Suster Dulce Maria Guterres FDCC berhasil meraih gelar magister dari Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta pada Rabu (30/9). Cerita Suster Dulce menarik perhatian karena menjadi wujud perjumpaan lintas budaya dan agama melalui pendidikan.
Suster Dulce diketahui merupakan biarawati Katolik asal Timor-Leste yang menekuni studi magister Kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta. Ia datang ke Indonesia sebagai utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili dengan dukungan Yayasan Graça de Deus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, Suster Dulce sempat merasa cemas saat menempuh pendidikan di lingkungan yang berbasis nilai-nilai Islam. Tak hanya itu, ia juga khawatir akan faktor usia dan berbagai keterbatasan yang dimilikinya.
"Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academica menyambut kehadiran saya. UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa," ungkap Suster Dulce dalam laman Muhammadiyah dikutip Jumat (2/10/2026).
Sebagai seorang biarawati Katolik, Suster Dulce merasa mendapatkan penerimaan yang penuh penghormatan, kasih, dan kedamaian selama berkuliah di UNISA Yogyakarta.
"Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan,"ungkapnya.
Suster Dulce berharap kelulusannya dapa mempererat hubungan antara Timor-Leste dan Indonesia, khususnya melalui kerja sama di bidang kesehatan dan kemanusiaan.
Sementara itu, Rektor UNISA Yogyakarta menyampaikan apresiasi kepada seluruh wisudawan dan orang tua. Rektor mengingatkan bahwa ijazah dan gelar akademik yang diperoleh merupakan awal bagi para lulusan untuk menghadapi dunia nyata yang terus berkembang dengan dinamis.
"Teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan. Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting," pesannya.
Rektor juga mengingatkan para lulusan untuk berpegang teguh pada nilai-nilai identitas almamater, yakni akhlak, amanah, profesional, kolaboratif, dan unggul. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk terus berkontribusi dan turut menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat.
(nir/nah)
