Sisik menjadi bahan yang sering terbuang setelah daging ikan dikonsumsi manusia. Namun, di tangan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad), sisik ikan bisa dimanfaatkan menjadi bahan yang tidak terduga.
Melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE), lima mahasiswa Unpad menyulap sisik ikan nila menjadi bahan anode baterai.
Anode atau anoda adalah elektroda negatif dalam baterai yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan ion selama proses pengisian (charging) dan sebagai sumber pelepasan ion saat baterai digunakan (discharging), dikutip dari laman National Battery Research Institute (NBRI).
Tim Unpad yang terdiri dari Achmad Syah Nizar El Java (Perikanan 2024), Aorenza Delvina Putri (Perikanan 2024), Kevin Fauzy Rizky (Perikanan 2024), Dimas Ardianto Wiratama (Kimia 2024), dan Fitriani Nur Hidayat (Fisika 2024), memanfaatkan limbah sisik ikan yang melimpah.
Mereka memilih secara spesifik sisik ikan nila karena punya kandungan kolagen yang secara alami memiliki nitrogen. Kandungan ini disebut punya nilai kebaruan yang mungkin baru detikers ketahui juga.
Proses Penelitian Sisik Ikan Nila Jadi Komponen Utama Baterai
Mengutip laman resmi Unpad, Jumat (18/9/2026), penelitian mengusung konsep in-situ self-doping nitrogen. Artinya, mahasiswa hanya memanfaatkan nitrogen dari sisik ikan nila saja tanpa perlu bahan kimia tambahan.
Tim mengolah ikan nila melalui proses pirolisis atau proses pembakaran tanpa oksigen pada suhu 600, 700, dan 800°C. Setiap perubahan struktur, morfologi, komposisi, dan sifat elektrokimia material bahan pascapembakaran diteliti dan dihubungkan.
Tujuannya untuk menentukan karakteristik hard carbon yang paling prospektif menjadi bahan anode baterai. Hasil awal dari proses tersebut menunjukkan bahwa seluruh sampel memiliki struktur karbon turbostratic (strukturnya berantakan) dengan jarak antarlapisan lebih besar dibanding grafit.
Namun, pada sampel yang dipanaskan di suhu 800°C (HC-800) ditemukan karakter struktur dan morfologi yang cocok. Sampel ini prospektif untuk dievaluasi lebih lanjut sebagai material anode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa HC-800 memiliki tingkat Initial Coulombic Efficiency (ICE), atau ukuran seberapa efisien baterai menyimpan daya saat pertama kali diisi ulang sampai dipakai, tertinggi sebesar 69,2%. Sedangkan Coulombic Efficiency siklus kedua sebesar 94,8%. Hal ini menunjukkan reversibilitas yang lebih baik setelah siklus awal.
Pada pengujian EIS, HC-800 juga menunjukkan charge-transfer resistance terendah sebesar 384,4 Ω dan nilai Warburg impedance terendah sebesar 433,8 Ω s−1/2 dibandingkan sampel lainnya. Artinya, aliran listrik berjalan lebih lancar dibandingkan sampel lainnya.
Integrasi Sumber Karbon dan Nitrogen
Tidak hanya pada sisi pemanfaatan limbah perikanan, inovasi mahasiswa Unpad ini juga menjadi upaya mengintegrasikan sumber karbon dan nitrogen dari satu biomassa. Sisik ikan nila punya peran dan nilai yang penting.
Pihak kampus menjelaskan, tidak sekadar diposisikan sebagai limbah yang dikarbonisasi, limbah sisik ikan nila pada inovasi ini juga dijadikan prekursor fungsional yang berpotensi menghasilkan karbon dengan karakteristik sesuai untuk penyimpanan ion Na+.
Unpad menilai penelitian ini jadi upaya menghubungkan ekonomi sirkular dan kemandirian energi. Inovasi ini akan dikembangkan untuk mengetahui gambaran yang lebih lengkap mengenai kemampuan material dalam mempertahankan kinerja penyimpanan energi.
Simak Video "Ekoriparian Leuwi Padjadjaran, Obyek Wisata Alternatif Warga Bandung"
(det/twu)