Kotoran Burung Jadi Kekuatan, Bikin Kerajaan Ini Makmur

ADVERTISEMENT

Kotoran Burung Jadi Kekuatan, Bikin Kerajaan Ini Makmur

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 29 Jul 2026 21:00 WIB
Guano, kotoran burung di tengah lautan. (John Harald Sobi/Creative Commons/Wikimedia Commons)
Foto: Guano, kotoran burung di tengah lautan. (John Harald Sobi/Creative Commons/Wikimedia Commons)
Jakarta -

Kotoran burung laut bisa jadi menjijikkan bagi warga awam. Namun, bagi yang tahu, kotoran mereka bisa menggerakkan perekonomian kerajaan.

Hal ini dibuktikan Kerajaan Chincha di kawasan Pegunungan Andes di Peru. Sebelum menjadi bagian dari Kekaisaran Inca sekitar abad ke-15, kerajaan pesisir mereka makmur dan berpengaruh, dikutip dari laman University of Sydney.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kekuatan Pertanian

Arkeolog digital Dr Jacob Bongers dari University of Sydney menjelaskan, Kerajaan Chincha rupanya menggunakan kotoran burung laut yang kaya nutrisi atau guano sebagai bahan pupuk tanaman jagung.

"Guano meningkatkan produksi jagung secara drastis, dan surplus pertanian ini sangat membantu dalam mendorong perekonomian Kerajaan Chincha, menggerakkan perdagangan, kekayaan, pertumbuhan penduduk, dan pengaruh regional mereka, serta membentuk aliansi strategis mereka dengan Kekaisaran Inca," kata Bongers.

ADVERTISEMENT

"Kotoran burung laut mungkin tampak sepele, namun studi kami menunjukkan bahwa sumber daya yang ampuh ini dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perubahan sosial-politik dan ekonomi di Pegunungan Andes Peru," jelasnya.

Panen Kotoran Burung dari Kepulauan

Peneliti tamu (visiting scholar) di Australian Museum Research Institute ini menjelaskan, guano tersebut kemungkinan besar dikumpulkan dari Kepulauan Chincha di dekatnya. Kawasan tersebut terkenal dengan terkenal dengan deposit guano yang melimpah dan berkualitas tinggi.

"Tulisan-tulisan era kolonial yang kami pelajari melaporkan bahwa masyarakat di sepanjang pesisir Peru dan Chili utara berlayar ke beberapa pulau terdekat menggunakan rakit untuk mengumpulkan kotoran burung laut untuk pemupukan," ucapnya.

Para peneliti sebelumnya menganalisis tanda-tanda biokimia dalam 35 sampel jagung dari makam di Lembah Chincha, kawasan Kerajaan Chincha yang kuat dan dihuni sekitar 100.000 penduduk.

Hasil analisis kimia menunjukkan, jagung-jagung tersebut memiliki kadar nitrogen yang sangat tinggi, jauh melebihi kondisi tanah alami biasanya di daerah tersebut. Hal ini mengindikasikan, tanaman tersebut dipupuk dengan guano burung laut yang kaya nitrogen, karena burung laut setempat makan hewan laut.

Peneliti pascadoktoral di Smithsonian Institution di Washington, DC, AS, Dr Emily Milton mengatakan, para peneliti juga memeriksa catatan sejarah untuk menguatkan hasil penelitian.

"Catatan sejarah yang mendokumentasikan bagaimana kotoran burung diaplikasikan ke ladang jagung membantu kami menafsirkan data kimia dan memahami pentingnya praktik ini di wilayah tersebut," ujarnya.

Berdasarkan penelitian mereka, para warga Chincha sudah mengelola tanah pertanian dengan sangat baik sejak 800 tahun lalu di Peru.

Lambang Burung dan Jagung

Hasil studi arkeologis juga mendapati para warga kerajaan mengabadikan burung laut, ikan, dan jagung bertunas dalam lukisan, ukiran dinding, tembikar, kain, dan keramik mereka. Praktik ini menunjukkan, burung laut dan jagung berperan penting dalam budaya masyarakat kuno ini.

"Secara keseluruhan, bukti kimia dan material yang kami teliti mengkonfirmasi penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa guano sengaja dikumpulkan dan digunakan sebagai pupuk," kata Bongers.

Hasil studi ini dipublikasi Bongers dan rekan-rekan di jurnal PLOS One dengan judul "Seabirds shaped the expansion of pre-Inca society in Peru", 11 Februari 2026.



(twu/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads