Pencapaian membanggakan berhasil diraih lulusan program doktor (S3) Universitas Brawijaya (UB), dr Ayunita Tri Wirattami. Dokter Ayunita berhasil menyelesaikan studi S3 dengan meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.
Besaran IPK sempurna itu diraih dr Ayunita melalui penelitian disertasi berjudul "Nanoemulsi Ekstrak Etanol Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) Intranasal Berpengaruh terhadap Respons Inflamasi pada Mukosa Hidung Mencit dengan Rinitis Alergi (Studi Eksperimental In Vivo dengan Optimasi Dosis dan Analisis Molekuler TSLP, IL-4, Nrf2, dan NF-κB p65)".
Melalui penelitian itu, ia mengekstrak jahe merah sebagai kandidat bahan terapi intranasal. Terapi intranasal adalah cara pemberian obat atau zat medis yang disemprotkan ke dalam hidung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obat untuk Redakan Ranitis Alergi dari Ekstrak Jahe
Dalam penelitian tersebut, dr Ayunita mengkaji potensi nanoemulsi ekstrak etanol jahe merah. Ekstrak jahe merah dibuat dalam ukuran yang sangat kecil (nanoemulsi), tujuannya agar lebih mudah diserap oleh mukosa hidung.
Untuk mengkajinya, ia menyemprotkan ekstrak jahe tersebut ke dalam hidung (intranasal) pada tikus percobaan (mencit) yang mengalami rinitis alergi. Kajian dilakukan melalui pendekatan eksperimental in vivo (pengujian langsung pada makhluk hidup) dengan optimasi dosis.
Setelahnya, analisis molekuler dilaksanakan terhadap sejumlah penanda yang berkaitan dengan respons inflamasi dan mekanisme perlindungan sel. Penanda itu adalah TSLP, IL-4, Nrf2, dan NF-κB p65.
Hasilnya, formula jahe merah ini terbukti bisa menekan peradangan (inflamasi) pada hidung dan melindungi sel-sel hidung dari kerusakan akibat alergi.
dr Ayunita meyakini pengembangan obat berbasis bahan alam yang didukung dengan kajian eksperimental dan analisis molekuler menjadi hal penting. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan.
"Penelitian ini menjadi bagian dari proses untuk memahami potensi jahe merah secara lebih mendalam melalui pendekatan eksperimental dan molekuler. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dan pengembangan terapi yang lebih inovatif pada masa mendatang," tuturnya dikutip dari laman resmi UB, Rabu (7/10/2026).
Usai memaparkan hasil penelitian disertasi dan pemikiran ke depan, dr Ayunita menerima tanda lulus dari Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Prof dr Mohammad Saifur Rohman, Sp JP(K), PhD. Ia juga dinyatakan mendapatkan IPK sempurna yakni 4,00.
Capaian ini menunjukkan hasil akademik yang sangat baik dalam penyelesaian pendidikan dokter di lingkungan FK UB. Prestasi dr Ayunita juga diapresiasi dr Mohammad Saifur Rohman.
Ia berpesan bila gelar dokter ini bukanlah akhir dari proses akademi. Gelar baru dr Ayunita diharapkan bisa menjadi pijakan untuk terus berkembang.
"Gelar doktor bukan merupakan akhir dari proses akademik, tetapi menjadi pijakan untuk terus mengembangkan penelitian, menghasilkan inovasi, dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pengembangan ilmu kedokteran serta pelayanan kesehatan," kata dr Mohammad Saifur Rohman.
Kajian mengenai rinitis alergi dan pendekatan molekuler oleh dr Ayunita ini disebut UB sebagai jembatan dalam memperkuat pendidikan doktoral, penelitian, dan peluang pengembangan inovasi kesehatan.
