Kuliah Unpad: Penggemar K-Pop Aktif di Aktivisme Sosial hingga Isu HAM

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 07 Sep 2021 08:00 WIB
Kafe di Korea Dikecam ARMY karena Dianggap Lecehkan BTS
BTS. Foto: Koreaboo
Jakarta - Tidak hanya jadi konsumen, penggemar K-pop atau Kpopers juga berkontribusi sebagai pembentuk budaya partisipatif di ranah digital.

Hasil studi ini disampaikan Dosen Faculty of Arts and Design, University of Canberra, Australia Dr. Lee Jee Young dalam kuliah virtual "K-Pop and Social Media". Kuliah virtual tersebut digelar Prodi Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Unpad), bekerja sama dengan University of Canberra, Jumat (3/9/2021) lalu.

Dosen yang berfokus penelitian di bidang digital media and society tersebut menuturkan, penggemar K-Pop memegang nilai-nilai progresif dan berhasil membuat aktivisme daring dengan kreatif.

Jee Young menambahkan, dengan mengatasnamakan idola mereka, para penggemar K-Pop terlibat aktif dalam aktivisme sosial dan politik di ranah digital. Ranah aktivisme penggemar K-Pop tersebut mencakup isu hak asasi manusia, kampanye sosial dan lingkungan, hingga pendidikan.

Ia mencontohkan, Army atau penggemar BTS, fandom paling kuat di dunia berhasil mengumpulkan dana $1 juta dalam 25 jam saja pada kampanye #MatchAMillion. Kampanye #MatchAMillion adalah kampanye mengumpulkan dana sebanyak yang dikumpulkan BTS untuk gerakan Black Lives Matter.

Gerakan Black Lives Matter (Nyawa Orang Kulit Hitam Berharga) aktif menentang kekerasan maupun rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam. Gerakan ini kembali memanas saat pria kulit hitam bernama George Floyd tewas karena lehernya diimpit lutut polisi Derek Chauvin di Minneapolis, AS, 25 Mei 2020. Aksi tersebut menyulut kemarahan warganet setelah melihat video bagaimana Floyd mengembuskan napas terakhir setelah berkali-kali memohon ampun dan mengatakan "Aku tidak bisa bernapas."

Dukungan BTS pada isu Black Lives Matter tersebut kemudian disampaikan salah satunya melalui cuitan di akun Twitter @BTS_twt,

"Kami bersatu melawan diskriminasi ras. Kami menolak kekerasan. Kau, aku, kita memiliki hak untuk dihargai. Kita akan bersatu padu," tulis BTS dalam bahasa Korea dan Inggris di akun Twitter resmi @BTS_twt, Kamis (4/6/2020).

Jee Young menuturkan, penggemar BTS di Indonesia juga telah membuat gerakan positif dalam media sosial seperti penggalangan dana untuk korban bencana.

Ketua Program Studi Humas Fikom Unpad Centurion Chandratama Priyatna, PhD mengharapkan tema yang diangkat pada kuliah umum tersebut dapat memberikan wawasan baru bagi mahasiswa dan dosen mengenai budaya K-Pop dalam perspektif humas.

"Kuliah umum K-Pop and Social Media membuka wawasan baru, bukan saja untuk para mahasiswa tapi juga dosen akan pentingnya mengenal budaya K-Pop dalam perspektif PR. Dr. Jee Lee, sangat baik dalam mengelaborasi K-Pop bukan saja sebagai sebuah fenomena tapi juga pandangan dari sisi akademis," kata Centurion.

Centurion mengatakan, kuliah umum tersebut juga merupakan tahap awal kerjasama antara Program Studi Hubungan Masyarakat Fikom Unpad dengan University of Canberra, Australia.

"Kuliah umum ini adalah tahap awal dalam kerja sama antara Prodi Humas dengan University of Canberra. Semoga kerja sama-kerja sama lain seperti penjajagan double degree atau student exchange bisa dilaksanakan di masa yang akan datang," harapnya.

Nah, itu dia sekilas tentang bagaimana penggemar K-pop aktif dalam aktivisme sosial hingga isu HAM. Apa isu yang kamu dalami saat ini, detikers?



Simak Video "Menantikan Gebrakan aespa Usai Resmi Gabung ke CAA"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia