Daun Kelor Bermanfaat untuk Redakan Stres Korban Perundungan, Ini Studi Mahasiswa UGM

ADVERTISEMENT

Daun Kelor Bermanfaat untuk Redakan Stres Korban Perundungan, Ini Studi Mahasiswa UGM

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 10 Sep 2026 14:30 WIB
fakta dan manfaat daun kelor vs matcha
Ilustrasi daun kelor. Mahasiswa UGM teliti khasiat daun kelor untuk redakan stres korban perundungan. Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Perundungan bisa menimbulkan dampak yang tidak bisa diremehkan. Ketika seseorang mengalami tekanan soal dalam jangka panjang, mereka bisa mengalami kondisi yang dikenal sebagai stres sosial kronis.

Selama ini, penanganan dampak psikologi dan neurologis perundungan masih terbatas pada pendekatan konseling atau farmakologis. Namun, ternyata kondisi tersebut bisa diredakan dengan konsumsi daun kelor (Moringa olifera), benarkah begitu?

Jadi salah satu tanaman lokal yang mudah ditemukan, daun kelor ternyata punya potensi di ranah kesehatan otak. Untuk membuktikannya, studi dilakukan oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi ini dilakukan oleh lima mahasiswa UGM yang berasal dari berbagai program studi (prodi). Mereka adalah Nisrina Rahma Ardihapsari dan Hanin Izdihar dari Fakultas Biologi, Maryam Izzati Muthmainnah dari Fakultas Psikologi, Lakshinta Hasna Hapsari dari Fakultas Farmasi, serta Syakira Fauzia Fatoni dari Fakultas Kedokteran.

Bersama-sama mereka melakukan penelitian dan pengujian potensi dalam kelor dalam mendukung kesehatan otak dengan metode Chronic Social Defeat Stress (CSDS).

ADVERTISEMENT

Stress Bisa Pengaruhi Otak

Secara biologis, stres sosial kronis memicu pelepasan hormon kortisol secara terus-menerus. Jika berlangsung lama, struktur dan fungsi otak, khususnya hipokampus bisa terpengaruh.

Hipokampus adalah bagian otak yang punya peran penting dalam membentuk dan menyimpan memori. Jika bagian ini terganggu, korban perundungan jangka panjang berisiko mengalami gangguan otak.

Gangguan otak yang dimaksud, dari penurunan kemampuan mengingat, kesulitan konsentrasi, hingga gangguan lain yang berkaitan dengan kerusakan sel-sel syarat secara progresif. Untuk mengetahui manfaat daun kelor dalam meredakan stres, tim melakukan pengujian dengan metode induksi stres pada mencit.

Nisrina salah satu anggota tim penelitian membeberkan langkah-langkah metode induksi stres diberikan. Mereka mempertemukan mencit 'korban' secara berulang dengan mencit 'agresor' yang secara alami lebih dominan dan agresif.

Pertemuan keduanya menyebabkan mencit korban mengalami tekanan sosial yang berulang, persis seperti korban perundungan. Proses ini dilakukan secara terkontrol dan berulang dalam periode waktu tertentu hingga mencit korban alami stres sosial kronis.

"Kondisi inilah yang kemudian digunakan sebagai representasi biologi dari dampak bullying jangka panjang pada manusia, khususnya untuk mengamati perubahan pada memori spasial dan tanda-tanda kerusakan sel saraf," tutur Nisrina dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (10/9/2026).

Dengan mencit korban, tim mahasiswa mengamati secara langsung bagaimana stres sosial kronis dapat memengaruhi otak. Mereka juga menguji apakah pemberian ekstrak daun kelor secara oral, baik sebelum, selama, maupun setelah induksi stres mampu memberikan efek perlindungan terhadap kerusakan tersebut.

Pemilihan Daun Kelor

Tim memilih daun kelor karena mudah ditemukan, relatif murah, dan dikenal luas oleh masyarakat. Selain itu, daun kelor punya kandungan bioaktif bernama kuersetin yang berperan sebagai antioksidan untuk menetralkan stres oksidatif.

Untuk mengukur bagaimana kerusakan neuron akibat stres kronis, tim memperhatikan kadar malondialdehida (MDA). Hasilnya, efektivitas daun kelor dapat dilihat melalui kadar MDA, histopatologi neuron hipokampus, serta pemulihan fungsi memori spasial.

Tak hanya itu, studi juga menghasilkan data yang komprehensif, mulai dari karakteristik ekstrak hingga gambaran neurodegenerasi dan stres oksifatif. Salah satu anggota tim, Syakira berharap penelitian ini bisa bermanfaat, terutama dalam mengembangkan salah satu alternatif meredakan stres berbasis bahan alam.

"Kami berharap penelitian ini dapat membuka jalan bagi pengembangan solusi berbasis bahan alam yang terjangkau untuk mendukung kesehatan mental generasi muda," kata Syakira.



(det/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads