Mahasiswa UB Buat Rompi Pintar untuk Atasi Tantrum Anak Autis, Ini Cara Kerjanya

ADVERTISEMENT

Mahasiswa UB Buat Rompi Pintar untuk Atasi Tantrum Anak Autis, Ini Cara Kerjanya

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 26 Agu 2026 18:30 WIB
Rompi pintar untuk tangani anak autis karya mahasiswa UB
Rompi pintar untuk tangani anak autis karya mahasiswa UB. Foto: Universitas Brawijaya
Jakarta -

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) membuat rompi pintar untuk menangani tantrum anak-anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Rompi pintar tersebut dinamakan ADAPT-V dan berbasis Deep Pressure Therapy (DPT).

Imovasi ini dilatari dari kepedulian para mahasiswa UB tersebut terhadap problem ADAPT-V, sebuah teknologi wearable berupa rompi pintar berbasis Deep Pressure Therapy (DPT). Respons emosional terhadap rangsangan tertentu kerap memicu tantrum yang tidak terkendali.

Rompi Memberikan Respons Menenangkan

Rompi tersebut dirancang khusus untuk mendeteksi stres fisiologis secara otomatis dan memberi respons menenangkan untuk anak dengan ASD, sehingga bisa meminimalisir risiko terjadinya tantrum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, Muhammad Nafis Khilmi mengatakan, melalui ADAPT-V timnya menerapkan metode DPT dengan memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk memberikan sensasi nyaman seperti pelukan hangat yang terbukti efektif memberikan efek relaksasi.

"Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar," kata Muhammad Nafis Khilmi, dikutip melalui keterangan UB, ditulis Rabu (26/8/2026).

ADVERTISEMENT

Bagaimana Cara Kerjanya?

Terapis sejenis sebenarnya juga sudah dapat dilakukan dengana alat manual seperti Snug Vest, tetapi rompi konvensional ini masih punya keterbatasan karena butuh pengawasan penuh dari terapis atau orang tua untuk mengatur tekanan secara manual.

Ketua tim pengembang, Zakky Yahya dari Program Studi Teknik Elektro UB, menjelaskan bagaimana teknologi kecerdasan buatan (machine learning) diintegrasikan untuk memecahkan masalah automasi tersebut. Ia mengatakan, untuk mengatasi keterbatasan rompi manual, maka ADAPT-V dirancang agar bisa bekerja secara otomatis dan bekerja secara real-time.

"Kami menanamkan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak. Data dari kedua sensor fisik ini kemudian dianalisis secara cerdas oleh algoritma Support Vector Machine (SVM) guna mendeteksi secara presisi kapan anak mulai mengalami fase tantrum," terang Zakky.

Saat fase tantrum terdeteksi oleh sistem, selanjutnya mikrokontroler ESP32 secara otomatis mengaktifkan pompa udara (micro air pump DC) untuk mengisi kantung udara di dalam rompi. Pengaturan tekanan tersebut juga dibuat sangat aman dengan algoritma khusus.

Adapun kunci keamanan rompi terletak pada kendali allgoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP.

"Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan. Ketika sistem mendeteksi kondisi emosi anak telah kembali tenang (tidak tantrum), katup solenoid (solenoid valve) akan terbuka perlahan untuk mengempiskan rompi secara otomatis," kata anggota lain dari Teknik Elektro, Sugih Rizkiawan.

Tidak cuma mengandalkan automasi fisik, rompi tersebut juga terintegrasi penuh dengan sistem digital berbasis Internet of Things (IoT). Data aktivitas anak dan respons rompi kemudian dikirim langsung menggunakan koneksi WiFi ke aplikasi smartphone. Sehingga, orang tua dan terapis bisa langsung memantau situasi anak dari jarak jauh secara real time.

Keandalan dan Keamanan Jadi Fokus Utama Pengujian

Pengembangan ADAPT-V didanai melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) dan berada di bawah bimbingan dosen Teknik Elektro, Ir Nurussa'adah, MT, serta dosen Kedokteran, DR dr Agung Riyanto Budi S, SpOT.

"Pengembangan ADAPT-V ini melalui tahapan pengujian yang sangat ketat, mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udaranya. Kami juga melibatkan evaluasi langsung dari para terapis di lembaga pendidikan inklusif demi menjamin aspek kenyamanan, keamanan medis, serta kemudahan operasional alat saat diaplikasikan langsung pada anak," kata Ir Nurussa'adah.

Kehadiran rompi pintar ini diharapkan bisa jadi solusi berkelanjutan yang berdampak nyata untuk masyarakat luas. Inovasi ini juga jadi bukti kolaborasi berbagai disiplin ilmu dapat menghadirkan teknologi kesehatan yang empatik, solutif, dan berdaya guna untuk kemanusiaan.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads