×
Ad

Mengenal Tabbhuwan Colo', Gamelan Mulut dari Pesisir Panarukan yang Hampir Punah

Kalila Untsa - detikEdu
Minggu, 27 Sep 2026 08:00 WIB
Foto: Unej/Para musisi tabbhuwân colo' saat berlatih di rumah Kiai Sattar, Panarukan, Kabupaten Situbondo.
Jakarta -

Gamelan merupakan seperangkat alat musik yang dimainkan bersamaan, yang terdiri dari gambang, gendang, hingga gong. Namun di pesisir Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terdapat gamelan mulut yang kini hampir punah. Apa bedanya?

Kata gamelan diambil dari bahasa Jawa 'Gamel' yang berarti memukul atau menabuh. Hal ini juga merujuk pada jenis palu yang digunakan untuk memukul instrumen.

Bukan hanya di Jawa Tengah, gamelan juga dapat ditemui di beberapa daerah sekitarnya seperti Jawa Timur, Bali, Lombok, dan Madura.

Menariknya, gamelan di Panarukan dimainkan dengan cara ditiup alih-alih ditabuh. Bahkan, alat musiknya sama sekali tidak menggunakan logam.

Gamelan mulut itu disebut tabbhuwân colo' atau dalam bahasa Madura berarti tabuhan mulut. Seperti apa asal-usulnya?

Berawal dari Masyarakat Nelayan Madura

Dosen Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Panakajaya Hidayatullah, berhasil mendokumentasikan bagaimana dan seperti apa sejarah tabbhuwân colo' di Panarukan.

Dia menjelaskan bahwa mulanya, tradisi musik tersebut berawal dari masyarakat nelayan Madura yang bermigrasi ke Jawa Timur pada periode 1930-1940-an. Para pendatang kemudian membangun keluarga dan menetap di pesisir Panarukan.

"Banyak di antara masyarakat yang bermigrasi tersebut merupakan pelaku seni dalam kelompok topeng kertè dan tabbhuwân, pertunjukan tradisional yang dikenal sebagai ketoprak Madura. Dari pengalaman tersebut, mereka mengenal struktur gending dan fungsi berbagai instrumen gamelan Madura serta membawa pengetahuan musik dari daerah asalnya," jelasnya, dikutip dari laman Unej, Jumat (25/9/2026).

Kahidupan nelayan yang banyak dihabiskan di tengah laut membuat mereka terbiasa dengan malam yang gelap. Namun, saat kondisi Bulan begitu terang, para nelayan menirukan bunyi gamelan dengan mulut.

Dari sini lah tabbhuwân colo' lahir dan menjadi budaya musik kerja masyarakat pesisir Panarukan.

"Intinya, mereka membunyikan gending gamelan menggunakan mulut. Satu orang bisa memerankan tiga sampai lima alat musik menggunakan mulut," ungkapnya.

Tabbhuwân Colo' Diambang Kepunahan

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Grenek: Jurnal Seni Musik, pemain tabbhuwân colo' kini hanya tersisa 8 orang saja. Setiap pemain memiliki peran bunyi yang beragam. Mulai dari menirukan bonang, peking, gender, kendang, kempul, hingga gong. Jumlah pemainnya yang sedikit membuat satu orang dapat memegang beberapa alat musik sekaligus.

Menurut Panakajaya, terdapat tiga faktor yang membuat tradisi musik ini berada di ambang kepunahan.

Pertama, generasi muda tidak lagi mengenal gending gamelan. Kedua, tradisi musik ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi karena harus memahami struktur dan fungsi masing-masing instrumennya. Ketiga, perubahan cara kerja nelayan membuat berkurangnya ruang pertunjukan untuk memainkan tradisi musik tersebut.

Seorang tokoh lokal, Kiai Sattar, merupakan salah satu penggerak komunitas tabbhuwân colo'. Ia menjemput satu per satu pemain musik dari berbagai dusun untuk berkumpul. Bahkan, ia harus merogoh kocek pribadi untuk menyediakan kopi dan tembakau agar para pemain mau datang.

"Hanya ini yang bisa bermain, setelah ini sudah tidak ada lagi," kata Kiai Sattar kepada Panakajaya.

Kini, gamelan tabbhuwân colo' telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda dari Kabupaten Situbondo melalui sidang nasional yang digelar pada Juli 2026.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



Simak Video "Menjelajah Safari Malam di Savana Bekol Situbondo yang Penuh Kejutan "

(faz/faz)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork