Plastik telah menjadi satu kesatuan dengan kehidupan modern karena sifatnya yang serbaguna dan harganya yang murah. Namun, sampah plastik membutuhkan waktu yang lama bahkan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami.
Menurut United Nation Environment Programme (UNEP), terdapat lebih dari 11 juta metrik ton plastik yang masuk ke lautan setiap tahun. Organization for Economic Co-operation Development (OECD) juga memperkirakan akumulasi sampah plastik di perairan telah mencapai 140 juta ton, termasuk yang mengendap di dasar sungai dan danau.
Membersihkan sampah plastik dari perairan ini menjadi tugas besar untuk menghindari kerusakan yang lebih masif di kemudian hari. Namun, upaya membersihkan sampah plastik ini tidak dapat dilakukan dengan mudah karena begitu banyak ukuran sampah yang tidak dapat tersaring karena terlampau kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, filter air pun tidak efektif karena dipenuhi dengan sampah-sampah yang bukan plastik tapi berukuran sangat kecil.
Menumpuknya sampah plastik membuat Moroti Adegboyega, seorang pemuda 17 tahun dari Kanada, bertekad untuk membersihkannya dengan menggunakan cairan magnetik buatannya. Dengan ide ini, Moroti berhasil memenangkan Stockholm Junior Water Prize 2026, mengalahkan juara nasional dari 40 negara.
Cairan Magnetik Ecoferroquatics
Moroti Adegboyega, asal St John's, Newfoundland and Labrador, menciptakan sebuah robot otonom sekaligus cairan magnetik yang dapat mengidentifikasi sampah dan menariknya keluar dari air.
Cairan magnetik ini disebut Ecoferroquatics yang berbahan dasar ferrofluida. Ferrofluida merupakan cairan yang mengandung partikel magnetik kecil dan apabila didekatkan ke medan magnet, partikel kecil ini akan berkumpul dan membentuk runcingan hitam dalam jumlah banyak.
Komponen lainnya adalah asam oleat dan minyak nabati. Asam oleat berfungsi sebagai penstabil supaya nanopartikel magnet tidak menggumpal dan tetap tercampur rata dalam cairan. Minyak nabati digunakan sebagai pembawa cairan sekaligus bahan yang bisa lengket.
Menariknya, penelitian serupa pernah dilakukan beberapa kali dengan bahan dan tujuan yang sama, yaitu 'memungut' sampah plastik yang ukurannya kecil. Namun, Moroti mengubah pendekatannya untuk menemukan solusi yang lebih ampuh. Alih-alih membawa air limbah plastik ke laboratorium, ia membawa cairan dan robot ini ke tempat air limbah berasal.
Robot Pendeteksi Plastik
Robot otonom yang dibuat oleh Moroti ini, menggunakan AI untuk mendeteksi plastik yang ada di air. Berat robot ini cukup ringan yaitu 1,42 kilogram yang dilengkapi dengan kamera, komputer mini (Raspberry Pi), chip kontrol (ESP32 microcontroller), dan motor.
Robot ini dibuat dengan menggunakan 3D printer dan didesain secara digital. Material robot ini merupakan PETG yang dicampur dengan serat karbon untuk membuat materialnya lebih kuat dan ringan dibandingkan hanya menggunakan PETG.
Uniknya, robot ini menggunakan sistem penggerak semacam dayung untuk bergerak. Kemungkinan sistem ini dipilih karena lebih ramah terhadap organisme air dan juga sesuai dengan tujuan robot untuk tidak merusak ekosistem sekitar.
Kerja Sama Robot dan Ecoferroquatics
Di bagian depan robot, terdapat silinder yang berputar dan bersifat magnetik. Silinder ini dilapisi dengan Ecoferroquatics buatan Moroti Adegboyega.
Terdapat empat tahap hingga sampah terkumpul di wadah yang sama, mulai dari plastik yang menempel dengan minyak. Bahkan, proses ini terus berlanjut selama robot bergerak di air. Berikut tahapannya:
- Plastik menyentuh permukaan silinder yang berputar dan sudah dilapisi oleh Ecoferroquatics
- Ecoferroquatics menyelimuti plastik
- Plastik menempel dan terbawa silinder
- Plastik terdorong untuk lepas dari permukaan silinder dan masuk ke wadah pengumpulan di robot.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.
