Update! Potret Penampakan Karhutla Indonesia dari Udara Pantauan NASA

ADVERTISEMENT

Update! Potret Penampakan Karhutla Indonesia dari Udara Pantauan NASA

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 17 Okt 2026 20:02 WIB
Karhutla di Indonesia pantauan NASA
Foto: NASA
Jakarta -

NASA mengungkap penampakan udara karhutla di Indonesia yang turut memengaruhi beberapa negara tetangga. Gambar tersebut didapat dari Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) di atas platform NOAA-21.

Dari pantauan tersebut terlihat titik-titik merah menunjukkan tempat-tempat di mana VIIRS mendeteksi jejak panas yang mengindikasikan kebakaran aktif atau lanskap yang masih membara. Gambar tersebut adalah pantauan tanggal 16 Oktober 2027, untuk tanggal 17 Oktober belum tersedia di situs Earth Data NASA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karhutla di Indonesia pantauan NASA(Indeks aerosol pada 380nm. Sumber: EarthData NASA)

Di samping itu, NASA juga menunjukkan indeks aerosol pada 380nm, yang artinya menunjukkan keberadaan partikel penyerap ultraviolet (UV) di udara, seperti debu gurun, abu vulkanik, dan partikel asap. Indeks tersebut berkaitan dengan ketebalan lapisan aerosol dan ketinggian lapisan tersebut di atmosfer.

ADVERTISEMENT

"Tampilan ini menunjukkan lapisan indeks aerosol pada 380nm, juga dari instrumen VIIRS di NOAA-21. Sementara warna merah paling pekat menandai asap paling tebal di Kalimantan, warna kuning dan oranye menunjukkan area di mana udara berasap dan mengandung partikel telah terdeteksi di negara-negara lain," jelas NASA, dikutip dari laman resmi.

Indeks tersebut merupakan nilai tanpa satuan yang biasanya berkisar antara 0 hingga 5. Nilai yang lebih tinggi menunjukkan konsentrasi partikel yang lebih berat dan dapat mengurangi jarak pandang atau berdampak pada kesehatan manusia.

NASA menyebut kondisi yang lebih kering, kekeringan, dan keterlambatan curah hujan akibat El Niño telah memperburuk kebakaran di wilayah-wilayah karhutla.

Karhutla di Indonesia pantauan NASA(Aerosol Optical Depth. Sumber: EarthData NASA)

Sementara, instrumen berbasis darat di Jaringan Robotik Aerosol atau Aerosol Robotic Network (AERONET), memperlihatkan nilai kedalaman optik aerosol atau aerosol optical depth (AOD) yang tinggi terutama di Pontianak, Jambi, dan Singapura. Kedalaman optik aerosol (AOD) menunjukkan tingkat di mana partikel di udara mencegah cahaya menembus atmosfer.

Aerosol menghamburkan dan menyerap sinar matahari yang masuk, sehingga mengurangi jarak pandang. Dari pengamat di darat, AOD kurang dari 0,1 termasuk udara bersih dan ditandai dengan langit biru cerah, sinar matahari terang, dan jarak pandang maksimum. Seiring meningkatnya AOD menjadi 0,5, 1,0, dan lebih dari 3,0, aerosol dapat menjadi sangat padat sehingga Matahari terhalang.



(nah/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads