Indonesia kembali membuktikan kualitas penelitinya di panggung internasional. Dua peneliti Indonesia berhasil meraih penghargaan Indroyono Soesilo Award 2026 dalam ajang Asian Conference on Remote Sensing (ACRS) ke-47 di New Delhi, India.
Indroyono Soesilo Award adalah penghargaan yang diberikan kepada peneliti atas inovasi dan kontribusi mereka di bidang pengideraan jauh (remote sensing). Penginderaan jauh adalah cara melihat atau memantau kondisi suatu tempat tanpa harus datang langsung ke lokasi aslinya.
Para peneliti yang menerima penghargaan ini melakukan riset dengan memanfaatkan satelit dan berbagai teknologi lainnya. Penghargaan ini dinamai berdasarkan Prof Dr Ir Indroyono Soesilo, seorang ahli penginderaan jauh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indroyono Soesilo juga dikenal sebagai pelopor pengembangan teknologi penginderaan jauh di Indonesia. Kini, ia menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Amerika.
Daftar Penerima Indroyono Sosesilo Awards 2026
Ada empat penghargaan yang diberikan dalam Indroyono Sosesilo Awards 2026, di mana dua diantaranya berhasil diraih oleh peneliti Indonesia. Dikutip dari Antara Jatim, Senin (19/10/2026) berikut daftarnya:
Peneliti Indonesia
1. Yustinus Seno
Peneliti asal Auriga Nusantara Corp, Yustinus Seno berhasil meraih penghargaan utama melalui riset berjudul "MapBiomas Indonesia: Annual Wall-to-Wall Mapping of Forest Ecosystem in Indonesia". Riset tersebut memetakan ekosistem hutan Indonesia setiap tahunnya dari 1990-2024.
Dalam risetnya, Yustinus menggunakan data satelit Landsat, komputasi awan, dan teknologi pembelajaran mesin.
2. Serliah Nur
Serliah Nur berhasil meraih penghargaan Honorable Mention melalui penelitian pemetaan vitalitas bahasa dan perencanaan vitalisasi bahasa di Tana Luwu, Sulawesi Selatan. Selama prosesnya, riset Serliah mengintegrasikan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan analisis sosiolinguistik untuk mendukung pelestarian bahasa daerah.
Penerima Penghargaan Lain
Adapun dua penghargaan lainnya diraih oleh peneliti Jepang dan India, keduanya yaitu:
1. Serenee Osman dari Nakanihon Air Co Ltd asal Jepang menghasilkan inovasi menilai perubahan bentang alam akibat gempa di Semenanjung Noto pada 2024. Ia menggunakan LiDAR udara, citra satelit, dan survei batimetri.
2. Ankitha Reddy dari National Remote Sensing Centre (NRSC), Indian Space Research Organization (ISRO) asal India meraih penghargaan terakhir. Ia menciptakan platform Bhoonidhi yang memperluas akses terhadap data pengamatan Bumi.
Teknologi Pengindraan Jauh Sangat Bermanfaat Bagi Indonesia
Menjadi konferensi tingkat dunia, ACRS 2026 mengambil tema "Remote Sensing for Future Earth: Innovation, Inclusion & Impact". Konferensi ini diikuti 800 peserta yang terdiri dari ilmuwan, lembaga antariksa, akademisi, dan pelaku industri geospasial dari lebih dari 30 negara.
Ada delapan bidang utama yang diperhatikan secara khusus dalam ACRS 2026, yakni pertanian berkelanjutan, kecerdasan buatan geospasial (Geospatial Artificial Intelligence/GeoAI), sensor satelit dan drone, Global Navigation Satellite System (GNSS), mitigasi bencana, serta pemanfaatan data untuk mendukung kebijakan publik.
Bidang penginderaan jauh kini tak hanya berfungsi untuk memotret permukaan Bumi melalui satelit. Peneliti di bidang ini kini bisa memanfaatkan satelit dan teknologi lain untuk memantau kondisi hutan, lahan pertanian, banjir, kekeringan, gempa bumi, perubahan garis pantai, serta berbagai dinamika lingkungan lainnya.
Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi Indonesia yang memiliki 17.500 pulau. Dengan penginderaan jauh, peneliti bisa menghasilkan studi yang bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan sumber daya alam, perlindungan hutan, pengawasan pesisir, perikanan, pertanian, hingga penanganan bencana.
ACRS 2026 diselenggarakan Asian Association on Remote Sensing, Indian Society of Remote Sensing, dan Indian Society of Geomatics, yang turut didukung oleh sejumlah lembaga seperti ISRO dan NRSC dari India, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dari Jepang, Kementerian Kebumian India dan berbagai lembaga lainnya.
