada kendaraan konvensional.

Hasilnya, ampas kopi dan batok kelapa berhasil diolah menjadi material baterai kendaraan listrik. Baterai hasil inovasi ini memiliki bobot yang ringan dan waktu pengisian daya yang lebih cepat menjadi 30 menit. Target kedepannya, pengisian memakan waktu 15 menit untuk full charging.

Baterai ini juga diperkirakan dapat mencapai bobot 200 kilogram, jauh lebih ringan dibandingkan dengan baterai berkapasitas sama yang bobotnya kisaran 500 kilogram. Para peneliti mengungkapkan, bobot yang ringan ini mampu meningkatkan pencapaian pada jarak tempuh kendaraan.

Inovasi baterai dari material ampas kopi dan batok kelapa ini menjadi produk riset hasil karya dosen dan peneliti FTUI yang siap dikomersialkan.

Simak Video "Sederet Inovasi BMKG di 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia