- 12 Karya Budaya Jawa Timur Direkomendasikan Menjadi WBTb Indonesia 1. Macapat Haul Mbah Sindujoyo 2. Gumbregan Samin 3. Syi'iran Bluk Gebluk 4. TabbhuwΓ’n 5. TabbhuwΓ’n Colo' 6. Sego Gegog 7. Soto Lamongan 8. Upacara Kum Kum Sinden 9. Ketoprak Siswobudoyo 10. Bersih Desa Simbatan Petirtaan Dewi Sri 11. Boso Walikan Malangan 12. Bahasa Jawa Suroboyoan
Jawa Timur kembali menorehkan prestasi di bidang kebudayaan. Sebanyak 12 karya budaya dari berbagai daerah di provinsi ini resmi memperoleh rekomendasi penetapan menuju Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Termin I Tahun 2026.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya kontribusi Jawa Timur dalam menjaga sekaligus mewariskan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Ke-12 karya budaya tersebut tidak hanya mencakup seni pertunjukan, tetapi juga tradisi ritual, bahasa daerah, hingga kuliner khas yang telah diwariskan lintas generasi.
Lantas, apa saja budaya yang masuk dalam daftar tersebut dan mengapa nilai-nilainya dianggap penting untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
12 Karya Budaya Jawa Timur Direkomendasikan Menjadi WBTb Indonesia
Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Termin I Tahun 2026 berlangsung pada 30 Juni 2026 hingga 4 Juli 2026 secara hybrid, baik luring maupun daring. Dari 264 usulan yang dinyatakan siap dibahas, sebanyak 260 usulan direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Di antara ratusan usulan tersebut, 12 karya budaya asal Jawa Timur berhasil memperoleh rekomendasi penetapan.
Daftar ini menunjukkan keberagaman budaya Jawa Timur yang mencakup tradisi keagamaan, seni pertunjukan, bahasa, hingga kuliner yang masih dipraktikkan oleh masyarakat di berbagai daerah. Ke-12 karya budaya tersebut meliputi berikut.
- Macapat Haul Mbah Sindujoyo (Gresik)
- Gumbregan Samin (Bojonegoro)
- Syi'iran Bluk Gebluk (Pasuruan)
- TabbhuwΓ’n (Situbondo)
- TabbhuwΓ’n Colo' atau Tabuhan Mulut (Situbondo)
- Sego Gegog (Trenggalek dan Ponorogo)
- Soto Lamongan (Lamongan)
- Upacara Kum Kum Sinden (Jombang)
- Ketoprak Siswo Budoyo (Tulungagung)
- Bersih Desa Simbatan Petirtaan Dewi Sri (Magetan)
- Boso Walikan Malangan (Kota Malang)
- Bahasa Jawa Suroboyoan (Surabaya)
)Warisan Budaya Tak Benda Jawa Timur (Foto: Instagram @jatimpemprov) |
1. Macapat Haul Mbah Sindujoyo
Macapat Haul Mbah Sindujoyo merupakan tradisi tahunan masyarakat Kelurahan Lumpur, Kabupaten Gresik, yang menjadi bagian penting dalam peringatan haul Kyai Sindujoyo. Inti prosesi ini adalah pembacaan Serat Sindujoyo di Balai Gede, yang biasanya disertai ziarah, arak-arakan sedekah bumi, hingga pengajian akbar.
Tradisi tersebut menjadi media untuk mengenang perjalanan hidup Kyai Sindujoyo yang diyakini memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan kawasan pesisir Gresik.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya diikuti masyarakat setempat. Generasi muda dari berbagai wilayah juga turut hadir untuk menyimak pembacaan macapat sekaligus berdialog dengan para penembang dan tokoh budaya.
Kehadiran anak muda menjadi bukti bahwa tradisi lisan tersebut masih memiliki daya tarik sebagai media pewarisan sejarah, sastra, dan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
2. Gumbregan Samin
Berbeda dengan tradisi keagamaan pada umumnya, Gumbregan merupakan ritual tahunan masyarakat Samin di Dusun Jepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, yang dilaksanakan setiap bulan Suro.
Upacara ini menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian dan peternakan sekaligus doa agar keberkahan tersebut terus berlanjut. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul, menggelar selamatan, menyajikan makanan tradisional, hingga menampilkan kesenian lokal.
Lebih dari sekadar ritual, Gumbregan menjadi simbol kuat nilai gotong royong, solidaritas sosial, penghormatan terhadap alam, serta identitas budaya masyarakat Samin yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
12 karya budaya asli Jawa Timur resmi mendapatkan rekomendasi penetapan menuju status Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI). (Foto: Instagram @jatimpemprov) |
3. Syi'iran Bluk Gebluk
Syi'iran Bluk Gebluk merupakan tradisi dakwah masyarakat Rembang, Kabupaten Pasuruan, yang memadukan lantunan syi'ir berbahasa Madura dan Jawa dengan irama tepukan tangan serta pukulan bantal.
Tradisi ini lazim ditampilkan dalam pengajian, peringatan hari besar Islam, maupun berbagai kegiatan keagamaan masyarakat.+ Berdasarkan penelitian mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan, M Ali Mashabi, tradisi tersebut pertama kali digagas oleh KH Zainal Abidin melalui karya berjudul Risalatul Islam.
Beliau memanfaatkan syi'ir berbahasa Madura yang ditulis menggunakan aksara Pegon, kemudian sebagian diterjemahkan ke bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami masyarakat. Pendekatan dakwah melalui seni tersebut membuat ajaran Islam lebih mudah diterima lintas generasi.
4. TabbhuwΓ’n
TabbhuwΓ’n merupakan istilah dalam budaya Madura yang merujuk pada berbagai bentuk seni pertunjukan tradisional. Kesenian ini berkembang di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur dan mencakup beragam ekspresi budaya, mulai dari pertunjukan rakyat hingga musik tradisional yang masih dilestarikan masyarakat.
Salah satu bentuk TabbhuwΓ’n yang dikenal masyarakat adalah Tabbhuwan Layang, yakni ketoprak Madura yang banyak berkembang di wilayah pesisir Situbondo. Pertunjukan ini mengangkat kisah legenda, sejarah, hingga cerita rakyat sebagai media hiburan sekaligus sarana pewarisan nilai budaya kepada masyarakat.
5. TabbhuwΓ’n Colo'
Selain TabbhuwΓ’n Layang, masyarakat Madura di wilayah pesisir Situbondo juga memiliki tradisi unik bernama TabbhuwΓ’n Colo' atau Tabuhan Mulut. Berbeda dengan pertunjukan musik pada umumnya, kesenian ini tidak menggunakan alat musik.
Para pelantun justru menirukan bunyi instrumen gamelan hanya dengan vokal dan mulut sehingga menghasilkan irama yang khas. Tradisi lisan ini berkembang di kalangan nelayan Panarukan, Situbondo.
TabbhuwΓ’n Colo' berfungsi sebagai musik kerja (work song) yang mengiringi aktivitas melaut, seperti menarik jaring, mendayung perahu, hingga memperbaiki tali. Irama vokal tersebut dipercaya mampu membangun semangat, menjaga kekompakan, sekaligus menyelaraskan ritme kerja para nelayan ketika berada di laut.
Masyarakat setempat juga mengenal tradisi ini dengan sebutan musik Tare' Pajang. Keunikan menghasilkan musik tanpa instrumen menjadikan TabbhuwΓ’n Colo' salah satu ekspresi budaya lisan yang mencerminkan kreativitas sekaligus kedekatan masyarakat pesisir dengan lingkungan tempat mereka menggantungkan hidup.
6. Sego Gegog
Sego gegog Trenggalek (Foto: Adhar Muttaqin/ detikjatim) |
Jawa Timur tidak hanya mengusulkan tradisi dan kesenian sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tetapi juga kuliner khas daerah. Salah satunya adalah Sego Gegog atau lebih dikenal sebagai nasi gegok, makanan tradisional yang berasal dari Trenggalek dan Ponorogo.
Hidangan ini merupakan singkatan dari Sego Genem Godhong Gedhang, yang berarti nasi yang dibungkus menggunakan daun pisang.
Sego Gegog dibuat dari nasi setengah matang yang diberi isian sambal teri atau ikan tuna pedas, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang. Proses pengukusan membuat aroma daun pisang meresap ke dalam nasi sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.
Menurut NU Online, nama Sego Gegog sendiri memang berasal dari akronim Sego Genem Godhong Gedhang, yang merujuk pada cara penyajiannya. Selain memiliki cita rasa pedas dan gurih, Sego Gegog juga dikenal menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan.
Sambalnya diolah dari bawang merah, bawang putih, cabai, garam, gula, rempah-rempah, dan ikan teri sebelum dibungkus bersama nasi lalu dikukus kembali hingga matang. Kesederhanaan tersebut menjadi salah satu alasan kuliner ini tetap bertahan sebagai makanan khas masyarakat setempat.
7. Soto Lamongan
Nama Soto Lamongan tentu sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Hidangan khas Kabupaten Lamongan ini menjadi salah satu kuliner Jawa Timur yang paling populer karena memiliki kuah kuning gurih, aroma rempah yang kuat, serta taburan koya yang menjadi ciri khasnya.
Soto Lamongan (Foto: Riska Fitria/detikfood) |
Mengutip Indonesia Travel, kuah Soto Lamongan memperoleh warna kuning dari kunyit yang dipadukan dengan berbagai rempah tradisional, seperti serai, lengkuas, bawang merah, bawang putih, jintan, dan kemiri.
Kaldu ayam kampung yang dimasak dalam waktu lama menghasilkan rasa gurih yang menjadi identitas kuliner tersebut. Keunikan Soto Lamongan terletak pada koya, yaitu bubuk gurih berbahan kerupuk udang dan bawang putih goreng yang ditaburkan di atas kuah.
Hidangan ini umumnya disajikan bersama suwiran ayam kampung, soun, telur rebus, kol, daun bawang, serta pelengkap berupa sambal dan jeruk nipis. Kombinasi rasa gurih, segar, dan sedikit pedas membuat Soto Lamongan tetap menjadi salah satu ikon kuliner Jawa Timur hingga kini.
8. Upacara Kum Kum Sinden
Upacara Kum Kum Sinden atau kungkum merupakan tradisi yang dilestarikan seniman di Petirtaan Sendang Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Ritual yang disebut telah diwariskan sejak era Raja Airlangga ini dilakukan dengan berendam di mata air yang dianggap sakral sebagai bagian dari proses spiritual para sinden.
Sendang Made (Foto: Enggran Eko Budianto/ detikjatim) |
Pelaksanaan ritual biasanya berlangsung pada malam-malam yang dianggap sakral dalam penanggalan Jawa, seperti malam Jumat Legi atau bertepatan dengan tradisi bersih desa.
Para sinden berendam bersama sesepuh desa, seniman, dan tokoh masyarakat sambil memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan, kelancaran rezeki, serta suara yang merdu dalam menjalankan profesinya sebagai seniman.
Bagi masyarakat pendukungnya, Kum Kum Sinden tidak sekadar menjadi ritual adat. Tradisi ini juga dimaknai sebagai proses pengukuhan atau "wisuda" bagi sinden yang telah menguasai ilmu tembang sehingga dinilai matang secara spiritual dan siap tampil di hadapan masyarakat.
Nilai budaya inilah yang menjadikan Upacara Kum Kum Sinden tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya Jombang.
9. Ketoprak Siswobudoyo
Ketoprak merupakan seni sandiwara tradisional Jawa yang telah berkembang sejak awal abad ke-20. Salah satu kelompok ketoprak paling berpengaruh di Jawa Timur adalah Ketoprak Siswo Budoyo yang lahir di Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung, pada 19 Juni 1958.
Paguyuban ini didirikan Ki Siswondho Hs bersama sejumlah rekannya dan kemudian tumbuh menjadi kelompok ketoprak legendaris yang dikenal luas di berbagai daerah. Pada masa awal berdiri, Ketoprak Siswobudoyo tampil dengan perlengkapan yang sangat sederhana.
Latar panggung dibuat dari karung kain putih yang dijahit memanjang, sebelum akhirnya berkembang menggunakan kain bergambar sebagai dekorasi. Meski dengan fasilitas terbatas, kelompok ini mampu menarik perhatian masyarakat dan menjadi salah satu ikon seni pertunjukan Jawa Timur.
Memasuki akhir 1990-an, Ketoprak Siswobudoyo mulai mengalami kemunduran seiring menurunnya kondisi kesehatan Ki Siswondho Hs dan semakin kuatnya persaingan dengan hiburan televisi maupun internet.
Setelah Ki Siswondho wafat pada 1997, kepemimpinan paguyuban diteruskan oleh keluarga. Meski format pentas tobongan kini sudah tidak lagi dipertahankan, Ketoprak Siswo Budoyo masih tetap eksis melalui pertunjukan tanggapan, menjadi bukti bahwa seni tradisional tersebut masih terus dijaga keberlangsungannya.
10. Bersih Desa Simbatan Petirtaan Dewi Sri
Tradisi Bersih Desa Simbatan Petirtaan Dewi Sri merupakan upacara adat tahunan masyarakat Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan. Rangkaian kegiatan dipusatkan di situs bersejarah Petirtaan Dewi Sri atau Sendang Beji yang sejak lama dipercaya sebagai tempat sakral oleh masyarakat setempat.
Salah satu prosesi utama tradisi ini adalah Nguras Mbeji, yaitu membersihkan sumber mata air secara gotong royong. Ritual tersebut dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas kesuburan tanah dan hasil panen, sekaligus penghormatan kepada Dewi Sri yang dipercaya sebagai simbol kemakmuran dalam tradisi masyarakat agraris.
Berdasarkan kepercayaan masyarakat Desa Simbatan, tradisi ini telah berlangsung setidaknya selama puluhan tahun. Meski tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali dilaksanakan, upacara tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Sekaligus sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Tuhan melalui manifestasi penghormatan terhadap Dewi Sri. Nilai gotong royong, spiritualitas, dan pelestarian situs sejarah menjadi alasan tradisi ini tetap dijaga hingga sekarang.
11. Boso Walikan Malangan
Selain tradisi dan kesenian, Jawa Timur juga mengusulkan Boso Walikan Malangan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Bahasa khas ini dikenal melalui pola pembalikan kata, baik dari bahasa Jawa Malangan maupun bahasa lain yang disesuaikan dengan struktur tutur masyarakat Malang.
Jalan Letjen Sutoyo Kota Malang (Foto: Istimewa) |
Kini, Boso Walikan telah menjadi salah satu identitas budaya yang akrab digunakan, terutama di kalangan anak muda. Mengutip buku Backpacker ke Malang Raya karya Weinie dan Kade Kristi yang dikutip detikJatim, Boso Walikan berawal dari gagasan pejuang Gerilya Rakyat Kota (GRK) pada masa perjuangan kemerdekaan.
Bahasa ini diciptakan sebagai media komunikasi rahasia untuk menghindari penyusupan mata-mata Belanda yang mampu memahami bahasa daerah. Dengan membalik susunan kata, para pejuang dapat menjaga kerahasiaan strategi sekaligus mengenali pihak yang bukan berasal dari kelompok mereka.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Boso Walikan berubah dari bahasa sandi menjadi simbol kebanggaan masyarakat Malang. Hingga kini, berbagai kosakata masih digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Salah satu contoh yang paling dikenal adalah kata "mas" yang dibalik menjadi "sam", memperlihatkan bagaimana tradisi bahasa tersebut tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.
12. Bahasa Jawa Suroboyoan
Karya budaya terakhir yang direkomendasikan menuju Warisan Budaya Takbenda Indonesia adalah Bahasa Jawa Suroboyoan atau Boso Suroboyoan. Dialek khas masyarakat Surabaya dan sekitarnya ini dikenal memiliki karakter lugas, terbuka, serta mencerminkan budaya masyarakat arek yang menjunjung nilai kesetaraan.
Jalanan di Kota Surabaya (Foto: Aprilia Devi/ detikjatim) |
Boso Suroboyoan bukan sekadar logat, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah berkembang selama ratusan tahun. Mengutip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, belum terdapat sumber pasti mengenai asal-usul Boso Suroboyoan.
Namun, istilah arek diyakini berkaitan dengan wilayah Jenggala, kerajaan yang terbentuk setelah Raja Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua, yakni Jenggala dan Panjalu.
Istilah tersebut kemudian digunakan untuk menyebut masyarakat yang tinggal di wilayah Jenggala, termasuk Surabaya dan sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Dalam perkembangannya, Boso Suroboyoan menjadi salah satu simbol identitas masyarakat Surabaya.
Karakter bahasanya yang egaliter mencerminkan hubungan sosial yang tidak membedakan usia maupun status sosial. Karena masih digunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari, Boso Suroboyoan dinilai memiliki nilai penting sebagai warisan budaya yang perlu terus dilestarikan di tengah perkembangan bahasa modern.







