×
Ad

Kolom Edukasi

Mencerdaskan Bangsa atau Sekadar Mensertifikasi Bangsa?

Dr Hendi - detikEdu
Jumat, 21 Agu 2026 10:30 WIB
Foto: Ilustrasi AI diolah oleh ChatGPT
Jakarta -

Draf RUU Sistem Pendidikan Nasional yang tengah dibahas Komisi X DPR RI membawa banyak kemajuan: wajib belajar diperpanjang dari 9 menjadi 13 tahun, anggaran pendidikan dijamin minimal 20 persen APBN dan APBD, kebebasan akademik ditegaskan di perguruan tinggi, dan bab khusus disiapkan untuk mencegah kekerasan di sekolah. Semua ini patut disyukuri.

Namun ada satu pertanyaan yang, anehnya, tidak pernah dijawab tuntas oleh draf setebal 110 halaman dan lebih dari 247 pasal ini: apa sebenarnya makna "mencerdaskan kehidupan bangsa," frasa yang justru menjadi alasan bernegara kita menurut Pembukaan UUD 1945?

Kecerdasan yang Terhenti di Sertifikat

Frasa itu memang dikutip berulang kali dalam draf ini. Tapi ia diperlakukan sebagai jargon, bukan konsep yang digali maknanya. Kecerdasan, dalam praktiknya, cenderung dipahami sebagai kompetensi yang bisa diuji, disertifikasi, dan dilaporkan lewat data pokok pendidikan.

Guru diatur secara rinci soal kualifikasi akademik dan tunjangan - sebuah kemajuan penting bagi kesejahteraan profesi - tetapi nyaris tidak disentuh soal bagaimana karakter dan keteladanan guru itu sendiri dibentuk.

Kurikulum mewajibkan empat belas bidang studi berjajar, dari matematika sampai muatan lokal, tanpa penjelasan bagaimana semuanya menyatu menjadi kearifan hidup, bukan sekadar tumpukan nilai rapor. Perguruan tinggi diarahkan agar lulusannya "relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri" - sah-sah saja, tapi ke mana perginya cita-cita lama bahwa kampus adalah tempat orang muda belajar bijaksana, bukan sekadar siap kerja?

Belajar dari Seorang Biarawan Bizantium

Di sinilah saya kira ada baiknya kita menengok kembali seorang biarawan Bizantium abad ketujuh bernama Maximus Sang Pengaku Iman, tokoh yang jarang disebut dalam diskursus kebijakan pendidikan kita, tapi justru karena itu bisa menawarkan sudut pandang segar.

Maximus tidak pernah menulis "teori pendidikan." Tapi seluruh pemikirannya berputar pada satu pertanyaan yang persis relevan hari ini: untuk apa manusia mengenal dunia? Baginya, setiap bidang pengetahuan - matematika, alam, sejarah, bahasa - bukan sekadar informasi yang harus dikuasai, melainkan jejak rasionalitas ilahi (ia menyebutnya logoi) yang tertanam dalam segala sesuatu. Belajar sejarah, dalam pandangan ini, bukan cuma menghafal tanggal, tapi merenungkan makna waktu dan takdir manusia. Belajar matematika bukan cuma menghitung, tapi menyingkap keteraturan yang menakjubkan di balik realitas. Ilmu pengetahuan, kata Maximus, adalah tangga menuju kearifan, bukan kumpulan modul yang berdiri sendiri-sendiri.



Simak Video "Video: MK Tutup Ruang Bagi Warga untuk Tak Beragama dan Tak Punya Kepercayaan"

(nwk/nwk)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork