Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan pentingnya kesiapan infrastruktur listrik untuk mendukung program digitalisasi sekolah. Ia mengingatkan agar bantuan perangkat teknologi tidak mubazir hanya karena masalah listrik.
Hal tersebut disampaikan Fajar saat menerima kunjungan Wamen ESDM Yuliot Tanjung di Ruang Rapat Wamendikdasmen, Jakarta, Selasa (1/9/2026) lalu. Fajar dan Yuliot membahas penyediaan listrik untuk mendukung digitalisasi pembelajaran.
"Pak Menteri Abdul Mu'ti terus mengingatkan agar digitalisasi pembelajaran tidak berhenti pada distribusi perangkat, tetapi benar-benar memperluas akses dan meningkatkan mutu pembelajaran. Karena itu, kami ingin memastikan seluruh ekosistem pendukungnya siap," ujar Fajar dalam keterangannya, Rabu (2/9/2024).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sampai Papan Interaktif Digital sudah sampai di sekolah, tetapi belum dapat dimanfaatkan karena listrik belum tersedia atau dayanya tidak mencukupi. Di sinilah sinergi Kemendikdasmen, Kementerian ESDM, dan PLN menjadi sangat penting," lanjutnya.
Digitalisasi pembelajaran sendiri merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto. Program ini termasuk juga untuk daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T).
Kebutuhan Listrik Skala Besar
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat pada tahun 2026 kebutuhan Papan Interaktif Digital (PID) mencapai sekitar 713 ribu unit. Adapun kebutuhan daya listrik per satu unit PID kurang lebih sebesar 2.200 hingga 3.500 VA.
Dari jumlah penerima PID tersebut, masih ada 227.365 sekolah yang butuh dukungan kelistrikan. Sebanyak 201.203 butuh penambahan daya dan 26.162 butuh penyambungan baru.
Perhatian khusus juga diberikan kepada 9.544 sekolah yang saat ini belum terjangkau jaringan kabel PLN. Untuk beberapa wilayah, pemerintah menyiapkan skenario alternatif seperti penggunaan tenaga surya berbasis baterai dan sistem off-grid.
Sinergi dengan Program Listrik Desa
Merespons hal tersebut, Wamen ESDM Yuliot Tanjung memastikan bahwa kebutuhan listrik pendidikan akan disinergikan dengan Program Listrik Desa (Lisdes). Targetnya, pada 2029 seluruh desa di Indonesia sudah teraliri listrik.
"Kita menyinergikan Program Listrik Desa dengan kebutuhan digitalisasi pembelajaran. Sampai 2029 kami menargetkan seluruh desa di Indonesia teraliri listrik. Tentu ada sarana-sarana pendidikan yang perlu mendapat percepatan penyambungan listrik. Dengan sinergi antarkementerian dan lembaga, percepatan yang dibutuhkan Kemendikdasmen dapat kami dukung," ujar Yuliot.
Fajar berharap langkah tersebut bisa memperlancar digitalisasi pembelajaran di daerah 3T. Ia menegaskan bahwa semua anak dari wilayah manapun berhak mendapatkan fasilitas belajar yang sama.
"Kami optimistis, dengan sinergi yang baik, target ini dapat kita capai lebih cepat. PHTC Presiden Prabowo akan semakin menjangkau pelosok negeri sehingga anak-anak di daerah 3T memperoleh kesempatan yang sama untuk menikmati transformasi pembelajaran," tutur Fajar.
