Buku Pelajaran Akan Diperbaiki, Pakar UMY: Guru Harus Dilibatkan dalam Penyusunan

ADVERTISEMENT

Buku Pelajaran Akan Diperbaiki, Pakar UMY: Guru Harus Dilibatkan dalam Penyusunan

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 13 Agu 2026 18:00 WIB
Ilustrasi buku pelajaran di sekolah Indonesia.
Ilustrasi buku pelajaran di sekolah Indonesia. Foto: Tangkapan Layar/SIBI Kemendikdasmen
Jakarta -

Pakar/ahli pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ana Taqwa Wati beri tanggapan terkait rencana Presiden Prabowo Subianto yang ingin perbaiki buku pelajaran jenjang SD-SMA. Ia menilai, bahan ajar memang perlu disesuaikan seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi.

Tak bisa sembarangan, pengembangan buku pelajaran masa kini harus didasarkan pada kurikulum. Dengan begitu, tak hanya buku kurikulum juga harus diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan siswa di era digital.

"Sekarang eranya sudah berubah sekali. Percepatan informasi sangat tinggi sehingga perlu ada perubahan yang bermula dari kurikulum," tutur Ana dikutip dari laman resmi UNY, Kamis (13/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita ingin mengembangkan buku pelajaran, tentu harus diawali dari kurikulumnya. Dengan demikian, pengembangan kurikulum yang dilanjutkan dengan perbaikan buku akan relevan dengan perubahan di era sekarang," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Guru Perlu Ikut Dilibatkan

Dalam proses perbaikan, Ana menyebut standar buku pelajaran nasional perlu disusun secara bertahap. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam proses penyusunan standar tersebut.

Keduanya adalah kesenjangan kemampuan siswa dan kondisi sekolah di berbagai daerah. Peningkatan standar tidak bisa langsung dipukul rata dan menyamakan capaian siswa dengan negara lain.

Kondisi peserta didik di lapangan merupakan pertimbangan utama yang wajib diperhatikan. Jika buku memuat konten yang memiliki standar tinggi, pembelajaran akan berlangsung berat untuk sebagian siswa di daerah.

"Kalau kita memang ingin memperbaiki, harus dilakukan step by step. Tidak bisa langsung dipaksakan pada standar yang tinggi. Kalau lebih dari 50 persen kualitas siswa di Indonesia masih berada pada low level, kemudian kita memberikan standar yang terlalu tinggi, tentu akan terlalu berat," ungkapnya.

Tahap pertama yang bisa dilakukan untuk perbaikan ini adalah pemerintah perlu melakukan pemetaan dan observasi terhadap kebutuhan siswa. Hasil pemetaan dan observasi selanjutnya perlu dilakukan validasi.

"Proses validasi dapat melibatkan ahli pendidikan serta guru sebagai praktisi yang berhadapan langsung dengan peserta didik," sebut Ana.

Guru adalah aktor utama dalam proses pembelajaran di dalam kelas dan sekolah. Mereka punya pengalaman langsung dalam memahami karakteristik, kebutuhan, kesulitan belajar, dan kemampuan siswa di kelas.

Ketika guru dilibatkan, buku pelajaran akan berisi materi yang bisa diterapkan secara efektif dalam proses pembelajaran. Namun, pembaruan buku pelajaran juga harus beriringan dengan peningkatan kompetensi guru dan pemerataan kualitas pembelajaran.

"Buku yang baik tidak akan memberikan hasil optimal apabila tidak didukung tenaga pendidik yang mampu menggunakannya secara tepat dalam proses pembelajaran. Karena itu, peningkatan mutu pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pembaruan kurikulum dan buku pelajaran, tapi pemerataan kualitas guru juga perlu menjadi perhatian," tekan Ana.

Peningkatan kompetensi guru penting dilakukan agar tenaga pendidik yang berkualitas tidak hanya ada di kota-kota besar. Akan tetapi, sekolah di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) juga punya sumber daya pengajar yang mumpuni.

Evaluasi Berkala Juga Penting

Bukan hanya diperbaiki sekali, Ana menyarankan buku pelajaran perlu dievaluasi secara berkala. Evaluasi berguna untuk mengetahui efektivitas buku dalam mendukung proses pembelajaran.

Proses evaluasi ini bisa dilakukan dalam rentang 1-2 tahun setelah buku hasil perbaikan diterapkan di sekolah. Hasil evaluasi ini bisa digunakan untuk mengetahui dampak buku terhadap proses pembelajaran.

"Jadi, bukan hanya melihat bukunya sudah bagus atau belum, tetapi juga bagaimana dampak dari buku tersebut. Apakah ada perubahan atau pengaruh setelah siswa belajar menggunakan buku itu atau tidak," kata Ana lagi.

Dengan begitu, perbaikan buku ini diharapkan Ana tidak berhenti pada pembaruan materi tampilan. Proses ini harus menjadi upaya yang lebih menyeluruh dengan tujuan besar meningkatkan kualitas pembelajaran.

"Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman, kondisi sekolah, serta kemampuan peserta didik di berbagai daerah," tegasnya.



(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads