Aktivis Gen Z Greta Thunberg Beri Pesan Darurat Karhutla di Kalimantan, Ini Isinya

ADVERTISEMENT

Aktivis Gen Z Greta Thunberg Beri Pesan Darurat Karhutla di Kalimantan, Ini Isinya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 19 Okt 2026 09:00 WIB
Greta Thunberg bersama sebagian awak kapal Madleen, sesaat sebelum berangkat ke Gaza.
Foto: Getty Images/Fabrizio Villa/Greta Thunberg.
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia telah menjadi sorotan dunia. Setelah banyak media internasional ikut memberitakan krisis karhutla, aktivis Gen Z, Greta Thunberg, memberikan pesan darurat soal Kalimantan.

Greta Thunberg merupakan aktivis muda asal Swedia yang dikenal mendunia berkat pemikiran dan aksinya terhadap permasalahan iklim. Saat berusia 15 tahun, ia bahkan sudah mendirikan sebuah gerakan yang dikenal sebagai Fridays for Future (juga disebut Mogok Sekolah untuk Iklim) pada 2018. Tujuannya adalah agar pemerintah Swedia terus mengatasi perubahan iklim.

Gerakan itu menginspirasi ratusan ribu siswa di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam Fridays for Future mereka sendiri. Pemogokan diadakan di negara-negara seperti Belgia, Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Finlandia, Denmark, Prancis, dan Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak usia muda, Greta konsisten menyuarakan isu iklim, hingga pernah memberikan pidato di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, di Parlemen Eropa, serta di depan badan legislatif Italia, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Pada 2019, aksinya di acara iklim PBB di New York City memicu pemogokan lain di ratusan negara lain, demikian menurut Britannica.

Pemikirannya juga telah ditulis dalam buku, antara lain "No One Is Too Small to Make a Difference (2019)", buku kumpulan pidatonya, dan "The Climate Book: The Facts and the Solutions (2023)" serta ada film dokumenter "I Am Greta" muncul pada 2020. Pada usianya yang kini menginjak 23 tahun, ia tak hanya menyuarakan isu iklim, tetapi juga kemanusiaan, termasuk genosida di Palestina.

ADVERTISEMENT

Pesan Apa yang Disampaikan Greta Thunberg?

Dalam unggahan pada Jumat (16/10), Greta membagikan video milik aktivis pembela hak masyarakat adat Emmanuela Shinta. Video tersebut memperlihatkan kondisi kabut asap pekat yang tampak 'oranye' di tengah krisis karhutla di Kalimantan.

Bersamaan dengan video tersebut, Greta menuliskan pesan mendesak bahwa kondisi di Kalimantan lebih buruk daripada yang ada di media sosial. Greta juga menuliskan banyaknya penduduk yang terdampak, termasuk anak-anak yang terkena ISPA.


"MENDESAK!! TOLONG BAGIKAN PESAN INI DARI KALIMANTAN, INDONESIA


Krisis kebakaran dan kabut asap masih jauh dari selesai. Sengeri rekaman ini, kenyataan di lapangan jauh lebih buruk daripada apa yang Anda lihat di media sosial.

2 juta hektare hutan hancur dalam kebakaran. Hewan-hewan dibakar hidup-hidup. Orang-orang sekarat dan mati lemas. Penduduk desa kehilangan hutan dan pohon karet mereka. Petugas pemadam kebakaran tewas. 277.075 orang dirawat di rumah sakit karena infeksi pernapasan akut. Di antara mereka, 62.400 adalah anak-anak di bawah 5 tahun.

Situasi ini telah berlangsung selama 4 bulan."


Greta juga mengajak masyarakat dunia yang melihat unggahannya untuk membantu sebisa mungkin terkait karhutla di Kalimantan.

"Silakan terus mendukung dengan menyumbang hari ini untuk Kampanye Penggalangan Dana Krisis Kebakaran dan Kabut Borneo. Membantu mendukung petugas pemadam kebakaran, membangun lebih banyak tempat penampungan kabut asap untuk melindungi orang-orang, terutama anak-anak dan kelompok rentan, dan menyelamatkan hutan yang tersisa."

57.000 Orang Utan Ikut Terdampak

Seperti yang diketahui, hutan Kalimantan tak hanya berperan sebagai paru-paru dunia yang penting, tetapi juga sebagai rumah bagi masyarakat adat serta flora dan fauna. Karhutla telah menyebabkan banyak tumbuhan mati dan satwa kehilangan habitatnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof Dr Drh Raden Wisnu Nurcahyo, mengatakan bahwa untuk orang utan saja, ada sekitar 57.000 ekor yang terdampak karhutla di Kalimantan.

"Dari 57.000 itu yang 60%-nya itu betul-betul sangat terdampak akibat kebakaran hutan. Itu sangat berdampak sekali karena mereka itu kehilangan habitat-habitat," jelasnya dalam podcast UGM "Kebakaran Hutan dan Lahan: Sejarah, Antisipasi, dan Penanganannya", dikutip Minggu (18/10/2026).

Prof Wisnu juga memperkirakan ada lebih banyak kematian satwa yang tidak tercatat, khususnya hewan yang berada di area yang sering dilalui manusia. Terlebih dengan adanya karhutla yang masih terjadi.

"Nah, yang jadi masalah beberapa petugas itu hanya menemukan beberapa di jalur jalan yang sering dilalui manusia, tetapi yang jutaan hektare ya. Kalau di Kalimantan habitatnya orang utan itu 1,9 juta hektare ya. Kalau di Sumatera sekitar lebih sedikit ya 1,1 juta hektare. Itu yang di tengah itu enggak pernah terpantau," paparnya.

"Yang ada di tengah itu enggak pernah ditemukan berapa yang mati. Sehingga asumsi kita sebetulnya banyak sekali kematian pada satwa-satwa liar yang ada di dalam hutan," pungkasnya.



(faz/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads