Ada paradoks paling tragis abad ini yang sedang terjadi tepat di depan mata kita, di bangku-bangku kelas, di kamar-kamar kost, dan di balik layar gawai jutaan anak muda Indonesia. Mereka adalah generasi paling terhubung dalam sejarah manusia. Namun survei demi survei membuktikan: mereka juga generasi paling kesepian.
Data terbaru menunjukkan sekitar 60 persen Gen Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Sementara itu, survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menemukan bahwa 34,8 persen remaja Indonesia, setara 15,5 juta jiwa, menghadapi persoalan kesehatan mental. Di balik setiap scrolling TikTok yang tak henti, di balik setiap like dan story yang diposting, ada jutaan jiwa muda yang diam-diam bertanya: Apakah ada seseorang yang benar-benar mengenalku?
Ini bukan sekadar isu psikologi. Ini adalah krisis pendidikan. Dan lebih dalam dari itu: ini adalah krisis teologis-antropologis yang sudah diidentifikasi oleh Maximus sang Pengaku Iman empat belas abad lalu dengan ketepatan yang mencengangkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lonely in the Crowd: Ketika Koneksi Tidak Berarti Perjumpaan
Sekelompok mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menemukan kaitan erat antara penggunaan media sosial berlebihan dengan rasa kesepian, insecure, bahkan masalah kesehatan mental. Mereka menamai fenomenanya "Loneliness in the Crowd": generasi yang ramai secara digital namun sepi secara eksistensial.Ini bukan sekadar masalah screen time. Masalahnya jauh lebih struktural dari itu.
Sistem pendidikan kita, dalam kegairahan mengejar digitalisasi, telah ikut-ikutan membangun arsitektur yang sama: platform e-learning, aplikasi absensi digital, modul yang harus diklik, nilai yang terinput otomatis. Semuanya efisien. Semuanya terukur. Namun semuanya semakin mengikis satu hal yang tidak bisa dikodekan oleh algoritma manapun: perjumpaan.
Saya tidak anti-teknologi. Saya percaya teknologi adalah alat yang baik bila digunakan dengan hikmat. Tapi saya curiga: tanpa kita sadari, kita sedang membangun generasi yang semakin mahir berinteraksi dengan layar dan semakin kikuk bertatap muka. Generasi yang lebih nyaman mengirim emoji daripada mengucapkan maaf langsung. Generasi yang mengangguk-anggukan kepala di depan kamera Zoom, tapi tidak tahu nama tetangga sebelah kosnya.
Maximus dan Akar yang Sesungguhnya: Philautia
Di sinilah Maximus sang Pengaku Iman masuk bukan sebagai hiasan intelektual, melainkan sebagai diagnosis yang tepat. Maximus, rahib dan teolog besar abad ke-7 yang mati dipotong tangan dan lidahnya demi mempertahankan kebenaran, mengidentifikasi satu akar dari seluruh disintegrasi manusia: philautia, cinta diri yang salah arah.
Bukan cinta diri yang sehat, melainkan keberbalikkan dari dalam diri seseorang dari Allah dan sesama menuju dirinya sendiri sebagai pusat semesta. Philautia melahirkan dua obsesi yang mendominasi seluruh energi hidup manusia yang jatuh: mengejar kesenangan (hēdonē) dan menghindari kesakitan (odyne).
Coba terjemahkan ini ke dalam bahasa digital hari ini. Apa yang dilakukan algoritma media sosial kalau bukan secara sistematis memaksimalkan hēdonē (konten yang menyenangkan, validasi likes, dopamin dari notifikasi) dan meminimalkan odynē (menyembunyikan konten yang tidak menyenangkan, menciptakan echo chamber, memblokir yang berbeda pandangan)?
Platform-platform ini dibangun di atas arsitektur philautia yang paling canggih yang pernah ada. Mereka tidak menyebabkan kelemahan manusia itu; mereka mengeksploitasi kelemahan yang sudah ada dalam diri manusia sejak kejatuhan. Dan ketika sistem pendidikan kita tidak secara aktif melawan arsitektur ini, ia secara pasif memperkuatnya.
Hasilnya? Generasi yang semakin sulit melakukan hal-hal yang mensyaratkan keluarnya diri dari pusat semesta sendiri: mendengarkan sungguh-sungguh, bertahan dalam ketidaknyamanan, bersabar dengan orang yang menjengkelkan, berkomitmen pada sesuatu yang tidak segera menguntungkan. Persis seperti yang dikatakan Maximus: philautia yang tidak dilawan akan memotong kemampuan seseorang untuk agape, kasih yang keluar dari diri dan tertuju kepada yang lain.
Nous yang Terfragmentasi: Mengapa Nilai Akademis Tinggi Belum Cukup
Maximus juga mengajarkan bahwa manusia memiliki nous, mata batin atau pusat kesadaran terdalam yang dirancang untuk menghubungkan pengetahuan dengan kebijaksanaan, informasi dengan makna, pencapaian dengan tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.
Nous yang sehat adalah nous yang terintegrasi: ia menghubungkan kepala (pengetahuan), hati (kasih dan karakter), dan tangan (tindakan yang bermakna). Sebaliknya, nous yang terfragmentasi adalah nous yang terputus dari pusat maknanya, sibuk mengonsumsi dan memproses tanpa pernah sungguh-sungguh hadir pada siapapun atau apapun.
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan berkorelasi dengan peningkatan risiko gangguan kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, serta gangguan pola tidur pada Gen Z. Fenomena social comparison, cyberbullying, dan fear of missing out menjadi faktor pemicu utama yang memperburuk kondisi kesehatan mental.
Yang menarik dari temuan ini bukan angkanya saja. Yang menarik adalah ini: masalahnya bukan kurangnya informasi atau kurangnya akses. Generasi Z adalah generasi paling banyak mengonsumsi informasi dalam sejarah. Masalahnya adalah nous yang terfragmentasi: banjir informasi tanpa kebijaksanaan, koneksi digital tanpa perjumpaan nyata, prestasi akademis tanpa identitas yang berakar.
Tahun 2026, Indonesia merencanakan anggaran pendidikan terbesar dalam sejarahnya, hampir Rp 757,8 triliun. Angka yang luar biasa. Tapi kalau uang sebesar itu hanya digunakan untuk membangun infrastruktur digital tanpa membangun nous yang sehat pada setiap anak didik, kita sedang membangun istana di atas pasir.
Tahun Ajaran Baru 2026/2027: Momentum yang Tidak Boleh Disia-siakan
Jutaan siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia akan memulai tahun ajaran baru. Tas baru. Seragam baru. Semangat baru. Dan bagi banyak dari mereka, juga harapan baru yang fragil: semoga tahun ini lebih baik, semoga saya tidak merasa sendirian lagi.
Tahun ajaran baru selalu menghadirkan dua kemungkinan. Yang pertama: kita mengulang pola yang sama dengan kemasan yang sedikit berbeda. Orientasi mahasiswa baru yang sibuk dengan pengenalan birokrasi kampus. Guru yang langsung masuk ke silabus minggu pertama. Wali kelas yang terlalu sibuk mengurus administrasi untuk mengenal nama-nama anak didiknya satu per satu. Dan anak-anak muda yang kembali duduk di antara banyak orang, namun tetap merasa tidak dikenal oleh siapapun. Yang kedua: kita menjadikan tahun ajaran baru ini sebagai titik belok yang sungguh-sungguh.
Maximus dalam Centuries on Love menulis tentang apa yang ia sebut epistrophe, pembalikan arah yang menentukan. Bukan perubahan kosmetik, bukan reformasi struktural yang berhenti di atas kertas kebijakan, melainkan pembalikan orientasi yang nyata: dari pendidikan yang berpusat pada output menuju pendidikan yang berpusat pada pembentukan manusia yang utuh.
Epistrophe ini tidak membutuhkan anggaran tambahan. Ia tidak menunggu regulasi baru dari Kemendikdasmen. Ia bisa dimulai besok pagi, oleh setiap guru dan dosen yang masuk ke kelas di hari pertama tahun ajaran baru, dengan satu keputusan sederhana namun revolusioner: mengenal anak-anak di depanku bukan sebagai nomor absen, melainkan sebagai manusia dengan nama, cerita, dan pergumulan yang nyata.
Pendidikan sebagai Praktike: Ruang Pembenahan yang Terstruktur
Maximus mengajarkan bahwa jalan keluar dari disintegrasi diri bukan informasi lebih banyak, melainkan praktike, latihan spiritual yang terstruktur untuk mengarahkan kembali seluruh energi jiwa dari philautia menuju agape.
Praktike dalam konteks pendidikan berarti ini: ruang kelas harus menjadi lebih dari tempat transfer pengetahuan. Ia harus menjadi ruang pembentukan karakter yang terstruktur, di mana siswa belajar menunda gratifikasi, mendengarkan orang yang berbeda, bertahan dalam kebosanan yang produktif, dan hadir sepenuhnya pada orang di depan mereka. Maka ada tiga agenda pembenahan konkret yang mendesak memasuki tahun ajaran baru ini.
Pertama, jadikan pekan pertama tahun ajaran sebagai pekan perjumpaan, bukan pekan orientasi administratif. Guru dan dosen yang menghabiskan hari-hari pertama bukan untuk menjelaskan silabus, melainkan untuk sungguh-sungguh mendengarkan setiap muridnya, bertanya tentang mimpi dan ketakutan mereka, sedang menanamkan fondasi yang jauh lebih tahan lama dari hafalan materi apapun. Ini bukan sentimentalitas. Ini adalah praktike yang paling mendasar: latihan untuk keluar dari agenda diri sendiri dan masuk ke dalam dunia orang lain.
Kedua, rancang ulang kurikulum sosial-emosional bukan sebagai mata pelajaran tambahan yang terpinggirkan, melainkan sebagai urat nadi dari seluruh pengalaman belajar. Program "Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" yang digagas Kemendikdasmen adalah arah yang benar. Tapi ia perlu dihidupkan bukan sebagai slogan di dinding kelas, melainkan sebagai praktik harian yang diteladankan oleh setiap pendidik dalam cara mereka berbicara, mendengar, dan memperlakukan setiap murid.
Ketiga, dan ini mungkin yang paling krusial: sekolah dan kampus perlu secara berani mendesain ulang ruang-ruang perjumpaan nyata di luar kelas digital. Bukan hanya ruang kelas formal, melainkan ruang makan bersama, ruang bercerita, ruang pelayanan kepada masyarakat, ruang kontemplatif yang bebas dari gawai. Tidak ada satu platform digital pun yang bisa memberikan apa yang diberikan oleh dua orang yang duduk berhadapan, tanpa notifikasi, tanpa agenda, dan sungguh-sungguh hadir satu sama lain.
Tahun ajaran baru 2026/2027 adalah kesempatan yang tidak boleh kita lewatkan. Bukan untuk menambah program. Bukan untuk meluncurkan aplikasi baru. Melainkan untuk kembali kepada pertanyaan paling mendasar yang seharusnya tidak pernah hilang dari ruang-ruang pendidikan kita: Apakah setiap anak yang meninggalkan kelas ini merasa lebih dikenal dan lebih dicintai daripada ketika ia masuk tadi pagi?
Pendidikan Sejati Selalu Menuju Keluar dari Diri
Ada kalimat Maximus yang terus saya renungkan: Allah yang Mahakasih secara hakiki adalah Allah yang ekstatik, yang keluar dari diri-Nya sendiri dalam kasih kepada ciptaan. Dan manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah itu, hanya menjadi sungguh-sungguh dirinya ketika ia juga belajar keluar dari diri sendiri dalam kasih kepada sesama.
Inilah yang seharusnya menjadi tujuan terdalam pendidikan Indonesia: bukan menghasilkan mesin pencetak nilai tinggi, bukan menghasilkan robot kompetensi digital, melainkan menghasilkan manusia yang mampu keluar dari dirinya sendiri dalam kasih dan pelayanan yang nyata.
Generasi muda kita sedang sangat lapar akan hal ini. Di balik semua scrolling dan semua posting, ada jiwa-jiwa yang rindu dikenal, rindu didengar, dan rindu menemukan sesuatu yang layak untuk dihidupkan sebagai dedikasi lebih dari sekadar pencapaian pribadi.
Tahun ajaran baru sudah di depan pintu. Kita punya pilihan: membuka pintu itu dengan tangan yang sibuk memegang gawai, atau membuka pintu itu dengan tangan yang terbuka, siap untuk perjumpaan yang sungguh-sungguh.
Karena pada akhirnya, tidak ada generasi yang sembuh dari kesepian hanya dengan menambah followers. Mereka sembuh ketika ada seseorang yang, tanpa gawai, tanpa agenda, tanpa terburu-buru, memandang wajah mereka dan berkata: Kamu ada. Kamu penting. Dan saya di sini.
Itulah pendidikan sejati. Dan itulah hal paling mendesak yang perlu kita bangun kembali di Indonesia, mulai dari hari pertama tahun ajaran baru ini.
*) Dr. Hendi
Pendidik dan Pemerhati Pendidikan
Ketua Sekolah Tinggi Teologi Soteria Purwokerto
*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom
Simak Video "Video: Gen Z dalam Kepungan Algoritma"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)
