Di balik ruang kelas dan tumpukan tugas mengajar, dosen dan guru memiliki keresahan: bagaimana caranya menjadi pendidik yang relevan bagi generasi sekarang?
Menjawab tantangan itu, sejumlah guru dan dosen mengikuti pelatihan dan berkomunitas dengan rekan-rekan lintas daerah untuk meningkatkan kualitas sebagai pendidik. Salah satunya lewat Inspiring Educators dari ParagonCorp, yang terdiri atas Inspiring Lecturer Program (ILP) untuk dosen dan Wardah Inspiring Teacher (WIT) untuk guru.
Mengetahui Cara Ngajar di Hadapan Gen Z
Dosen UBSI, RR Roosita Cindrakasih, peserta Inspiring Lecturer Program (ILP). Foto: Devita Savitri/detikcom |
Dosen Ilmu Komunikasi Bina Sarana Informatika (UBSI) RR Roosita Cindrakasih menuturkan, ia dan rekan-rekan dosen mengikuti pelatihan ILP dari sejumlah pakar pendidikan. Salah satu materi yang membekas baginya terkait bidang pengajaran, terutama saat berhadapan dengan Generasi Z dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Cara pakai AI-nya begini, step by step, public speaking sama anak-anak Gen Z itu gimana, sama anak-anak Gen Alpha seperti apa. Jadi, benar-benar nutrisi otak sih," ucapnya pada detikEdu usai acara Inspiring Educators ParagonCorp 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026) ditulis Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, melalui pelatihan yang ada, dosen dapat terbantu untuk lebih siap menghadapi masa depan anak-anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tuh garda terdepan nih untuk menyiapkan generasi bangsa, (untuk itu) kita butuh amunisi lebih untuk menghadapi generasi sekarang yang jauh lebih pintar, kreatif, dan kritis. Kita butuh amunisi tambahan untuk lebih mempersiapkan diri, untuk menyiapkan mereka menghadapi masa depan nanti," tegas Roro.
Buka Potensi Kolaborasi Dosen
Dosen UBSI Wulan Muhariani, peserta Inspiring Lecturer Program (ILP). Foto: Devita Savitri/detikcom |
Selain berisi kegiatan pelatihan, ILP juga meliputi komunitas dosen. Para dosen di ILP dapat bisa berbagi wawasan, berkolaborasi, dan menghadirkan gagasan yang melampaui kelas.
Dosen UBSI alumnus ILP, Wulan Muhariani, menuturkan, ia bisa mendapat jejaring luas sambil mengembangkan kapasitas diri sebagai dosen.
"Saya selama ini cuman kenal dosen-dosen di kampus saya, sekarang bisa lebih kenal itu sama dosen-dosen dari kelompok lain," tuturnya pada kesempatan yang sama.
Jejaring tersebut menurut Wulan bermanfaat dalam menjalankan tri dharma perguruan tinggi, terutama bidang penelitian. Kini, ia bisa berkolaborasi dengan dosen dan kampus lain ketika suatu bidang penelitian tidak ada di perguruan tingginya.
"Semakin mempermudah (menjalankan) tri dharma perguruan tinggi saya," ujarnya.
Pelatihan yang diberikan menurutnya juga bermanfaat dalam proses mengajar. Wulan bercerita, ia salah satunya belajar refleksi diri.
Wulan tak memungkiri bila seiring dengan perkembangan zaman, proses pengajaran juga perlu ikut berkembang. Generasi masa kini menurutnya semakin bervariasi, baik tingkah laku maupun pemikirannya.
"Jadi apakah pengajaran kita sudah tepat? Kita diminta refleksi terus diminta menyusun lagi gitu, untuk ke depannya bagaimana? Jadinya dari situ tentunya berubah jadi, 'Oh iya kayanya cara ngajar saya nanti ketika kembali ke kampus ada yang perlu di-adjust (sesuaikan) deh, diubah gitu'," sebut Wulan.
Menjadi Guru Pembelajar
Sementara itu, guru SMPN 5 Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Nurhasanah mengikuti WIT 2026. Sebagai guru bahasa Inggris, program ini bagi Nurhasanah bantu mendorongnya untuk menjadi guru yang dapat memotivasi murid dalam belajar bahasa Inggris.
Hal serupa juga dirasakan Reni Nurjanah, guru kelas 5 MI Swasta Neglasari, Bandung Barat, Jawa Barat. Reni menyebut, ia mendapat banyak ilmu yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran menjadi aksi nyata di kelas.
Melalui WIT, Reni memahami bila proses belajar bisa dilakukan tanpa fasilitas yang mewah. Murid juga bisa belajar melalui kegiatan sederhana yang dikaitkan dengan persoalan nyata.
Selama pelatihan, Reni menuturkan, ia jadi memahami bahwa proses belajar yang ia ikuti bukan untuk menjadi guru yang pintar, tetapi menjadi guru pembelajar.
"Selain mendapatkan wawasan, juga setelah ini harus diterapkan di kelas masing-masing," katanya.
Didukung Sekolah Ikut Seleksi
Untuk mengikuti program WIT, kedua guru ini telah melalui serangkaian seleksi dari total 30 ribu pendaftar yang disaring menjadi 25 ribu di tahap kedua. Kandidat peserta kemudian kembali diseleksi menjadi 10 ribu di tahap ketiga, hingga keduanya berhasil masuk dalam 5 ribu peserta terbaik.
Nurhasanah bersyukur langkahnya mengembangkan diri didukung oleh pihak sekolah. Baginya, setiap ilmu yang ia dapatkan akan kembali dibagikan pada rekan-rekan guru lain.
"'Ketika kamu maju, berarti kamu memajukan sekolah', dan itu yang akan saya terapkan di sekolah saya nanti, karena ilmu yang saya dapatkan akan saya sharing dengan teman-teman saya. Karena long life education, belajar itu sepanjang hayat, jadilah guru pembelajar di manapun, kapan pun, dan siap kapan pun untuk menerima pembelajaran dan memberikan pembelajaran kepada murid-murid saya di sekolah nantinya," urai Nurhasanah.
Keduanya berpesan agar rekan guru juga bisa ikut mengembangkan diri dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
"Jangan berhenti belajar ketika ada pelatihan apapun ikutin, apapun pelatihannya ikutin, karena tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dan tidak ada yang mustahil," ujar Nurhasanah.
Nurhasanah menambahkan, guru juga harus mendidik dengan sepenuh hati. Semua yang disampaikan dengan hati, menurutnya, akan diterima dengan baik pula.
"Teruslah berkembang, berkarya, dan bertumbuh, karena guru itu tidak hanya mengajar, tapi juga harus menumbuhkan karakter siswa," sambung Reni.
(det/twu)


