Menetap di kos merupakan hal yang lumrah bagi mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di luar kota. Namun, bagaimana jadinya jika masih kelas 2 SMP sudah harus tinggal di kos sendirian?
Itulah hal yang harus dijalani oleh Nasyarudin Maulo. Usianya masih 14 tahun dan duduk di kelas 2 SMPN 38 Kecamatan Kota Masohi, Maluku Tengah tetapi sudah harus tinggal di kos.
Aaat kawan seusianya rata-rata tinggal bersama orang tua, ia harus tinggal sendiri dan mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Bahkan, remaja laki-laki yang akrab disapa Aji tersebut harus membayar kosannya sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tinggal di Kos Sendirian
Sebelumnya, Aji memang tinggal bersama orang tua. Akan tetapi, kondisi keluarga membuat ibu dan ayah harus berpisah tempat tinggal.
Sang ayah sakit sehingga harus kembali ke kampung halamannya di Lahakaba, Maluku Tengah. Begitu pun sang kakak, pergi merantau jauh.
Sementara sang ibu kini bersama adik Aji bekerja sebagai juru masak. Mulanya Aji bersekolah di SMPN 52, tetapi ibunya memindahkan Aji agar bersekolah di sekolahnya terkini dan membuatnya harus menetap di kos.
Di usianya yang masih membutuhkan perhatian orang tua, Aji justu sudah sangat mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua. Ia makan sendiri, mencuci baju sendiri dan melakukan hal lain sendiri.
Bekerja-Bayar Uang Kos Sendiri
Ia sudah tinggal di kos sejak kelas 1 semester 2. Ia mengatakan bahwa uang yang dikirim sang ibu terkadang tak menentu.
Oleh karena itu, Aji harus terpaksa bekerja untuk mencari uang tambahan. Terkadang jadi kuli bangunan, mencari ikan dan lainnya.
"Ibu kirim uang tak tentu, setiap kirim uang sekitar Rp 100 ribu. Kalau saya kekurangan uang, saya terpaksa bekerja, kadang sebagai kuli bangunan, kadang mencari ikan di laut dengan terpaksa harus berbolos sekolah, sering juga saya makan hanya dengan nasi ditambah bumbu penyedap," kata Aji dikutip dari laman Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jumat (9/10/2026).
Ia biasanya menerima upah Rp 100 ribu sebagai kuli bangunan atau Rp 50 ribu saat menangkap ikan. Untuk mencari biaya hidup tersebut, Aji kerap harus terpaksa membolos.
"Dalam seminggu, saya bolos kadang-kadang 1 hari atau dua hari, " katanya.
Meski demikian, Aji tetap mengejar ketertinggalannya. Wali kelas Aji yakni Kotje Novaria memakluminya dan menyebut Aji menebus waktu bolosnya dengan belajar di malam hari.
Tengah Diusahakan Peroleh PIP
Dengan kondisi Aji yang demikian disertai status ekonomi yang masuk desil 1-5, ia berhak mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Namun, karena Aji sempat pindah sekolah, penyaluran PIP sempat tertunda.
"Berdasarkan penelusuran kami, keluarga Aji masuk dalam desil 1-5 yang artinya layak menerima PIP, kami saat ini sedang melakukan proses pengusulan," kata operator PIP di SMPN 38 Maluku Tengah, David Talakua.
Saat kelas 4-6 SD, Aji juga telah menerima PIP. Kini, ia sedang menunggu bantuan tersebut bisa sampai dan meringankan kesehariannya.
"Saat di SD, saya memang menerima PIP yang uangnya saya gunakan untuk membeli baju seragam, tas dan perlengkapan untuk belajar, "ucapnya.
David menyampaikan, kini pihaknya tengah mengurus dan mengusahakan bantuan ini untuk Aji. Namun, pihaknya juga harus menunggu persetujuan dari dinas pendidikan setempat.
"Kami saat ini sedang mengurusnya dan menyusul adanya informasi PIP Aji sudah disalurkan pada Juni lalu sementara ATM dan buku rekening Aji dibawa ibunya yang jauh, maka kami putuskan membuat surat kehilangan buku tabungan ke polisi dan selanjutnya mengajukan pergantian buku tabungan ke BRI, tentunya dengan nomor rekening yang sama, " ucap David.
"Di Dapodik, yang kami centang 'Layak PIP' lebih banyak, namun ternyata dinas pendidikan hanya menetapkan sekitar 130-140 murid," sambungnya.
Saksikan Live DetikSore:
(cyu/nah)
