Inovatif! Mahasiswa Unair Bikin Masker Antivirus dari Limbah Kulit Udang

Kristina - detikEdu
Kamis, 22 Jul 2021 10:35 WIB
Masker
Foto: Dok. Unair
Jakarta -

Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menciptakan inovasi baru berupa masker kain antibakteri dan antivirus dari limbah kulit udang. Produk ramah lingkungan ini bisa terurai tidak lebih dari satu bulan.

Produk yang diberi nama Chitomask ini merupakan hasil karya kolaborasi lima mahasiswa Unair. Mereka berasal dari Fakultas Perikanan dan Kelautan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Sains dan Teknologi.

Ardelia Bertha Prastika, selaku CEO, mengklaim bahwa Chitomask tidak merusak lingkungan dan bisa terurai dalam kurun waktu pendek.

"Chitomask ini tidak merusak lingkungan, untuk terurainya pun paling lama satu bulan," ucap Ardel seperti dilansir dari laman Unair, Kamis (22/7/2021).

Bahan utama yang mereka gunakan adalah limbah kulit udang atau yang sering disebut kitosan. Limbah ini memiliki berbagai keunggulan karena senyawa yang dihasilkan tidak beracun. Selain itu, kitosan juga tidak mengandung protein pemicu alergi. Bahan ini juga menjadi bahan alami yang biokompatibilitas, bioaktivitas, dan keamanan biologis yang tinggi.

Chitomask dirancang dengan model trendy dilengkapi proteksi tambahan berupa filter yang memiliki kemampuan antivirus dan antibakteri. Bahan-bahan yang digunakan bersifat biodegradable atau mudah terurai secara alami. Hal ini tentunya dapat meminimalisir limbah masker di masa pandemi COVID-19.

Ardel menerangkan, butuh waktu beberapa hari untuk melakukan tahapan pra-produksi. Dia dan tim melakukan penelitian kain yang akan digunakan sebagai filter masker terlebih dahulu.

"Kami sudah meneliti kain apa yang compatible untuk filter. Jadi prosesnya kitosan (limbah kulit udang, Red) dibuat gel terlebih dahulu hingga menunjukkan warna bening dan konsentratnya mengental. Jika dihitung dari tahapan pembuatan gel hingga coating itu tiga hari. Sedangkan produksi filter memakan waktu dua hari, hari pertama pelarutan kitosan dan hari kedua pengovenan," terang Ardel.

Selain memiliki kemampuan antibakteri dan antivirus, produk ini turut mendukung ketercapaian SDGs, salah satunya SDGs ke-14 mengenai life below water yang mencegah segala bentuk polusi kelautan. Menurut Ardel, dampak kesehatan dan lingkungan harus ditangani secara simultan.

"Semoga ke depannya masyarakat bisa bijak dalam bersikap, meskipun dalam fase yang menghantam seperti pandemi. Harus diingat kita hidup berdampingan dengan lingkungan. Pandemi bisa saja selesai, tetapi jangan sampai lingkungan menimbulkan persoalan baru," pungkas Ardelia.

Produk inovatif mahasiswa Unair ini berhasil lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dan mendapatkan pendanaan dari Dirjen Dikti Kemendikbud Ristek pada 2021.



Simak Video "Jokowi Serukan Semua Wajib Pakai Masker"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia